Tribunners
Tadabur Alam dan Hikmah Kehidupan: Belajar dari Hewan dan Alam yang Terluka
Melalui pengamatan terhadap perilaku hewan dan ekosistemnya, kita bisa menemukan hikmah yang mengingatkan kita pada kebesaran Allah Swt
Oleh: Randi Syafutra - Dosen Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
TADABUR alam bukan sekadar perjalanan melihat keindahan, tetapi juga renungan mendalam tentang keberadaan manusia di bumi. Melalui pengamatan terhadap perilaku hewan dan ekosistemnya, kita bisa menemukan hikmah yang mengingatkan kita pada kebesaran Allah Swt. Allah menciptakan makhluk-Nya tidak dengan sia-sia, tetapi dengan keseimbangan yang luar biasa. Hewan yang hidup di berbagai ekosistem memiliki cara unik dalam bertahan hidup dan beradaptasi, memberikan pelajaran berharga bagi manusia yang mau merenung.
Allah Swt berfirman dalam Qur’an surah Al-Ghasyiyah ayat 17: "Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan?" Ayat ini mengajarkan manusia untuk merenungkan bagaimana ciptaan Allah bekerja. Seekor unta, misalnya, diciptakan dengan kemampuan luar biasa dalam bertahan di lingkungan padang pasir yang ekstrem. Ia memiliki kelopak mata khusus untuk melindungi dari badai pasir, punuk yang berisi cadangan energi, dan kemampuan bertahan tanpa air dalam waktu yang lama. Ini menunjukkan bahwa setiap makhluk diberikan keistimewaan masing-masing untuk bertahan dalam kehidupannya.
Namun, apakah kita sebagai manusia telah menjalankan peran kita dengan baik di bumi ini? Ironisnya, dalam era modern ini, banyak perilaku manusia justru merusak ekosistem dan mengganggu keseimbangan alam. Banyak hewan kehilangan habitatnya akibat deforestasi yang tak terkendali. Hutan yang seharusnya menjadi rumah bagi berbagai satwa kini berubah menjadi lahan pertambangan, perkebunan sawit, atau permukiman. Hal ini menyebabkan banyak spesies mengalami kepunahan, salah satunya adalah kukang Bangka (Nycticebus bancanus).
Kukang Bangka, primata unik yang hidup di hutan Pulau Bangka, kini berada di ambang kepunahan. Perburuan liar dan perdagangan ilegal menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan spesies ini. Hewan ini sering diburu untuk dijadikan hewan peliharaan eksotis atau digunakan dalam pengobatan tradisional. Padahal, dalam Islam, hewan bukan sekadar makhluk yang dapat dieksploitasi, melainkan bagian dari keseimbangan ekosistem yang harus dijaga.
Dalam QS Fā ir ayat 28, Allah berfirman: "Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama." Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang berilmu akan memahami pentingnya menjaga alam dan makhluk hidup di dalamnya. Namun, justru manusia yang serakah dan tidak bertanggung jawab yang menyebabkan banyak makhluk kehilangan tempat hidupnya. Mereka menebang pohon tanpa menanam kembali, membakar hutan tanpa mempertimbangkan dampaknya, dan membuang limbah ke sungai tanpa rasa bersalah. Jika keadaan ini terus dibiarkan, kita akan mewariskan kehancuran bagi generasi mendatang.
Kasus lain yang menunjukkan kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan alam adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering terjadi di Indonesia. Pembakaran lahan untuk kepentingan industri sawit dan pertambangan mengakibatkan polusi udara parah yang berdampak pada kesehatan masyarakat. Selain itu, banyak satwa liar yang terpanggang hidup-hidup atau kehilangan habitatnya. Orangutan, harimau Sumatra, dan berbagai spesies burung kini makin sulit bertahan akibat perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab.
Padahal, jika manusia mau meneladani kehidupan hewan, banyak nilai positif yang bisa dipetik. Lebah, misalnya, memiliki sistem sosial yang sangat teratur. Mereka bekerja sama, berbagi tugas, dan saling membantu demi keberlangsungan koloninya. Allah bahkan mengabadikan lebah dalam Al-Qur'an dalam QS. An-Nahl ayat 68-69, yang menunjukkan bagaimana lebah berperan dalam kehidupan manusia melalui produksi madu yang bermanfaat bagi kesehatan.
Selain lebah, semut juga menjadi contoh hewan yang memiliki etos kerja tinggi dan kepedulian sosial yang luar biasa. Mereka bekerja sama dalam mencari makanan, membangun sarang, dan menjaga keamanan koloninya. Semut mengajarkan kita tentang arti kebersamaan dan pentingnya berbagi peran dalam kehidupan.
Namun, sifat dasar manusia yang sering kali egois membuat mereka mengabaikan pelajaran dari alam.
Keserakahan telah membuat manusia mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Hutan-hutan dihancurkan, sungai-sungai tercemar, dan udara makin kotor. Manusia telah gagal dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Pendidikan mengenai pentingnya menjaga alam harus mulai dikenalkan kepada anak-anak agar mereka tumbuh dengan kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan. Selain itu, perlu adanya peran aktif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat, untuk bersama-sama menjaga keseimbangan ekosistem.
Mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, menjaga kebersihan lingkungan, dan mendukung konservasi satwa liar adalah beberapa tindakan nyata yang bisa dilakukan. Sebagai individu, kita juga bisa mulai dengan melakukan tadabur alam secara rutin, mengamati keindahan ciptaan Allah, dan mengambil hikmah dari setiap makhluk yang ada di sekitar kita.
Tadabur alam bukan hanya sekadar menikmati pemandangan, tetapi juga menyadari bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan alam. Jangan sampai kita menjadi generasi yang mewariskan kehancuran kepada anak cucu kita. Sudah saatnya kita mengambil pelajaran dari hewan dan kembali kepada fitrah kita sebagai khalifah di bumi yang menjaga dan merawat alam dengan penuh tanggung jawab.
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang menanam pohon lalu ia bersabar dalam merawatnya dan menjaganya hingga berbuah, maka setiap buah yang dimakan darinya adalah sedekah baginya." (HR. Ahmad)
Mari kita jadikan tadabur alam sebagai bagian dari perjalanan spiritual kita untuk makin mengenal kebesaran Allah Swt dan menjalankan peran kita sebagai penjaga bumi dengan sebaik-baiknya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240514_Randi-Syafutra-Dosen-Universitas-Muhammadiyah-Bangka-Belitung.jpg)