Tribunners
Memaknai Idulfitri 1445 Hijriah
Perayaan Idulfitri hendaknya tidak hanya difokuskan kepada baju baru, euforia yang berlebihan atau hal-hal lain yang mengarah kepada kelalaian.
Oleh: Rudiyanto, S.Pd., Gr - Guru Pendidikan Agama Islam SDN 9 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan
KEHADIRAN Idulfitri sangat dinanti-nanti oleh umat muslim. Setelah kurang lebih 30 hari menahan makan, minum, serta hal-hal lain yang dapat membatalkan ibadah puasa, tibalah pada hari kemenangan.
Pada momen Idulfitri, umat muslim akan melaksanakan ibadah salat Id, saling mengucapkan selamat Idulfitri dengan berjabat tangan dan saling berpelukan. Hal ini sebagai bentuk berbagi rasa kebahagiaan dan saling memaafkan atas segala kesalahan-kesalahan masa lalu.
Bahkan, pada hari raya Idulfitri atau tepatnya pada tanggal 1 Syawal seluruh umat muslim dilarang untuk melakukan ibadah puasa. Hari raya Idulfitri biasanya dilaksanakan oleh umat muslim selama kurang lebih tiga hari.
Idulfitri berasal dari kata “id” dan ‘al-fitri”. Id berasal dari kata aada-yau’uduu yang artinya kembali, sedangkan kata al-fitri berarti suci dan berbuka.
Berdasarkan pada pengertian di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa Idulfitri merupakan kembalinya seorang muslim kepada lembaran baru yang suci dan bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan.
Oleh karena itu hendaknya sebagai umat muslim yang beriman dan bertakwa, hendaknya kita dapat memaknai dan mengambil hikmah dari perayaan Idulfitri 1445 Hijriah. Beberapa makna dan hikmah dari perayaan Idulfitri 1445 Hijriah adalah sebagai berikut:
● Saling memaafkan dan introspeksi diri
Momentum perayaan Idulfitri 1445 H adalah saat yang paling tepat untuk kita saling memaafkan antarsesama. Hal ini sangat penting dalam rangka menjaga tali silaturahmi dan menjaga ukhuwah (persaudaraan).
Umat muslim bahkan tidak dianjurkan berselisih lebih dari 3 hari lamanya. Oleh karena itu hendaknya pada momen Idulfitri hendaknya umat muslim dapat membersihkan hati dari sifat dendam dan senantiasa berlapang dada serta ikhlas dan rida memberikan maaf kepada orang lain.
● Istikamah menjadi lebih baik dari sebelumnya
Idulfitri dapat dimaknai sebagai kembali kepada kesucian atau kebersihan. Artinya hati yang suci dan bersih ini jangan kemudian dikotori dengan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt. Umat muslim hendaknya selalu istikamah menjaga takwa dalam arti senantiasa menjalankan perintah-perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.
● Berusaha memperbaiki diri dan membersihkan hati
Umat muslim berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW, hendaknya berusaha lebih baik dari hari kemarin. Hati yang bersih dan suci pada momen Idulfitri hendaknya senantiasa dirawat dan disirami dengan senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa kepada Allah Swt.
● Senantiasa hidup sederhana dan dermawan
Perayaan Idulfitri hendaknya tidak hanya difokuskan kepada baju baru, euforia yang berlebihan atau hal-hal lain yang mengarah kepada kelalaian. Akan tetapi, bagaimana agar umat muslim senantiasa hidup sederhana dan meningkatkan kadar ibadah kepada Allah Swt seperti halnya sedekah dan senantiasa berbagi kepada sesama atau orang-orang lebih membutuhkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240121_Rudiyanto_Guru_SDN_9_Airgegas.jpg)