Minggu, 12 April 2026

Mutiara ramadan

Puasa Tidak Batal Tapi Lima Hal Ini Bisa Runtuhkan Pahala Puasa

Puasa tidak batal, dari sahur sampai dia berbuka puasa, tetapi pahalanya kosong, dia tidak mendapatkan pahala.

Penulis: Cici Nasya Nita |
Istimewa
Ketua PWNU Babel sekaligus Pimpinan Ponpes Hidayatussalikin, KH A Ja'far Shidiq. 

Oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) KH Ja'far Siddik. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ada lima hal yang membatalkan pahala puasa, bukan membatalkan puasanya tetapi membatalkan pahala puasa. 

Puasa tidak batal, dari sahur sampai dia berbuka puasa, tetapi pahalanya kosong, dia tidak mendapatkan pahala. 

Nabi Muhammad SAW mengatakan lima hal itu yang pertama berdusta, kedua membicarakan aib orang lain, ketiga adu domba, keempat janji palsu dan kelima melihat dengan nafsu syahwat. 

Pada bulan suci Ramadan ini, kita dilarang Untuk berdusta atau berbohong, sejatinya ramadan adalah training center, ramadhan mengajarkan kita tidak berdusta, setelah ramadhan pun sudah terbiasa tidak berbohong. 

Kedua, membicarakan aib orang lain, Nabi menepatkan kita di ramadhan agar tidak membicarakan aib orang lain, tetapi sebaik-baik manusia adalah yang sibuk memikirkan aib dirinya sendiri. 

Sungguh bahagia, orang yang sibuk memikirkan aib diri sendiri daripada memikirkan aib orang lain. 

Jangan melihat orang seperti pepatah, gajah dipelupuk mata tidak kelihatan tapi semut di ujung kelautan tampak, karena kita membicarakan aib orang lain. 

Jangan sampai kita suuzon, jaga mulut, bisa saja puasa kita tidak batal tapi pahalanya tidak ada, karena tidak bisa menjaga mulut. 

Mungkin pada masa digital saat ini, bukan hanya mulut dijaga tetapi juga tangan agar tidak menyebarkan perkara yang membuat ghibah dan mengadu domba orang. 

Pada bulan ramadan ini, mari kita mengikuti ajaran Nabi, menjaga lisan. 

Ada satu kisah dan kebiasaan, bahwa kebiasaan kita, orang Indonesia, Bangka khususnya, kita dilarang bersuzon bahkan kepada jenazah sekali pun. 

Ketika kita dihadapkan dengan jenazah setelah disalatkan, sang imam memimpin akan menanyakan kepada jamaah, apakah jenazah ini baik? 

Kita disuruh menyaksikan bahwa orang yang wafat dalam keadaan baik, apalagi orang yang masih hidup, di akhir hayatnya husnul khotimah, kita tidak tahu, bisa jadi pemabok, penjudi, ketika dia meninggal kita suzon, itu dilarang oleh agama. 

Mungkin di akhir hayatnya dia bertaubat kepada Allah SWT. 

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved