Tribunners
Mengalirkan Kebajikan
Dan bagian mengalirkan kebajikan Tuhan, penguasa negara harus jujur dan amanah pada dirinya, tidak congkak, arogan, dan tidak ambigu-semu
Oleh: Masmuni Mahatma - Ketua Tanfidziyah PWNU Kepulauan Babel dan Kabiro AAKK UIN Imam Bonjol Padang
HIDUP ini sejatinya merupakan konsekuensi logis dari kebajikan Tuhan. Di samping soal takdir, tentu Tuhan telah mempunyai orientasi substansial-universal yang sering sulit dijangkau kebanyakan makhluk (manusia) dari dan untuk kelangsungan sosial kesemestaan. Dan selaku hamba Tuhan yang diberi amanah (ke)hidup(an), niscaya tiap-tiap diri mesti terus ikhtiar menyerap, memerah, juga memilah hal-hal produktif berkelanjutan berbasis kebajikan Tuhan dalam konteks kolektivitas kemakhlukan. Ini bukan sekadar melengkapi eksistensi (ke)hidup(an), melainkan benar-benar ditempatkan sebagai aktualisasi amanah-Nya. Atau, dijadikan jalan kebajikan berbasis spirit dan nilai-nilai ketuhanan.
Terutama dalam konteks lebih azali, Allah SWT telah menegaskan bahwa tugas dan peran semua makhluk di alam semesta ini hanya untuk menyembah, berserah, dan berpasrah total kepada-Nya. Tidak sekali-kali Allah SWT menciptakan jin dan manusia, selain demi beribadah; berserah-pasrah tanpa batas kepada-Nya (QS. az-Zariyat : 56). Sebagian ahli agama mensinyalir, ayat ini adalah wujud ideal dari konstruksi tauhidi yang wajib dipegangi dan ditransformasikan oleh setiap diri makhluk. Orientasi dan spirit luhur ayat ini, tidak cukup dimaknai untuk menguatkan narasi-narasi imani belaka, melainkan pijakan tindak laku ubudiah seutuhnya.
Lantaran amanah (ke)hidup(an) erat kaitannya dengan kemaslahatan dalam kesemestaan, adalah kesalahan besar jika setiap diri menjadi pura-pura tuli dan tuna untuk mengalirkan kebajikan Tuhan. Sekira pola pikir dan sikap abai atas semangat ini dibiarkan menjalar, pelan tetapi pasti tiap diri hakikatnya ikut melakukan pengingkaran fitrati dan kemunafikan (ke)hidup(an). Sama sekali tidak dibenarkan dalam perspektif nalar sosial kemakhlukan maupun pijak logika kemanusiaan. Kelak hanya akan melahirkan kerugian dan penyesalan tiada berkesudahan sepanjang mengarungi lautan kehidupan di mata dhahir sesama manusia sekaligus di hadapan Allah SWT.
Kebajikan Qur’anik
Dalam konteks (ke)hidup(an), kebajikan Tuhan sangat dan sangat banyak. Tak akan pernah bisa dihitung dan dikategorisasi semata melalui perspektif potensi akal terbatas kita selaku makhluk. Bukan karena tiap diri jelas-jelas diciptakan dalam konstruksi minimalis, akan tetapi hakikat kemakhlukan memang sampai kapan pun tidak akan bisa melampaui “kuasa” dan “kekayaan” serta “hak prerogatif” Sang Khalik, pemilik segala yang ada di muka bumi. Di sini letak ruang dan momentum tiap-tiap diri manusia untuk bergegas menjadi “agen utama” mengalirkan kebajikan Tuhan seoptimal dan semaksimal yang dapat diedukasi sekaligus ditransformasi.
Allah SWT memberikan gambaran kebajikan secara paradigmatik-qur’anik. Setidaknya, dalam surat Al-Baqarah ayat 177, diurai penuh makna. Kebajikan bukan hanya perilaku menghadapkan wajah ke timur dan barat, (mungkin) seperti salat, doa, dan wiridan. Namun demikian, tegas Allah SWT, kebajikan itu adalah pikiran, tindakan, dan aktualisasi keimanan kepada Allah, hari akhir (hari kiamat), malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi yang jelas sampai kepada kita. Lebih praktis dari itu, ialah memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, hamba sahaya yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, mereka yang menepati janji apabila berjanji, sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan.
Dalam spirit konstruksi qur’anik, mereka bukan saja yang berhak mendapatkan aliran kebajikan Tuhan. Melainkan, sekali lagi, adalah pribadi-pribadi yang benar iman dan ketakwaannya demi Allah SWT. Maka terang bahwa antara orientasi luhur dan semangat keberimanan serta ketakwaan dengan realitas perilaku konkret demi mengalirkan kebajikan Tuhan terhadap sesama makhluk melalui posisi maupun kondisi masing-masing sungguh tidak bisa dipisahkan. Seperti relasi badan dan roh. Tubuh dan jiwa. Materi dan substansi. Siang dan malam. Langit dan bumi. Dalam bahasa yang lain, adalah relasi eksistensial dari dan untuk menghidupi “realitas-aktual” universal guna mengawal stabilisasi kesemestaan.
Kebajikan qur’anik itu, mesti dibumikan. Dari dan untuk kebajikan qur’anik ini jua kita patut melakukan penataan produktif pelbagai obsesi positif kehidupan, baik dalam kacamata sosio-kemanusiaan, kemakhlukan, maupun sosio-kehambaan. Sehingga keseimbangan, keharmonisan, dan kemakmuran atas nama kesemestaan senantiasa terjaga dan terkawal bagi seluruh penghuni bumi. Dari kecenderungan ini pula, menghadapkan wajah diri ke timur dan barat, otomatis akan disertai internalisasi nilai-nilai kebajikan sebagaimana digariskan Tuhan. Tidak semata “ritual-formalitas” melepas kewajiban sebagai makhluk atau hamba. Melainkan benar dan sungguh menjiwai perilaku sosial berkehidupan atas nama kebajikan-kebajikan Tuhan secara menyeluruh.
Peran negara
Bagian dari komitmen melangsungkan tatanan produktif-efektif (ke)hidup(an) bagi setiap rakyat dan elemen kebangsaan, peran negara perlu dicermati dan dievaluasi terutama dalam mengalirkan kebajikan Tuhan. Tak perlu ditarik ke ranah dan arah berlebihan, apalagi disertai tendensi (kepentingan) politik. Bahwa terjadi “evaluasi tak terduga” secara massal beberapa waktu lalu terhadap kinerja maupun keberadaan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mulai dari pusat sampai daerah, adalah “ibrah” yang layak dijadikan cermin kolektif-kohesif berkehidupan. Disadari atau tidak, fenomena itu salah satu bukti bahwa Tuhan masih cukup menyayangi kita dan seluruh elemen bangsa. Tuhan menyodorkan teguran yang indah, sarat isyarat dan makna.
Bila selama ini di antara kita memang suka abai mengalirkan kebajikan Tuhan, khususnya kepada mereka yang tergolong tidak mampu, miskin, melarat, dan terus berada dalam garis krisis mengkhawatirkan menjalani kehidupan, mari langsung benahi. Tak perlu malu dan minder. Ini bagian dari sunnah (ke)hidup(an) yang diwariskan Tuhan. Ini pola dan bentuk ikhtiari manusiawi kala berada dalam siklus kesemestaan.
Iman dan ketakwaan tiap-tiap diri, mesti diakui, tidak seutuhnya konsisten. Selalu ada saja ruang tanpa sengaja tiba-tiba ikut membelokkan dan menggelincirkan. Di sini perlunya senantiasa mawas diri dan hati-hati, baik dalam kondisi terbuka, tertutup, atau sama sekali menghindar penuh perhitungan.
Demi menjadi bagian dari mekanisme dan sistem Tuhan dalam mengalirkan kebajikan, mari segera bergegas membuang pikiran dan perilaku (ke)hidup(an) egoistik, manipulatif, dan eksploitatif. Mari kita teladani Rasulullah Saw untuk tiada henti militan, loyal, dan bersungguh dalam kejujuran sekaligus amanah pada diri sendiri. Melalui terapi spiritualitas dan moral-etik semacam ini, tugas sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi akan terwujud penuh berkah. Tidak akan pernah menjalani tugas kekhalifahan dengan (rasa) “berat” dan “menjemukan.” Sebaliknya, kita akan lebih rapi dan harmoni serta stabil membawakan misi-misi kemanusiaan. Terutama bagi siapa pun yang menjadi abdi dan pejabat negara di berbagai level.
Oleh karena itu, negara wajib merekonstruksi peran-peran strategisnya. Tidak boleh sekadar melahirkan aturan-aturan dan penekanan-penekanan administratif-regulatif yang tuna-aspirasi publik. Melalui elite pejabat atau pengambil kebijakan sosialnya, negara mesti hadir langsung tiap saat menyapa, memilah, mengalkulasi, dan memberikan solusi mencerahkan berbasis kebajikan Tuhan terhadap keberadaan serta keberlangsungan setiap rakyat. Bukan ambisius-politis dan tendensius-parsialistik.
Dan bagian mengalirkan kebajikan Tuhan, penguasa negara harus jujur dan amanah pada dirinya, tidak congkak, arogan, dan tidak ambigu-semu. Penguasa negara seyogianya mengakui siapa yang membersamai dan membalasnya dengan kebajikan pula. Hal ini akan melahirkan keberkahan dan menjauhkan “disorientasi” bernegara. Insyaallah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250622_Masmuni-Mahatma.jpg)