Tribunners
Hilangnya Barang Istimewa yang Bernama Keteladanan
Keteladanan menjadi sangat penting, terutama bagi mereka yang memegang kekuasaan
Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
KETELADANAN. Sebelas huruf itu tampaknya menjadi barang yang sangat istimewa di negeri ini. Entah kenapa dan entah apa sebabnya. Padahal, keteladanan menjadi sangat penting, terutama bagi mereka yang memegang kekuasaan sehingga perilaku mereka sebagai pejabat publik akan menjadi contoh bagi masyarakat dan publik.
Keteladanan mereka akan menjadi panutan bagi publik untuk diikuti. Keteladanan mereka semestinya menjadi sumber inspirasi bagi publik.
Mengawali kehidupan baru usai bebas dari penjara, Soekarno dengan tegas dan lugas menyatakan bahwa seorang pemimpin tidak akan berubah karena hukuman. "Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan dan saya meninggalkan penjara untuk pikiran yang sama."
Sementara itu, Bung Hatta dengan setegar baja mengatakan di tengah himpitan depresi ekonomi dan represi rezim rust en orde pada dekade 1930-an banyak orang yang bertukar haluan karena penghidupan. Tetapi seorang pemimpin yang suci senantiasa terjauh dari godaan iblis. Ketetapan hati dan keteguhan iman adalah syarat terpenting seorang untuk menjadi pemimpin. Kalau seorang pemimpin tidak mempunyai morel yang kuat, maka ia tidak dapat memenuhi kewajibannya dan lekas terhindar dari pergerakan.
Dua tokoh bangsa ini bukan hanya mengandal komitmen morel individu semata. Keduanya juga mampu berempati terhadap suasana kebatinan rakyat seraya memiliki kemampuan komunikasi yang efektif untuk menggerakkan rakyat. Kemampuan Soekarno dalam hal ini diakui oleh Bung Hatta. "Saudara Soekarno menjadi sangat populer dan mendapat pengaruh besar di kalangan rakyat karena kecakapannya sebagai orator dan agitator yang hampir tidak ada bandingannya di Indonesia.”
Sementara itu, Bung Hatta sendiri menegaskan menduga perasaan rakyat dan memberi jalan keluar kepada perasaan itu keluar, itulah kewajiban yang susah dan sulit. Dan itu kewajiban seorang pemimpin. Pergerakan rakyat tumbuh bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan atau karena ada perasaan dalam hati rakyat yang tidak dapat oleh rakyat untuk mengeluarkannya.
Pemimpin mengemudikan apa yang sudah dikehendaki rakyat. Itulah sebabnya pemimpin lekas dapat pengikut dan pergerakan yang dianjurkannya cepat berkembang.
Belajar dari Mahaguru bangsa itu, setidaknya menurut cendekiawan Yudi Latif, ada empat sumber utama yang bisa dijadikan parameter bagi seorang pemimpin. Pertama, basis moralitas yang menyangkut nilai-nilai, tujuan dan orientasi politik yang menjadi komitmen dan dijanjikan pemimpin politik kepada konstituennya.
Kedua, tindakan politik menyangkut kinerja pemimpin politik dalam menerjemahkan nilai-nilai moralitasnya ke dalam ukuran-ukuran perilaku, kebijakan, dan keputusan politiknya. Ketiga, keteladanan menyangkut contoh perilaku moral yang konkret dan efektif yang menularkan kesan autentik dan kepercayaan kepada komunitas politik. Keempat, kemampuan seorang pemimpin mengomunikasikan gagasan serta nilai-nilai moralitas dalam bentuk bahasa politik yang efektif yang mampu memperkuat solidaritas dan moralitas masyarakat.
Pada sisi lain terlalu sedikitnya panutan membuat jagat negeri ini kehilangan pahlawan dan nilai-nilai kepahlawanan. Mereka yang mendambakan panutan kepahlawanan terpaksa harus menoleh kepada batu nisan dan mencari di dunia rekaan.
Kegagapan para pemimpin negeri ini pada sejumlah level dalam menjadi contoh dan keteladanan membuat rakyat negeri ini kehilangan arti nilai-nilai kepahlawanan. Padahal secara semantik arti lain dari pahlawan adalah pelopor, yang lebih dari sekadar produk zaman.
Pahlawan adalah inspirator zaman karena inovasi gagasan atau tindakannya. Pahlawan adalah orang yang berjuang agar masyarakat menjadi cerdas, sejahtera, beradab, dan berharga diri sebagai rakyat.
Untuk menyukseskan pembangunan harus tercipta pokok pikiran dan kesamaan cita-cita antara rakyat dan pemimpin. Pembangunan akan berhasil jika rakyat merasa didampingi oleh pemimpin yang berwatak melindungi dan mengayomi rakyat. Dengan kata lain, jika apa yang telah dikerjakan rakyat dengan segala pengorbanannya berupa jiwa, raga, harta, dan seterusnya hanya menguntungkan pemimpin, maka tekad baja berupa kebersamaan itu akan lenyap.
Kalau kita masih memiliki pemimpin yang lebih banyak mengambil daripada memberi, maka yang akan timbul adalah sikap masa bodoh, apatis sampai ke tingkat kerusuhan, karena rakyat telah kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Tanpa kesamaan cita-cita dan nilai-nilai dasar antara pemimpin dan rakyat, maka tidak akan ada hubungan dialogis.
Pada saat tertentu, seorang pemimpin menjadi petunjuk jalan dan pelindung rakyat. Namun pada saat tertentu pula, seorang pemimpin harus minta petunjuk dari rakyat dan ini oleh James Mc Gregors disebut sebagai transforming leadership.
Sejarah telah menunjukan kepada kita bahwa apabila rakyat telah kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya, maka upaya untuk mengembalikan kepercayaan itu amat sulit. Bahkan teramat sulit. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240826_Rusmin-Sopian.jpg)