Jumat, 10 April 2026

Tribunners

Pesantren di Bangka: Historis, Kelembagaan, dan Eksistensi

Dinamika historis pertumbuhan pesantren salafiyah dan perkembangannya di Pulau Bangka memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat

Editor: Suhendri
Istimewa/Dok. Subri Hasan
Dr. Subri Hasan, M.S.I. - Wakil Dekan I Fakultas tarbiyah IAIN SAS Bangka Belitung 

Oleh : Dr. Subri Hasan, M.S.I. - Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah IAIN SAS Bangka Belitung

BEBERAPA aspek yang memengaruhi berdiri dan berkembangnya pondok pesantren di Pulau Bangka, baik secara internal maupun eksternal, kemudian menjadi dinamika historis yang menghiasi perjalanannya. Sebagaimana dimaklumi bahwa kedua aspek tersebut berpengaruh bagi pesantren yang tercermin pada sosok sang kiai atau pimpinannya yang menjadi tolok ukur perkembangan dan langgengnya perjalanan sebuah pesantren secara umum.

Mengutip Udi Fakhruddin dan Didin Saefudin (Jurnal: 2018), bahwa “peranan seorang kiai sangat signifikan bagi perkembangan pondok pesantren diantaranya yaitu;  1). Keunggulannya dalam hal kepribadian dan keilmuan yang dapat dipercaya dan diteladani, 2). Keberadaannya sebagai pemilik dan pendiri pesantren, 3). Dominasi kultur pesantren sangat efektif dan kondusif terciptanya interaksi antara kyai dan para santri dengan model komunikasi satu arah sehingga kiai sebagai sosok sepuh dan tempat kembali segala persoalan.”

Kemudian selain kiai, bahwa sosok ustaz atau tenaga pengajar turut menopang kekuatan akademik pesantren sekaligus sebagai barisan terdepan dalam pembinaan santri, pengelolaan program pembelajaran dan pelaksanaan aktivitas pesantren. Sebagaimana pengamatan dan diskusi di Pesantren Al-Islam Kemuja, Pesantren Darul Abror Kace dan Pesantren Darussalam Pangkalpinang tahun 2020 silam, menyatakan bahwa sosok seorang kiai sebagai pimpinan pesantren tidaklah memiliki akar yang kuat serta basis kultur dialek Bangka yang khusus. Dengan demikian, penyebutan kiai bagi masyarakat Bangka tidaklah mendapat porsi perhatian dan masih terdengar “asing”. Beberapa alasan mendasar yang menyebabkannya adalah;

1). Secara historis dalam masyarakat Bangka sudah terbentuk dan terbangun menyebut dengan guru atau tuan guru untuk orang ‘alim yang memiliki pengetahuan agama yang luas, secara filosofis penyebutan guru atau tuan guru tersebut sudah memiliki karakteristik seperti seorang kiai. (Luthfi, wawancara: 2020)  

2). Penyebutan kata kiai atau ustaz bagi masyarakat Bangka secara historis tidak memiliki akar atau alur nasab/alur intelektual yang jelas dan merupakan produk baru yang datang dari luar, seperti dari Pulau Jawa dan lainnya. Meskipun kemudian bahwa “dalam tradisi pesantren yang berkembang di Indonesia para ustaz dan kiai selalu terjalin dengan rantai-rantai intelektual yang tidak terputus, baik perannya sebagai pemilik, pemimpin, pengelola, atau bahkan pengajar langsung” (Abdul Malik, Jurnal: 2018).

Namun meskipun demikian bahwa sistem jaringan kepemimpinan pondok pesantren dewasa ini telah mengalami perubahan. Seorang kiai atau ustaz tidak lagi menjadi elemen penting yang harus terpenuhi untuk mendirikan pesantren. 

3). Mayoritas santri pondok pesantren di Bangka menyebut pimpinan pesantren dengan panggilan ustaz dan guru. 

4). Penyebutan kata ustaz itu pun dimulai sejak tahun 2009, ketika beberapa orang tamatan Gontor yang mengajar di Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja Bangka mendirikan sebuah lembaga kursus yaitu lembaga ilmu bahasa Inggris dan Arab (LIBIA) tahun 1999-2001. Di mana peserta kursus tersebut memanggil pengajarnya dengan ustaz, maka sejak mulai itulah semua guru di Pondok Pesantren Al-Islam dipanggil dengan ustaz. Di mana sebelumnya dipanggil dengan pak atau bapak. (Abdullah, wawancara: 2020).

5). Penyebutan kiai bagi seorang pimpinan pondok pesantren di Bangka hanya terkhusus bagi kalangan santri pesantren saja, namun bagi masyarakat tetap menyebutnya dengan pak atau bapak. Beberapa alasan inilah kemudian eksistensi seorang pimpinan pondok pesantren di Bangka tidak memiliki akar yang menguat sehingga bisa saja pimpinan pesantren diganti seketika atau diberhentikan.

6). Kemudian penyebutan ustaz sekarang ini telah mengalami degradasi nilai karena hanya dilihat dari atribut yang dipakai, model dakwah, atau hanya alumni pesantren dan lain-lain, bukan dari keluhuran akhlak dan keluasan ilmu keagamaan. 

Berdasarkan sejumlah alasan tersebut terkonfirmasi melalui diskusi dengan pimpinan dan pengajar Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja, Pondok Pesantren Modern Darul Abror dan Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Muhibbin Kemuja. Lalu telaah dokumen beberapa penelitian sebelumnya dan karya berupa buku tentang pesantren. Aspek historis Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja  dilihat dari faktor internal yaitu;

1). Bahwa beberapa hal sebagai pendorong kuat berdirinya pesantren ini dilatarbelakangi oleh ketulusan, semangat pengorbanan, dan idealisme yang sangat kuat dari para pendiri dan “as-sabiqun al-awwaluun”. 

2). Semangat jihad pendidikan Islam dari kaum tua yang “naon” yang pulang dari Makkah ingin mengamalkan ilmu dan mengajarinya pada lembaga ngaji duduk, kemudian pada lembaga sekolah Arab lalu kemudian di pesantren.

3). Setidaknya Kemuja merupakan daerah centroid atau pusat luasan basis keislaman yang kuat atau daerah yang dikenal agamis di Bangka yang sangat mempertahankan ortodoksi keagamaan sehingga secara internal geografis pesantren lebih mudah untuk berdiri dan berkembang.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved