Tribunners

Integrasi Ekoteologi dalam Kurikulum Pendidikan

Siswa diajarkan bahwa menjaga kelestarian alam adalah bagian dari tanggung jawab spiritual mereka sebagai khalifah di bumi.

Editor: suhendri
Dokumentasi Muhammad Rofiq Anwar
Muhammad Rofiq Anwar, S.Pd.I., M.Pd. - Dosen IAIN SAS Bangka Belitung 

Oleh: Muhammad Rofiq Anwar, S.Pd.I., M.Pd. - Dosen IAIN SAS Bangka Belitung

MENGHADAPI tantangan krisis lingkungan, integrasi nilai-nilai ekoteologi dalam kurikulum pendidikan Islam menjadi hal yang sangat penting. Ekoteologi menghubungkan pemahaman agama dengan kesadaran ekologis, menjadikan pelestarian alam sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral umat Islam. Dengan memasukkan nilai-nilai ini dalam pendidikan, kita dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli terhadap lingkungan dan bertanggung jawab atas bumi yang merupakan amanah dari Allah Swt.

Ekoteologi dalam Islam berakar dari konsep khalifah (pemimpin) dan amanah (tanggung jawab) yang terkandung dalam Al-Qur'an dan hadis. Qur'an surah Al-baqarah Ayat 30 menyebutkan bahwa manusia diangkat sebagai khalifah di bumi. Ayat ini mengandung makna bahwa manusia diberikan tanggung jawab untuk merawat dan menjaga alam semesta. Tanggung jawab ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual, karena manusia diharapkan menjaga kelestarian alam demi keberlanjutan kehidupan.

Selain itu, hadis Nabi Muhammad Saw juga menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan alam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian menanam pohon atau menabur benih, kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, maka itu adalah sedekah baginya" (HR. Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa setiap tindakan yang berkontribusi pada alam, seperti menanam pohon, dianggap sebagai amal jariah yang pahalanya terus mengalir.

Pengintegrasian ekoteologi dalam kurikulum pendidikan Islam dapat dilakukan dengan pendekatan holistik, yaitu menggabungkan nilai-nilai spiritual dengan kesadaran ekologis. Pendekatan ini tidak hanya mengajarkan konsep khalifah dan amanah, tetapi juga mengajarkan siswa tentang bagaimana cara menjaga bumi dan segala isinya, termasuk hewan, tumbuhan, dan air.

Penelitian yang dilakukan oleh Gangsar Edi Laksono (2022) dalam Jurnal Kependidikan menyatakan bahwa integrasi ekoteologi dalam pendidikan Islam memiliki peran yang sangat strategis dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam (PAI) berbasis ekoteologi harus diberikan pada semua jenjang pendidikan. Tujuan dari pembelajaran ini tidak hanya untuk meningkatkan aspek kognitif siswa, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran, sikap, keterampilan, dan partisipasi siswa dalam bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.

Hal itu akan mengarah pada pembentukan karakter yang lebih peduli terhadap alam. Implementasi strategi ini membutuhkan dukungan dari lembaga pendidikan, seperti sekolah atau madrasah, dalam menyediakan materi yang tepat dan mendukung proses pembelajaran berbasis ekoteologi.

Di tingkat nasional, Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengajak semua lembaga pendidikan agama untuk mengintegrasikan ekoteologi dalam kurikulum mereka. Beliau menekankan bahwa konsep khalifah dalam Islam merupakan dasar moral untuk mengajarkan siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup. Hal ini sejalan dengan pesan dalam Al-Qur'an dan hadis yang secara tegas mengingatkan umat Islam untuk tidak merusak bumi dan menjaga kelestariannya. 

Menurut Nasaruddin Umar, pendidikan agama Islam tidak hanya sebatas pemahaman teks-teks agama, tetapi juga penting untuk mengajarkan bagaimana ajaran agama berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.

Kementerian Agama Republik Indonesia turut mendukung penerapan ekoteologi melalui berbagai program, salah satunya adalah Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa yang diinisiasi oleh Kementerian Agama. Gerakan ini bertujuan untuk mengajak umat Islam di Indonesia lebih peduli terhadap kelestarian alam melalui penanaman pohon, yang diharapkan dapat membantu mengurangi dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang makin parah.

Meskipun sudah ada upaya untuk mengintegrasikan ekoteologi dalam kurikulum pendidikan Islam, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya pemahaman tentang ekoteologi di kalangan pendidik dan pengambil kebijakan. Oleh karena itu, pelatihan dan pengembangan kurikulum yang efektif sangat diperlukan agar guru-guru agama Islam dapat memahami dan mengajarkan nilai-nilai ekoteologi dengan tepat.

Tantangan lain berkaitan dengan sumber daya yang terbatas, baik dana maupun fasilitas, untuk menjalankan program-program pelestarian alam berbasis pendidikan. Namun, dengan dukungan yang kuat dari pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, pendidikan berbasis ekoteologi dapat berkembang dan memberikan dampak positif dalam menjaga kelestarian bumi.

Integrasi ekoteologi dalam kurikulum pendidikan Islam sangat penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peduli terhadap lingkungan. Melalui pendekatan ini, siswa diajarkan bahwa menjaga kelestarian alam adalah bagian dari tanggung jawab spiritual mereka sebagai khalifah di bumi. Dengan demikian, pendidikan Islam dapat berperan aktif dalam menghadapi krisis lingkungan dan mewujudkan peradaban yang berkelanjutan.

Seiring dengan makin banyaknya inisiatif yang mendukung pendidikan berbasis ekoteologi, seperti yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI dan berbagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia, diharapkan generasi muda kita akan lebih peduli terhadap alam dan dapat menciptakan kehidupan yang lebih harmonis antara manusia dan alam. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved