Jumat, 24 April 2026

Berita Pangkalpinang

Makna Ceng Beng, Ikatan Sakral antara Leluhur dan Keturunan Warga Tionghoa

Ceng Beng bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum paling sakral dalam menjaga hubungan antara yang hidup dan yang telah tiada.

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
BERDOA - Ketua Yayasan Pekuburan Sentosa Pangkalpinang, Johan Riduan Hasan saat berdoa di makam leluhurnya di pemakaman masyarakat Tionghoa terbesar di Asia Tenggara tersebut, Sabtu (4/4/2026). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Bagi masyarakat Tionghoa, perayaan Ceng Beng bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum paling sakral dalam menjaga hubungan antara yang hidup dan yang telah tiada.

Ketua Yayasan Pekuburan Sentosa Pangkalpinang, Johan Riduan Hasan menyebut Ceng Beng sebagai bentuk interaksi spiritual yang sarat makna antara keturunan dengan leluhur.

"Kalau menurut saya, ini hari yang paling sakral. Dalam kepercayaan Tionghoa, selama hidup kita punya tugas, dan setelah meninggal pun ada tugas, yakni menjaga anak cucu," ujar Johan kepada Bangkapos.com, Sabtu (4/4/2026).

Baca juga: Makam Tertua di Perkuburan Sentosa Pangkalpinang Diyakini Berdiri Sejak 1915

Ia menjelaskan, melalui ritual Ceng Beng, hubungan tersebut tetap terjalin, bahkan diyakini mampu melampaui batas dimensi kehidupan.

"Ceng Beng ini menjadi momen kita berinteraksi dengan leluhur. Bisa jadi ada dimensi tertentu yang tersambung, bahkan mungkin keinginan leluhur yang belum tercapai bisa diteruskan melalui kita," katanya.

Menurut Johan, pelaksanaan Ceng Beng di Pangkalpinang, khususnya di Perkuburan Sentosa, selalu dipadati peziarah. Hal ini tak lepas dari nilai historis kawasan tersebut yang menjadi tempat peristirahatan banyak leluhur masyarakat Tionghoa.

Baca juga: Sudah Penuh, Pemakaman Warga Tionghoa Pangkalpinang Dialihkan ke Sentosa 2 di Desa Jeruk

"Di Sentosa ini banyak sejarah dan leluhur dimakamkan di sini, jadi setiap Ceng Beng memang selalu ramai," ungkapnya.

Rangkaian ritual Ceng Beng sendiri umumnya dimulai dengan pembersihan makam. Keluarga biasanya datang satu hari sebelumnya untuk merapikan area kuburan sekaligus memberi tanda akan dilaksanakannya sembahyang.

"Kita bersihkan dulu, lalu keesokan paginya baru sembahyang. Biasanya pagi-pagi sekali," jelas Johan.

Puncak perayaan Ceng Beng tahun ini jatuh pada 5 April, meskipun aktivitas ziarah telah berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya.

Bagi masyarakat Tionghoa, Ceng Beng bukan hanya ritual, tetapi juga wujud bakti, penghormatan, serta pengingat akan hubungan yang tak pernah terputus antara generasi.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

 

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved