Tribunners
Sindeng dari Bangka Selatan Menasional
Penutup kepala yang disebut sindeng dan digunakan pada masa lalu serta sebagai penamaan untuk pakaian adat itu sendiri
Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
WARISAN budaya takbenda (WBTB) dari Negeri Junjung Besaoh, Bangka Selatan, kembali menoreh sejarah dalam kancah kebudayaan Nusantara. Setidaknya, legitimasi WBTB dari Bangka Selatan itu terakui, bahkan menjadi catatan sejarah bagi dunia kebudayaan Nusantara.
Setidaknya, momen sejarah telah ditorehkan oleh delegasi tim budaya Bangka Selatan yang dinakhodai Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan, Andrey Taufiqullah.
Dalam momen sidang WBTB, Minggu (6/10/2025) malam di Jakarta, tim ahli WBTB Indonesia secara simbolis dikenakan penutup kepala berupa sindeng oleh delegasi Bangka Selatan dan perwakilan Disparbudkepora Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Mengutip pernyataan Pamong Budaya Bangka Selatan Dwikki Ogi Dhaswara, bahwa pemasangan sindeng kepada Tim Ahli WBTB Indonesia, bukan sekadar kegiatan seremonial semata, namun juga sebuah bentuk representasi fisik dan pengalaman langsung bagi para ahli untuk merasakan dan menghayati nilai dan makna budaya yang melekat pada sindeng tersebut, yaitu sindeng sikapur sirih, sindeng lang betedung, dan sindeng punggawa.
Setelah pengenaan sindeng kepada Tim Ahli WBTB Indonesia, delegasi Bangka Selatan secara langsung berkesempatan menyerahkan naskah akademik pakaian adat Bangka Selatan kepada Tim Ahli WBTB Indonesia.
Penutup kepala yang disebut sindeng dan digunakan pada masa lalu serta sebagai penamaan untuk pakaian adat itu sendiri, terdiri dari sindeng sikapur sirih, sindeng lang betedung, dan sindeng punggawa.
Sindeng sikapur sirih dipakai khusus oleh pimpinan tertinggi daerah, tau dalam jabatan pemerintahan hanya digunakan oleh bupati dan wakil bupati dengan sedikit perbedaan pada tinggi dan pendek haluannya.
Sementara itu, sindeng lang betedung digunakan oleh para pengawal. Dalam hal ini untuk dalam jabatan pemerintahan digunakan oleh forkopimda, sekda, dan para kepala dinas di daerah ini.
Adapun sindeng punggawa hanya dikenakan oleh para hulubalang. Dalam jabatan pemerintahan, sindeng ini dikenakan kepada seluruh staf kepegawaian dan seluruh masyarakat di Bangka Selatan.
Sindeng dari Bangka Selatan kini telah menasional. Warisan budaya adiluhung dari era dahulu kini terakui oleh publik luas. Dan kita sebagai warga daerah ini wajib melestarikannya dan menjaganya sebagai wujud nyata dari kecintaan kita kepada budaya daerah.
Globalisasi adalah tantangan terbesar yang dihadapi oleh generasi penerus bangsa saat ini dalam hal melestarikan budaya daerah Nusantara. Generasi muda harus memiliki rasa cinta terhadap budaya daerah Nusantara. Dengan adanya rasa cinta, maka akan timbul sikap untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan yang merupakan warisan adiluhung dari pendahulu kita.
Sudah saatnya kita semua sebagai anak bangsa bersama-sama menjaga kebudayaan warisan adiluhung yang tak ternilai itu sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kita terhadap leluhur.
Selamat untuk delegasi Tim Budaya Bangka Selatan. Saatnya kita mencintai budaya Indonesia. (*)
| Totalitas Berliterasi: Luruskan Niat, Kuatkan Komitmen |
|
|---|
| Sistem Pemilihan dan Tantangan Mendasar Partai Politik Indonesia |
|
|---|
| Masa Depan Koperasi Desa Merah Putih dan Harapan Baru Ekonomi Desa |
|
|---|
| Merayakan Hari Jadi Daerah dengan Puisi |
|
|---|
| Tahun Baru, Luka Lama: Amerika, Venezuela, dan Kekerasan yang Dinormalkan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250603_Rusmin-Sopian.jpg)