Tribunners
Implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Bonus demografi yang digadang-gadang sebagai masa keemasan bangsa Indonesia tidak boleh kita sia-siakan.
Oleh: Rudiyanto, S.Pd., Gr - Guru Pendidikan Agama Islam SDN 9 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan
BONUS demografi dengan rata-rata jumlah penduduk Indonesia yang 70 persennya dalam usia produktif 15-64 tahun yang digadang-gadang sebagai masa keemasan bangsa Indonesia tidak boleh kita sia-siakan. Dalam rangka menyongsong Indonesia Emas tahun 2045 tersebut, maka generasi penerus bangsa perlu kita bekali dan persiapkan untuk menyukseskan peluang Indonesia Emas 2045.
Pada 27 Desember 2024, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi mengumumkan peluncuran Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Menurut hemat penulis, langkah ini merupakan salah satu komitmen nyata Kemendikdasmen dalam mewujudkan generasi emas bangsa Indonesia ke depan. Selain memiliki kompetensi akademik yang memadai, generasi penerus bangsa ini harus memiliki karakter yang baik, memiliki rasa kepedulian dan tanggung jawab yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat tersebut.
Dengan demikian, mari kita implementasikan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dengan dukungan seluruh elemen masyarakat dan dukungan seluruh stakeholder terkait agar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sukses dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Beberapa upaya implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, adalah:
● Bangun pagi
Perkembangan arus globalisasi dan pertumbuhan teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) turut memunculkan dampak negatif bagi peserta didik. Rata-rata peserta didik saat ini berdasarkan wawancara penulis dengan beberapa peserta didik di kelas, mereka bangun paling cepat jam 6 pagi. Faktor penyebab mereka bangun jam 6 pagi tersebut karena tidur sudah terlalu larut malam meliputi aktivitas bermain game online, berselancar di dunia maya dan lain sebagainya hingga jam 11 malam, atau bahkan bahkan sampai dini hari.
Menurut hemat penulis, bangun jam 6 pagi adalah bangun yang “kesiangan”. Hal ini menunjukkan sikap kurangnya menghargai waktu dan tidak disiplin. Bayangkan jika anak tersebut harus berada di sekolah jam 06.30 atau jam 7 pagi, maka akan terburu-buru sekali.
Implementasi gerakan bangun pagi dapat dilakukan melalui pembiasaan dengan cara bangun rutin jam 04.30, diawali dengan melaksanakan ibadah salat Subuh, mengulang materi pelajaran, sarapan pagi, menyiapkan peralatan sekolah, dan lain sebagainya. Dengan demikian, akan tercipta generasi-generasi yang disiplin, menghargai waktu, fokus, produktif dan lain sebagainya.
● Taat beribadah
Generasi saat ini cenderung lebih asyik dengan gadgetnya hingga lalai menjalankan ibadah seperti halnya salat 5 waktu. Implementasi gerakan taat beribadah dapat dimulai dengan menyalakan alarm waktu salat di ponsel agar tepat waktu dalam beribadah, memanajemen dan membatasi penggunaan ponsel agar tidak lalai beribadah, memanfaatkan gadget untuk menambah wawasan keagamaan melalui tayangan ceramah agama dan kegiatan-kegiatan lainnya. Melalui gerakan taat beribadah ini, maka anak-anak akan memiliki karakter religius dan memiliki integritas yang tinggi.
● Rajin berolahraga
Anak-anak saat ini cenderung mager (malas gerak), lupa atau tidak sempat melakukan kegiatan-kegiatan seperti olahraga. Oleh karena itu, generasi penerus bangsa hendaknya senantiasa rajin berolahraga. Seperti pepatah dari bahasa latin yang berbunyi “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Hal ini mengingatkan kita bahwa kesehatan adalah sangat penting untuk kita lakukan guna menjaga jiwa yang sehat. Implementasi gerakan olahraga yang dapat dilakukan misalnya dengan lari pagi, membersihkan lingkungan sekolah, berkebun, dan lain sebagainya.
● Gemar belajar
Anak-anak saat ini cenderung malas belajar dan lebih tertarik dengan media sosialnya ketimbang belajar. Oleh karena itu, para guru dan orang tua hendaknya dapat bersinergi untuk memberikan pengawasan dan bimbingan. Implementasi gerakan gemar belajar dapat dapat dimulai dengan melakukan kegiatan atau membaca buku untuk meningkatkan kompetensi kognitif (pengetahuan), psikomotorik (keterampilan) dan afektif (sikap) baik di rumah maupun di sekolah. Dengan demikian, generasi penerus bangsa ini akan menjadi generasi yang cerdas dan berkarakter baik serta mampu menghadapi tantangan global.
● Makan-makanan sehat dan bergizi
Angka tengkes atas stunting anak Indonesia menunjukkan angka yang signifikan. Salah satu faktor penyebabnya ialah kurang mengonsumsi makanan sehat dan bergizi. Implementasi gerakan makan makanan sehat dan bergizi ialah dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat dan bergizi, senantiasa mengonsumsi makanan bergizi dan bervitamin, minum air putih yang cukup, mengonsumsi tablet penambah darah yang diberikan oleh sekolah, dan lain sebagainya. Dengan demikian, tumbuh kembang anak akan berjalan dengan optimal.
● Aktif bermasyarakat
Generasi penerus bangsa hendaknya dapat aktif bersosial masyarakat sehingga akan tercipta anak-anak yang peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial. Implementasi gerakan aktif bermasyarakat misalnya dengan mengikuti agenda kegiatan atau kepanitiaan pengajian rutin lingkungan sekitar, gotong royong, dan lain sebagainya.
● Istirahat yang cukup
Pertumbuhan teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) turut memunculkan dampak negatif bagi peserta didik. Salah satunya adalah aktivitas melalui gadget yang melalaikan hingga lupa akan waktu. Implementasi gerakan istirahat yang cukup dengan mengontrol dan membatasi aktivitas, baik melalui dunia maya maupun nyata, yang kurang akan nilai manfaat. Dengan istirahat yang cukup, keseimbangan fisik dan mental anak akan terjaga. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250111_Rudiyanto.jpg)