Tribunners
Kebangkitan Literasi di Tanah Pering
kemampuan menguasai pelbagai bentuk dan jenis literasi tentulah akan membuat peserta didik sukses dan maju
Oleh: Rusmin Sopian - Ketua GPMB Bangka Selatan
MERINDING bulu kuduk saat mendengar warga sekolah SMANSA Payung meluncurkan empat buku karya siswa dan guru hingga kepala sekolah. Rejit bulu isik mengutip petuah lama dari Bangka Selatan yang menggambarkan kondisi hebat itu.
Peluncuran buku karya siswa dan guru serta kepala sekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 (SMANSA) Payung yang dilaksanakan pada Rabu (15/11/2023) bertepatan dengan HUT ke-20 SMAN 1 itu memotret perkembangan dunia literasi di Bangka Selatan yang makin bergairah dan berkembang biak. Hampir setiap tahun selalu ada buku karya warga daerah ini. Sebuah prestasi yang patut diberikan jempol dan diaplaus dengan tepuk tangan penuh keriuhan. Sebuah kebanggaan bagi masyarakat Bangka Selatan.
Gerakan Literasi Sekolah, Kemdikbudristek mengartikan kemampuan berliterasi sebagai adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai kegiatan, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan atau berbicara. Global Monitoring Report Education for All (EFA) 2007: Literacy for All menyimpulkan bahwa kemampuan berliterasi berfungsi sangat mendasar bagi kehidupan modern.
Koichiro Matsuura, Direktur Umum UNESCO mengungkapkan bahwa kemampuan berliterasi adalah langkah pertama yang sangat berarti untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Di samping itu, dengan kemampuan berliterasi yang baik, kita bisa meraih kemajuan dan keberhasilan. Tak mengherankan, bila UNESCO menyatakan bahwa kemampuan berliterasi merupakan titik pusat kemajuan.
Vision Paper UNESCO (2004) menegaskan bahwa kemampuan berliterasi telah menjadi prasyarat partisipasi bagi pelbagai kegiatan sosial, kultural, politis, dan ekonomis pada zaman modern.
Dalam konteks pendidikan, kemampuan menguasai pelbagai bentuk dan jenis literasi tentulah akan membuat peserta didik sukses dan maju. Lebih dari itu, akan menumbuhkembangkan tradisi dan budaya literasi.
Dalam pendidikan formal, peran aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru sebagai pendidik, tenaga kependidikan, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi pengembangan kemampuan berliterasi peserta didik. Untuk menciptakan lingkungan literasi, tentunya diperlukan perubahan paradigma semua pemangku kepentingan.
Pendekatan cara belajar mengajar yang mengembangkan komponen-komponen literasi ini. Kesempatan peserta didik terpajang dengan berbagai bentuk dan jenis literasi menentukan kesiapan peserta didik berinteraksi dengan literasi lain.
Mengutip laporan riset Central Connecticut State University di 2016, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dengan tingkat literasi rendah. Sementara itu, data statistik dari The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menyatakan minat baca masyarakat Indonesia sangatlah memprihatinkan yaitu hanya 0,001 persen. Hal itu menjadikan hanya ada satu orang Indonesia yang rajin membaca dari 1.000 orang di negeri ini.
Selanjutnya, dari data penelitian yang digelar United Nations Development Programme (UNDP), indeks pembangunan manusia (IPM) di tingkat pendidikan yang ada di Indonesia tergolong masih rendah, yaitu 14,6 persen. Jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang memiliki persentase hingga 28 persen.
Melihat rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia, ini akan berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia yang akan menghadapi persaingan global sehingga masyarakat Indonesia akan sangat sulit untuk bisa bersaing dengan masyarakat dari negara lain di ASEAN.
Padahal, Alvin Toffler dalam bukunya The Future Shock dengan tegas menyatakan bahwa informasi adalah masa depan dunia. Siapa yang menguasai informasi, akan menguasai dunia. Kata kuncinya untuk menguasai informasi tentu harus memiliki kemampuan berliterasi.
Untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia, bisa dimulai dari sekolah yang melaksanakan proses pembelajarannya tidak terlepas dari aktivitas membaca karena dari sinilah pentingnya mengembangkan budaya membaca di sekolah. Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti melalui pembiasaan membaca buku nonpelajaran selama 15 menit setiap hari sebelum pembelajaran dimulai sekarang ini juga sudah diterapkan di sekolah-sekolah. Jenis buku yang dibaca beragam, tidak harus buku pelajaran, bisa juga buku-buku sastra, seperti cerpen, novel, dan lain-lain. Tujuan kegiatan membaca tersebut adalah untuk membudayakan cinta membaca.
SMANSA Payung telah memulai langkah awal yang mengesankan dan tentunya masih terbentang luas jalan yang akan dilewati. Semangat mengembangkan literasi dan mengeskalasi potensi siswa-siswi ke ruang-ruang besar, membuat langkah itu tidak terlalu sulit, bahkan teramat mudah. Kolaborasi antara semua komponen warga pembangunan sekolah akan memudahkan langkah itu.
Kita percaya pada warga SMAN 1 Payung. Sekolah berkelas dari Tanah Pering. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231025_Rusmin-Sopian-Penulis-yang-Tinggal-di-Toboali.jpg)