Rabu, 8 April 2026

Tribunners

Santri: Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan

Para santri adalah sosok manusia yang bijaksana, yang sanggup meninggalkan egoisme dirinya dan terbuka hati dan budinya

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Ari Sriyanto, M.Pd. - Sekretaris MUI Provinsi Bangka Belitung 

Oleh: Ari Sriyanto, M.Pd. - Sekretaris MUI Provinsi Bangka Belitung

ISLAM melalui identitas santri adalah representasi keislaman yang telah diproduksi melalui nilai profetik yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ketiga nilai ini mewujud dan membentuk dalam realisasi dan inti sari cahaya Tuhan, dari percikan cahaya Tuhan turun kepada nabi sebagai bentuk otoritas Tuhan dengan menggerakkan pancaran pada proses humanisasi, liberasi, dan transendensi yang dituangkan dalam bentuk sikap teladan dari sifat kenabian yang sejak lama diwahyukan yang kemudian diwariskan kepada ulama sehingga kemampuannya di tahapan ushul adalah ilmu kebenaran yang hakiki dari nilai-nilai agama yang utuh dan komprehensif.

Pada tahapan furu' santri dalam tataran keilmuan secara praktis sebagai perubahan yang matang dalam mengampu ilmu yang bisa dimanfaatkankan. Ini tidak lebih sebagai bukti sahih bahwa keberadaan santri bisa menghidupkan kembali cahaya Tuhan dan menenteramkan di tengah-tengah masyarakat dan dunia yang makin mengglobal.

Pesantren kini keberadaannya adalah sebuah konsepsi yang dibangun atas dasar pemikiran-pemikiran kemudian dituangkan dalam gagasan-gagasan brilian dari seorang santri. Kalau ditinjau dari pergolakan pemikiran santri lebih tajam dalam menjelaskan situasi kekinian karena harus sudah bergelut dengan perkembangan teknologi. Teknologi bagi santri menjadi momok yang menyeramkan, dan menjadi anomali yang tak berkunjung hentinya dalam menawarkan fitur-fitur keindahan.

Saat ini santri dihadapkan pada persoalan dilematis. Di satu sisi, santri harus mempertahankan identitas sehingga melembaga menjadi sebuah keharusan dan kebutuhan bagi masyarakat, yaitu melakukan seleksi diri yang tersadarkan dalam pergaulannya dengan dunia luar yang tidak sesuai dengan yang digariskan demi mempertahankan agama dan keislamannya.

Di lain sisi, santri harus merespons situasi dan kondisi masyarakat, sebab dalam era globalisasi hampir semua sendi kehidupan umat manusia mengalami perubahan yang dahsyat, mulai dari institusi sosial masyarakat, kenegaraan, keluarga, dan bahkan institusi keagamaan tidak luput dari arus globalisasi apalagi di dunia global. Pada saat yang sama, pengetahuan manusia tentang realitas juga berkembang pesat sesuai dengan tingkat laju perkembangan ilmu pengetahuan.

Perubahan tingkat perekonomian suatu bangsa juga mengubah cara pandang mengenai realitas dunia. Sementara itu, mustahil jika corak nuansa pemikiran keislaman termasuk di dalamnya pendidikan, keagamaan, dan keislamannya juga tidak berubah.

Martabat kemanusiaan dalam suasana bangsa sedang menghadapi tantangan moralitas adalah sesuatu yang sangat tepat. Martabat kemanusiaan adalah nilai fundamental yang menyebabkan manusia memiliki derajat mulia dalam kehidupan. Nilai-nilai fundamental itu harus dijaga dan hidup dalam masyarakat dan tidak boleh berubah walaupun perkembangan budaya terus berubah. Apalagi perubahan sosial akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan dan perkembangan baru dari generasi ke generasi.

Saat ini kita sedang berada pada era generasi milenial dan masyarakat society 5.0. Generasi milenial adalah generasi tunas bangsa yang akan tumbuh dan berkembang menjadi penerus peradaban bangsa. Mereka hidup dalam tantangan yang tidak ringan dengan berbagai ancaman yang menakutkan. Di antara ancaman yang dikhawatirkan adalah rapuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Ancaman ini dapat menyebabkan runtuhnya martabat kemanusiaan. Untuk itu, bagaimana kita memahami dan menjaga martabat kemanusiaan tersebut. Di antara yang dapat kita tawarkan adalah:

Pertama, meneguhkan kasih sayang sesama manusia. Kasih sayang adalah sikap yang lahir dari jiwa yang suci paling dalam. Jiwa kasih sayang dapat hidup melalui pembiasaan/ habitualis sejak usia dini dengan pendekatan nilai-nilai keagamaan. Dari sini munculnya ketinggian derajat dan kemuliaan diri manusia. Derajat mulia itulah yang menjadi martabat bagi setiap manusia yang perlu dihargai dan dihormati.

Martabat manusia merupakan norma dasar yang mesti dipahami oleh setiap orang tanpa terkecuali. Hal ini penting agar setiap orang benar-benar memahami betapa mulianya pribadi manusia. Sebab itu memahami martabat kemanusiaan merupakan peta jalan menuju penghargaan. Menghargai kemanusiaan adalah suatu kewajiban karena manusia pada hakikatnya makhluk ciptaan terindah dan mulia bila dibanding dengan makhluk lainnya.

Kedua, memperkuat ketakwaan dan toleransi. Memperkuat ketakwaan dan toleransi merupakan sikap hidup. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara vertikal mencerminkan kerinduan manusia untuk mencapai keutuhan dirinya pada Tuhan. Tetapi, secara horizontal mengharuskan manusia untuk menghormati keragaman agama. Dalam praksis hidup bersama, pluralitas yang dimaksudkan menuntut masing-masing pihak untuk berkontribusi dalam menciptakan kondisi hidup yang harmonis, damai, dan saling menghormati perbedaan identitas keagamaan.

Ketiga, memupuk persaudaraan. Memupuk rasa persaudaraan atas dasar hormat pada kemanusiaan. Iman kita kepada Allah swt menjadi nyata memuliakan diri-Nya melalui sikap dan tindakan konkret kita terhadap sesama manusia yang konstruktif. Jadi, iman kepada Tuhan Yang Maha Esa mendukung dan mengharuskan kita untuk menghormati kemanusiaan orang lain; hidup bersaudara dengan siapa pun juga dan hormat terhadap martabat kehidupan manusia.

Implementasi iman seperti itu menghantar setiap orang (Indonesia) kepada kondisi hidup yang adil dan beradab. Dengan demikian, kecenderungan pada tindak yang merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan berupa kekerasan dalam berbagai bentuk dan alasannya dapat dihindari.

Para santri adalah sosok manusia yang bijaksana, yang sanggup meninggalkan egoisme dirinya dan terbuka hati dan budinya untuk mendengarkan pandangan pihak lain demi mencapai kesepakatan yang berguna untuk mencapai cita-cita hidup bersama. Mampu membangun solidaritas sosial berupa kepedulian dan keterlibatan sosial secara aktif (berbelarasa) untuk mengeluarkan sesama manusia dari kondisi-kondisi hidup yang tidak manusiawi. Manusia yang bijaksana adalah manusia yang mampu berlaku adil dan berbelarasa kepada sesamanya yang menderita. Selamat Hari Santri Nasional 2022. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved