Kamis, 9 April 2026

Tribunners

Perang Sarung Jadi Ajang Bertarung, Kenakalan Remaja Makin Tak Terbendung

Para remaja yang telah terseret arus tawuran mesti diselamatkan. Semoga kaum muslimin menjadikan Islam sebagai solusi atas berbagai masalah kehidupan

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Nurul Aryani - Aktivis Dakwah Islam dan Tenaga Pendidik 

Oleh: Nurul Aryani - Aktivis Dakwah Islam dan Tenaga Pendidik

TAWURAN terus menjadi PR besar. Bahkan di tengah bulan suci Ramadan, sejumlah remaja malah melakukan perang sarung, sebuah bentuk tawuran yang dikemas berbeda daripada bulan lainnya.

Berbeda dengan perang sarung era 90-an atau era 2000-an awal, yang mana perang sarung memang sekadar main alias asyik-asyikan tanpa melukai. Perang sarung era kini justru berbahaya, sebab para remaja ini mengisi sarung mereka dengan batu atau benda tajam lainnya yang kemudian dililit dan digunakan melibas lawan. Jika terkena tentu fatal akibatnya, bahkan nyawa jadi taruhannya.

Dilansir dari Tribun Lampung, tawuran dengan perang sarung ini telah memakan korban nyawa di Kalianda, Lampung Selatan. Seorang remaja berinisial LRF, 14 tahun, harus meregang nyawa setelah terlibat perang sarung dengan geng lain yang diawali dengan janjian antargeng di aplikasi WhatsApp. Hal serupa juga terjadi di Bekasi, AA berusia 17 tahun meninggal dunia usia terlibat perang sarung pada tengah malam hari Jumat (15/3/2024) lalu. (CNN Indonesia, 16/03/2024)

Perang sarung di Bangka Belitung

Gelombang perang sarung yang meningkat di berbagai daerah juga turut dirasakan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Pada awal bulan Ramadan, setidaknya terjadi 4 kasus perang sarung di Babel, di antaranya yakni di Kabupaten Bangka, Bangka Selatan, Belitung, dan Kota Pangkalpinang. Misalnya pada Sabtu (16/3/2024 ) malam, sebanyak 22 remaja yang masih duduk di bangku SMP dan SMA diduga hendak melakukan aksi tawuran perang sarung di Kelurahan Bukit Besar, Jalan Gandaria 2, dan Jembatan Jerambah Gantung. Syukurnya para remaja ini berhasil diamankan oleh aparat polisi. (Bangka Pos, 19/03/2024)

Setelah ada yang diamankan ternyata perang sarung juga tidak berhenti dan masih terjadi. Setidaknya ada 8 remaja di Pangkalpinang pada Sabtu (23/3/2024) lalu sekitar pukul 22.00 WIB diamankan polisi. Mereka diduga hendak perang sarung.

Tawuran remaja, mengapa terus berulang?

Ada banyak sekali faktor yang menyebabkan tawuran menyebar secara sporadis di berbagai wilayah. Beberapa di antaranya, pertama, adanya kemunduran berpikir pada remaja. Remaja yang melakukan tawuran tentu tidak berpikir mendalam tentang akibat dari perbuatan mereka, baik di dunia maupun di akhirat.

Dengan demikian, sering kali tawuran hanya dimulai dengan janjian via aplikasi chat atau karena masalah sepele atau bahkan tanpa sebab alias spontanitas lalu terjadilah tawuran. Ini menandakan walaupun sudah akil balig alias sempurna akalnya dan juga sudah melewati masa kanak-kanak, namun remaja hari ini belum memiliki kematangan dalam berpikir. Berpikir serba praktis dan standar senang-senang semata telah menuntun remaja pada perbuatan yang jauh dari kata terpuji.

Kedua, jauhnya remaja dari agama. Kehidupan yang dibangun dengan asas sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) telah menjauhkan remaja muslim dari agamanya. Pandangan hidup sekuler telah membuat para remaja tidak menjadikan agama untuk mengatur kehidupan. Agama hanya dipandang ritualitas belaka dan tidak diambil untuk mengatur kehidupan sehari-hari, termasuk dalam berperilaku. Akhirnya perilaku remaja menjadi serba bebas (liberal) sesuai tren atau sesuai hawa nafsu.

Nilai-nilai Islam dianggap tidak penting dalam kehidupan. Mereka enggan dekat dengan agama, sebab nanti khawatir dibilang alim atau sok suci dan tidak kuat mental menerima ejekan. Dengan demikian, jauhnya pemuda dari nilai-nilai Islam telah menyeret mereka ke dunia yang kelam.

Ketiga, faktor lingkungan dan tontonan. Adanya geng-geng di lingkungan sekolah atau tempat di mana mereka tinggal telah membuat remaja tergiur menjadi bagian dari geng ini. Biasanya ini dilakukan untuk eksistensi diri dan mendapat pengakuan dari teman sekaligus mendulang popularitas instan.

Para remaja juga dipengaruhi oleh tontonan yang akhirnya jadi tuntunan. Sebagai salah satu penikmat media sosial terbesar, remaja begitu berisiko terpapar konten kekerasan. Banyak konten kekerasan dengan mudah bisa diakses atau bahkan lewat dengan sendirinya.

Belum lagi banyaknya game online yang bertema perkelahian, tembak-tembakan, dan berdarah-darah. Makin seringnya remaja terpapar konten kekerasan akan membuat jiwa muda mereka ingin mencoba hal serupa. Akhirnya, adrenalin yang meningkat yang dirasakan ketika tawuran telah membuat remaja ketagihan dan berulang melakukan tawuran.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved