Selasa, 7 April 2026

Lihainya Aksi Para Pencopet Perempuan di Paris

Pada beberapa lokasi keramaian yang pernah saya kunjungi, saya melihat juga banyak peringatan serupa: awas pencopet!

Editor: edwardi

BANGKAPOS.COM -- Sejak di tanah air sebelum berangkat ke Perancis, saya sudah diwanti-wanti oleh banyak orang: awas hati-hati, di sana banyak pencopet! Setibanya di sana, begitu tiba di KBRI untuk melaporkan diri, nasihat yang sama saya terima dari para staf di KBRI: hati-hati pencopet, sebaiknya paspor asli disimpan, bawa fotocopy paspor saja kemana-mana.

Pada beberapa lokasi keramaian yang pernah saya kunjungi, saya melihat juga banyak peringatan serupa: awas pencopet! Di Museum Louvre bahkan peringatan terhadap si tangan panjang ini dilampirkan di buku panduan mereka, mengingat seringnya terjadi pencopetan di sana.

Di dalam metro, sering kali terdengar imbauan lewat pengeras suara yang disampaikan dalam bahasa Prancis, dan kemudian bahasa Inggris, yang intinya agar penumpang hati-hati kecopetan.

Konon, biasanya imbauan ini disampaikan jika sang masinis melihat ada gerombolan pencopet masuk ke dalam metro.

Tapi setidaknya sampai hari ke-14 saya di Prancis, saya belum melihat ada satu pun pencopet beraksi. Saya sempat berpikiran, jangan-jangan peringatan itu terlalu berlebihan. Sampai kemudian saya sendiri nyaris jadi korban pencopetan, persepsi saya pun langsung jadi berubah: Paris memang rawan dengan pencopetan.

Insiden yang saya alami itu terjadi di metro saat hendak menuju ke fan zone Champ de Mars di Paris untuk nonton bareng laga Inggris kontra Slovakia, dini hari kemarin.

Naik dari Stasiun Trocadero, situasi di dalam metro tak terlalu penuh. Saya berdiri di dekat pintu.

Lantas di stasiun Passy naik segerombol perempuan muda, sekitar empat atau lima orang. Cantik-cantik dan dari parasnya terlihat berasal dari negara Balkan dicirikan dari kulit mereka yang tak terlalu bule.

Satu dari mereka sedang hamil, dan berdiri tepat di sebelah saya. Yang seorang lagi yang lebih muda, usianya sekitar 14-15 tahunan, berada di depan saya, dan bertanya,"Apakah kereta ini menuju ke Nation?" Saya membenarkan, dan ia terus mengajukan beberapa pertanyaan tentang lokasi, yang membuat saya harus berpikir karena saya juga tak terlalu hapal.

Adegan itu hanya terjadi sekitar satu sampai dua menit, dan saya pun permisi hendak turun karena kereta sudah sampai di Stasiun Bir Hakiem yang jadi tujuan saya.

Saat itulah saya merasa ada yang tak beres dengan tas selempang saya. Begitu saya lihat ternyata resletingnya sudah terbuka, dan notes corat-coret saya posisinya sudah nongol keluar. Bersamaan dengan itu si perempuan hamil bersama gerombolan perempuan tadi bergegas turun.

Jelaslah sudah, saya nyaris jadi korban pencopetan. Dan si perempuan hamil tadi melakukan aksinya dengan lihai hingga saya tak merasakan sama sekali resleting tas selempang dibuka, padahal posisi tasnya ada di depan. Sedang si perempuan cantik yang sibuk bertanya, berperan sebagai pengalih perhatian.

Sejumlah penumpang di dalam metro sepertinya sudah mengendus aksi tersebut. Begitu saya hendak turun, mereka baru bertanya,"Kamu tidak apa-apa? Mereka tadi pencopet," ujar seorang penumpang.

Syukurlah, saya tak kehilangan sesuatu apa pun. Tapi andai saya tak berhenti di stasiun Bir Hakiem, para pencopet itu pasti akan melanjutkan aksinya, dan saya akan jadi korban pencopetan.

Insiden itu mengingatkan saya pada yang dialami mahasiswi S2 asal Indonesia, Nila, yang juga nyaris kecopetan di metro dua pekan lalu. Pelakunya juga diduga para perempuan dari daerah Balkan, dengan modus yang juga serupa yakni menanyakan lokasi.

Para pencopet ini pelakunya kebanyakan masih remaja. Dan itu menjadi andalan mereka karena jika pun tertangkap tangan, mereka tetap tak bisa ditindak secara hukum lantaran masih masuk dalam kategori di bawah umur. (Wartawan tribunnews Deny Budiman)

Sumber: babel news
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved