Rabu, 8 April 2026

Berita Bangka Selatan

Lapak Baca Redaksi Project, Menyulut Semangat Literasi dari Toboali

Bukan sekadar tempat baca biasa. Lapak ini adalah bagian dari Redaksi Project, gerakan literasi yang membawa semangat besar.

|
Dokumentasi Redaksi Project
Founder Redaksi Project, Mely Handiati, Lisa Aryanti, dan Rizky Nurseha saat menggelar lapak baca di Kolong Air Bakung, Kota Toboali, Bangka Selatan, Sabtu (17/5/2025). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA SELATAN — Tikar sederhana terhampar di Kolong Air Bakung, Kota Toboali, lengkap dengan deretan buku anak yang tersusun rapi.

Di tempat inilah tiga pemudi, Mely Handiati, Lisa Aryanti, dan Rizky Nurseha, rutin membuka lapak baca dan kegiatan mewarnai untuk anak-anak sekitar.

Namun, ini bukan sekadar tempat baca biasa. Lapak ini adalah bagian dari Redaksi Project, gerakan literasi yang membawa semangat besar melalui langkah-langkah kecil.

Mengusung tagline Bergerak dengan Aksi, program ini hadir untuk menumbuhkan kembali minat baca, terutama di kalangan anak-anak yang akses terhadap buku masih sangat terbatas.

“Semua berawal dari kegelisahan saya melihat masih banyak anak-anak di sini yang kurang punya akses ke pengetahuan dasar. Dari sana, tercetuslah ide untuk membuat Redaksi Project, sebagai bagian dari Rumah Belajar Abu Biru yang kami jalankan bersama Bimbel Kamatikara,” cerita Mely Handiati, pendiri Redaksi Project, kepada Bangkapos.com, Minggu (18/5/2025).

Konsep yang diusung Redaksi Project cukup unik dan seru. Anak-anak yang ingin mewarnai harus membaca satu buku lebih dulu. Setelah itu, mereka diajak ngobrol santai tentang isi cerita yang baru saja dibaca.

“Kami ingin mereka menikmati proses membaca. Jadi, mereka harus baca satu buku dulu sebelum bisa mewarnai. Lalu kami ajak ngobrol soal ceritanya. Supaya bukan cuma baca, tapi juga paham,” ujar Mely yang baru berusia 24 tahun.

Sejak pertama kali digelar pada April 2024, lapak baca ini semakin ramai dikunjungi. Mulai dari anak-anak, remaja Gen Z, hingga orang tua pun ikut meramaikan, menunjukkan bahwa semangat membaca bisa menular ke siapa saja.

“Awalnya kami nggak terlalu berharap banyak, karena kami tahu budaya baca di masyarakat masih minim. Tapi ternyata responsnya luar biasa. Banyak yang datang, bahkan tertarik untuk ikut bantu. Itu yang bikin kami makin semangat,” ujar Mely.

Meski begitu, perjuangan mereka belum sepenuhnya mulus. Mely mengakui bahwa upaya menjalin kerja sama dengan pihak-pihak resmi masih menemui hambatan, terutama soal legalitas.

“Kami sedang coba menjalin kerja sama dengan beberapa instansi. Tapi memang masih terkendala di aspek formal. Tapi itu nggak menyurutkan semangat kami,” tambahnya.

Ke depan, Redaksi Project ingin lebih dikenal luas, bukan hanya sebagai penggerak literasi di Toboali, tapi juga sebagai ruang kolaborasi terbuka bagi siapa pun yang peduli pada pendidikan dan masa depan anak-anak.

Setiap akhir pekan, lapak baca ini terbuka untuk umum. Siapa pun bisa datang membaca, berdiskusi ringan, atau sekadar menikmati suasana santai sambil mengenal buku lebih dekat.

“Kami ingin tempat ini jadi awal dari kebiasaan baik. Karena membaca itu nggak mahal, dan literasi seharusnya jadi bagian dari hidup sehari-hari,” tutup Mely penuh harap.

Buat kamu yang penasaran atau ingin ikut berkontribusi, Redaksi Project rutin membagikan informasi dan jadwal kegiatan lewat Instagram mereka di @abu.biruu. (Bangkapos.com/Vigestha Repit)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved