Sastrawan Belinyu yang Puasa di Taiwan Kangen Bakso
''Bagi orang China puasa bukan hal yang wah, sudah banyak yang mengerti karena lumayan banyak warga Indonesia di Taiwan sekitar 200.000 orang.''
"SELAMAT Berbuka! Yang Kurindukan saat ini adalah bakso Indonesia!" inilah curahan hati Sunli Thomas Alexander (38) warga kelahiran Belinyu yang sedang berpuasa di Taipe, Taiwan. Tulisan ini diunggahnya ke dinding akun Facebook pribadinya.
Status Sunlie menuai komentar dari teman-teman di media sosial, salah satunya dari akun Rico Abdul Rauf, "Ntar aku e-mail itu bakso." Komentar ini kemudian dibalas Sunlie, "Ondelnya yang banyak gak pake kecap."
Profesi Sunlie sebagai sastrawan mengantarkan alumni SMU YPDB Belinyu Bangka ini mendapatkan undangan dari Menteri Kebudayaan Taiwan, Ministry Of Culture untuk menjadi pembicara sekaligus juri lomba bersama penulis Taiwan yang diselenggarakan di perpustakaan Asia Tenggara Brilliant Time.
Kedatangannya ke negeri "Naga Kecil Asia" (Taiwan) ini sejak Maret, terhitung selama enam bulan Sunlie akan berada di Taiwan hingga bulan September 2016. Selama berada di Taiwan, ia pun tak mensia-siakan kesempatan dengan cara mengikuti kursus bahasa mandarin untuk mempertajam keterampilannya sebagai seorang penulis cerpen, puisi, dan novel.
Bangka Pos menghubungi pria yang akrab disapa Sunlie ini Sabtu, (18/6) pukul 19.25 WIB melalui pesan WhatsApp, tak berlangsung lama alumni jurusan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini pun dengan cepat membalas pesan sembari mengabarkan waktu di Taipe pukul 20.37.
"Yang jelas suasananya bedalah dengan puasa di Indonesia, gak ada ngabuburit dan yang berjualan takjil. Saya nyiapin menu berbuka sendiri karena susah dapat makanan halal. Hari ini saya masak jamur dan ikan, pernah juga masak lempah kuning kalau lagi kangen," ungkap Sunli yang menjalankan ibadah puasa jauh dari istri di Kota Yogyakarta.
Tak punya waktu luang untuk berbuka bersama teman dan jarak masjid yang jauh harus ditempuh dengan kendaraan umum, membuat Sunli lebih nyaman menyiapkan makanan sendiri dan sholat di apartemen.
Di bulan suci Ramadhan, waktu Imsak di Taiwan pukul 03.35 dan berbuka pukul 18.86. Adapun tantangan berpuasa yang teberat menurutnya yakni kondisi cuaca yang panas.
"Di sini (Taiwan) cuacanya lebih panas dibanding Indonesia, pernah panas hingga 35 derajat. Panas 30 derajat saja rasanya gerah, panasnya beda kalau di Indonesia atau di Pulau Bangka yang kepulauan gitu kan walau panas tapi masih ada angin. Di sini gak ada angin, panasnya membakar kulit" jelasnya
Ditanya soal pengalaman unik selama menjalankan ibadah puasa di negeri minoritas muslim, penulis cerpen "Malam Buta Yin" tahun 2009, "Istri Muda Dewa Dapur" tahun 2012 dan Puisi "Sisik Ular Naga" tahun 2014 ini menjawab santai. Ia menuturkan bahwa masyarakat Taiwan sudah cukup paham dengan tradisi berpuasa.
"Bagi orang China puasa bukan hal yang wah, lumayan sudah banyak yang mengerti karena lumayan banyak warga Indonesia yang berada di Taiwan sekitar 200.000 orang. Jadi orang Taiwan gak terlalu bingung dengan puasa mereka sangat paham dengan tradisi Islam"tuturnya.
Memutuskan menjadi mualaf sejak tahun 2004 di usia 26 tahun, makna Ramadan baginya bukan hanya soal menahan lapar dan haus, lebih dari itu Ramadhan memberikan kesempatan istimewa selama satu bulan lamanya untuk merenung dan mengintrospeksi diri
Hingga 30 hari berpuasa dan merayakan hari kemenangan, berdasarkan rekomendasi dari teman-temannya Sunli berencana menghabiskan waktu Lebaran dengan ikut bergabung bersama warga Indonesia di Taiwan.
"Di hari kemenangan Idul Fitri sih aku belum tau, ini pengalaman pertama lebaran di Taiwan. Tapi di stasiun kereta Taipe ada semacam orang Indonesia kumpul di alun-alun jumlahnya bisa ratusan orang. Mereka (warga Indonesia) kumpul di situ tiap hari minggu untuk melepas kangen. Belum tau ada sholat id atau enggak tapi teman-teman bilang kumpul di situ," tutup penggemar karya sastrawan Peracis Moyen.
Segudang aktivitas yang turut dilakukan Sunli termasuk menyiapkan karya novelnya berjudul 'Kampung Halaman Di Negeri Asing" serta menulis artikel bola yang berhubungan dengan Euro 2016 untuk portal berita detik.com.
Di tengah menjalankan banyak aktivitas, ia mengaku tak punya trik khusus agar sukses menjalankan puasa satu hari penuh. Rasa lapar tak pernah mengganggunya, meski cuaca panas membuatnya agak berat menahan rasa haus. (tim)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/sunlie-warga-bangka-di-taiwan_20160622_173818.jpg)