Selasa, 7 April 2026

Tribunners

Pakaian Adat Negeri Junjung Besaoh Simbol Identitas Daerah

Pakaian adat tradisional juga berfungsi sebagai simbol budaya, karakter penduduk daerah, keyakinan penduduk daerah, dan histori.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali 

Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali

SETELAH 20 tahun berstatus sebagai daerah otonom baru, Kabupaten Bangka Selatan akhirnya memiliki pakaian adat. Pakaian adat atau baju adat adalah pakaian yang dibuat sebagai simbol untuk mengekspresikan identitas dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Ini juga merupakan pakaian khas yang menjadi pembeda antardaerah.

Pakaian adat daerah Jawa tentunya berbeda dengan pakaian adat daerah Bali ataupun Sumatra. Pakaian adat suatu daerah memiliki simbol dan khas daerahnya masing-masing. Pakaian adat digunakan untuk menunjukkan status sosial, perkawinan, atau agama. Pakaian adat tradisional juga berfungsi sebagai simbol budaya, karakter penduduk daerah, keyakinan penduduk daerah, dan histori.

Demikian pula dengan pakaian adat Negeri Junjung Besaoh yang telah ditetapkan oleh Lembaga Adat Melayu Negeri Junjung Besaoh yang dinakhodai Datuk Kulul dan Datuk Sumardoni sebagai sekretaris dengan didukung pamong budaya Bangka Selatan Dwikki Ogi Dhaswara dan Marwandinata, Sidharta, tokoh masyarakat Kamaluddin dan Taryadi. Akhirnya, Bangka Selatan memiliki rancangan pakaian adat Negeri Junjung Besaoh yang telah ditunggu oleh warga daerah ini yang siap diluncurkan ke publik.

Setidaknya kehadiran pakaian adat Negeri Junjung Besaoh ini akan menjadikan identitas daerah ini terlihat dari busana pakaian adat itu. Filosofi daerah yang berakar dari semangat gotong royong akan terpotret dari desain pakaian adat itu.

Untuk pria, terdapat baju cekak musang dan celana yang berwarna dasar hijau tua, untuk Sikapur Sirih ada penambahan ikat pinggang bermotif emas dan selubung (jubah kebesaran dengan motif cempako emas) melambangkan kebesaran dan pengayoman.

Adapun Lang Betedung dan Punggawa tidak memakai selubung, sampin motif cual berwarna merah marun sebagai sarung yang diikatkan pada pinggang, sindeng yang dipakai berwarna sama dengan sampin merah marun, selempang untuk Sikapur Sirih dipakai dengan cara disilangkan dari bahu kanan ke pinggang kiri berwarna hijau muda dan hijau tua ada motif nanas sebagai perekatnya. Selempang untuk Lang Betedung cukup dikalungkan.

Demikian pula dengan penutup kepala yang biasa disebut sindeng. Tiga penutup kepala yang disebut sindeng dan digunakan pada masa lalu serta sebagai penamaan untuk pakaian adat itu sendiri, yakni Sindeng Sikapur Sirih. Sindeng ini dipakai khusus oleh pimpinan tertinggi daerah. Atau dalam jabatan pemerintahan hanya digunakan oleh bupati dan wakil bupati dengan sedikit perbedaan pada tinggi dan pendek haluannya.

Sementara itu, Sindeng Lang Betedung digunakan oleh para pengawal. Dalam hal ini untuk dalam jabatan pemerintahan digunakan oleh forkopimda, sekda, dan para kepala dinas di daerah ini.

Adapun Sindeng Punggawa hanya dikenakan oleh para hulubalang. Dalam jabatan pemerintahan, sindeng ini dikenakan kepada seluruh staf kepegawaian dan seluruh masyarakat di Bangka Selatan.

Pakaian adat merupakan pakaian yang mengekspresikan identitas suatu kelompok masyarakat tertentu, yang biasanya dikaitkan dengan wilayah geografis atau periode waktu dalam sejarah. Pada tahun ke-20 Bangka Selatan ini berdiri akhirnya pakaian adat Negeri Junjung Besaoh terselesaikan sebagaimana terselesaikan hari jadi Kota Toboali yang akan dirayakan pada tanggal 25 Oktober mendatang.

Terima kasih untuk semua pihak dan para penggiat budaya dan pemangku adat Bangka Selatan untuk prestasi besar ini. Salam hormat untuk para Datuk dan Datin semua. Lewat pakaian adat Negeri Junjung Besaoh ini Bangka Selatan telah mengangkat martabat daerah ini sejajar dengan daerah lainnya di Indonesia. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved