Minggu, 24 Mei 2026

Menyapa Nusantara

Denyut Rupiah di Nadi UMKM Indonesia

Ekonomi bukan sekadar deretan angka atau grafik di layar monitor. Ekonomi adalah detak jantung kehidupan yang berdenyut di pasar...

Tayang:
ANTARA
Denyut rupiah di nadi UMKM 

Di satu sisi, UMKM merasakan kesulitan dalam pengembangan usahanya karena kekurangan pasokan modal, namun di sisi lain, triliunan rupiah hanya menjadi angka di pembukuan bank.

Tantangannya, kini, adalah bagaimana mentransmisikan sikap kehati-hatian tersebut menjadi keberanian yang terukur. Kredit yang mengendap harus segera dialirkan ke mesin-mesin produksi di tangan rakyat agar memberikan kontribusi bagi pertumbuhan bangsa.

Di sinilah peran Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) sebagai katalisator untuk melancarkan sumbatan tersebut. Perbankan diajak untuk benar-benar mengalirkan dana yang ada agar tidak berdiam di dalam brankas.

Strategi targeted decoupling

Indonesia tidak sendirian dalam menjaga denyut ekonomi melalui pendekatan yang spesifik ini. Kita bisa berkaca pada teori targeted decoupling yang pernah dipraktikkan di Brasil. Kala itu, mereka menghadapi hipertensi ekonomi berupa inflasi yang sangat tinggi.

Bank sentral mereka menaikkan suku bunga secara drastis, namun secara bersamaan memberikan jalur akses kredit khusus bagi sektor mikro. Hasilnya, meskipun ekonomi makro sedang dalam kondisi yang tertekan, nadi perekonomian rakyat kecilnya tetap berdenyut kuat.

Indonesia bergerak lebih maju dengan mengarahkan aliran likuiditas tersebut ke sektor hijau dan hilirisasi, memastikan UMKM kita memiliki daya tahan jangka panjang.

Dengan suku bunga yang terkendali di tingkat riil dan kemudahan akses likuiditas, UMKM diharapkan tetap produktif. Kita sedang membangun ekosistem di mana kebijakan moneter yang ketat dapat bersanding dengan kebijakan makroprudensial yang akomodatif.

Membangun kepercayaan

Hilirisasi ekonomi yang kini menjadi agenda nasional juga membuka peluang besar bagi UMKM. Dengan dukungan pendanaan yang diarahkan ke sektor-sektor strategis, UMKM didorong untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam rantai nilai industri.

UMKM yang naik kelas adalah kunci agar ekonomi nasional menjadi lebih kuat menghadapi guncangan di masa depan. Kita tidak bisa terus bergantung pada konsumsi domestik semata, tanpa memperkuat kapasitas produksi di level akar rumput.

Di sinilah integrasi kebijakan KLM menjadi jembatan bagi UMKM untuk naik kelas, dari sekadar penyedia jasa menjadi mitra industri yang memiliki nilai tambah tinggi. Penguatan ini memastikan bahwa denyut ekonomi tidak hanya terasa di pusat, tetapi juga merata hingga ke pelosok daerah yang menjadi basis produksi.

Intermediasi perbankan bukan sekadar urusan memindahkan dana, melainkan urusan membangun kepercayaan. Kebijakan fleksibilitas melalui RIM dan insentif melalui KLM, bertujuan untuk menjembatani relasi antara bank dan debitur.

Stabilitas-pertumbuhan

Kebijakan BI Rate, KLM, dan RIM adalah upaya terpadu untuk memastikan bahwa setiap rupiah tidak hanya berhenti di gedung-gedung tinggi, melainkan sampai dan menghidupkan usaha di jalan pedesaan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved