Bangka Pos Hari Ini

Hamzah 4 Hari Hanyut di Laut, Kapal Nelayan Tenggelam Dihantam Gelombang Besar, 8 ABK Masih Hilang

Hamzah empat hari hanyut dan terombang ambing di tengah laut setelah kapal nelayan yang dinakhodainya tenggelam dihantam gelombang tinggi

|
Bangka Pos
Bangka Pos Hari Ini, Selasa (19/8/2025) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Hamzah (45) terduduk lemas di tepi ranjang ruang pasien Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Pangkalpinang, Senin (18/8) malam.

Dia masih trauma dan kelihatan kurang sehat. Tubuhnya masih sakit, sejumlah luka lecet tampak menghiasai kedua tangannya yang hitam terbakar sinar matahari.

Hamzah empat hari hanyut dan terombang ambing di tengah laut setelah KM Osela, kapal nelayan yang dinakhodainya tenggelam dihantam gelombang tinggi.

Kapten kapal ini masih tampak syok saat menceritakan detik demi detik tenggelamnya kapal KM Osela. Apalagi anaknya, Riski (22) belum diketahui nasibnya.

Riski hilang bersama 7 anak buah kapal (ABK) KM Osela lainnya yang tenggelam di sekitar perairan Karang Mardalena, Jumat (15/8) kemarin.

Pria asal Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut menceritakan awalnya tak ada yang aneh dalam pelayaran, Kamis (14/8) pagi.

KM Osela meninggalkan Pelabuhan Tanjungpandan bersama Hamza sebagai nakhoda dan 8 ABK menuju perairan Karang Mardalena, utara Pulau Gelasa, Kabupaten Bangka Tengah untuk
mencari ikan.

“Kami berangkat jam 07.00 WIB pagi dan sudah sempat melakukan aktivitas menangkap ikan di perairan Karang Mardalena,” ungkap

Hamzah ditemui Bangkapos.com, Senin (18/8) malam. Namun, Jumat (15/8) sekitar pukul 04.00 WIB, angin kencang dan gelombang tinggi datang tiba-tiba, membawa malapetaka bagi Hamzah dan 8 ABK yang sedang beristirahat.

“Kami waktu kejadian itu semua masih tidur, kondisi kapal memang saya sengaja hidupkan dan ketika dihantam ombak masih kondisi hidup,” ujarnya.

KM Osela yang mereka tumpangi tak mampu melawan ganasnya cuaca. Dalam sekejap, kapal
hancur dan tenggelam setelah dihantam gelombang besar.

“Saat sadar, bagian depan mesin sudah dipenuhi air dan kami berusaha untuk menyelamatkan diri agar tidak tenggelam. Tetapi, kapal kami tetap tenggelam dan kami bertahan di bagian
atas kamar kapal yang tidak tenggelam,” ungkapnya.

Kata Hamzah, selama bertahan di atas kamar kapal mereka tidak makan dan hanya bertahan dengan sisa air minum 10 gelas.

“Namun saya akhirnya terpisah dengan delapan rekan yang sebelumnya bersama-sama berada di atas kamar kapal. Lalu saya mencari pertolongan dengan berenang,” ujarnya.

Diakui Hamzah, dia sempat terombang-ambing berenang menggunakan gabus selama kurang satu hari satu malam untuk mencari pertolongan.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved