Rabu, 15 April 2026

Tribunners

Jalan Pulau Timah Menuju Keberlanjutan

Upaya pemulihan lahan pascatambang harus dipercepat dengan pendekatan inovatif agar lebih efektif dan efisien

Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Hirmas Fuady Putra
Hirmas Fuady Putra - Dosen Ekologi Restorasi Institut Pertanian Bogor 

Oleh: Hirmas Fuady Putra - Dosen Ekologi Restorasi Institut Pertanian Bogor

KEPULAUAN Bangka Belitung telah menjadi lumbung timah selama lebih dari dua abad. Sektor ini bukan sekadar tulang punggung ekonomi daerah, tetapi juga membentuk struktur sosial masyarakatnya. Hingga hari ini, ketergantungan tersebut masih sangat kuat. Data BPS menunjukkan bahwa timah tetap menjadi komoditas ekspor utama, pada Februari 2026, dari total ekspor sebesar US$198,59 juta, sekitar US$149,96 juta berasal dari timah atau lebih dari 75 persen.

Ketika aktivitas tambang sempat melambat, terlihat jelas rapuhnya struktur ekonomi yang terlalu bertumpu pada satu sektor. Banyak warga kehilangan sumber penghidupan secara tiba-tiba. Masyarakat Serumpun Sebalai seolah terjebak dalam kebingungan kolektif mencari alternatif ekonomi yang cepat dan instan. Kondisi ini menjadi alarm keras bahwa paradigma pembangunan tidak bisa terus bergantung pada sektor ekstraktif semata.

Di sisi lain, eksploitasi timah terus berpacu dengan keterbatasan cadangan serta membawa konsekuensi ekologis yang serius. Secara nasional, Indonesia memang merupakan salah satu produsen dan eksportir timah terbesar dunia, dengan sekitar 90 persen produksinya berasal dari Bangka Belitung. Namun, aktivitas pertambangan juga telah meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang luas, mulai dari degradasi lahan hingga terbentuknya ribuan kolong bekas tambang yang belum direklamasi.

Lebih jauh lagi, kontribusi sektor tambang terhadap kesejahteraan masyarakat tidak selalu linier. Studi berbasis data BPS menunjukkan bahwa sektor pertambangan tidak secara signifikan menurunkan kemiskinan dibandingkan sektor lain seperti pertanian dan jasa. Artinya, ketergantungan berlebihan pada tambang justru berpotensi menciptakan ketimpangan ekonomi.

Oleh karena itu, arah kebijakan pembangunan daerah harus mulai bertransformasi. Bangka Belitung sejatinya memiliki kekuatan lain yang tak kalah besar. Dengan karakter wilayah kepulauan, potensi sektor maritim: perikanan, pariwisata bahari, hingga industri kelautan sangat terbuka untuk dikembangkan.

Selain itu, komoditas pertanian seperti lada, yang secara historis menjadi identitas ekonomi daerah, perlu direvitalisasi dengan pendekatan teknologi modern dan sistem agribisnis yang lebih adaptif.

Namun, transformasi tidak cukup berhenti pada wacana. Dibutuhkan keberanian pemimpin daerah untuk keluar dari zona nyaman birokrasi. Keputusan harus berbasis data, bukan sekadar asumsi. Pembaruan data potensi daerah dengan resolusi tinggi dan berbasis kajian ilmiah menjadi langkah awal yang krusial.

Dengan dukungan tenaga ahli yang kompeten, perencanaan pembangunan akan lebih presisi, implementasi lebih efektif, dan penggunaan anggaran lebih efisien. 

Selanjutnya, pemerintah daerah harus berani membangun narasi investasi yang kuat. Penawaran bukan hanya sumber daya alam mentah, tetapi juga nilai tambah melalui hilirisasi. Investor global cenderung tertarik pada ekosistem ekonomi yang memiliki kejelasan arah, stabilitas kebijakan, dan proyeksi keuntungan yang terukur.

Jejaring strategis juga perlu diperkuat. Diaspora Bangka Belitung yang tersebar di berbagai wilayah dapat menjadi jembatan penting dalam membuka akses investasi dan kolaborasi. Modal sosial sering kali terabaikan, padahal memiliki peran strategis dalam menghubungkan kepentingan lokal dengan jaringan nasional maupun global.

Di sisi lain, penguatan sektor pendidikan tinggi merupakan fondasi jangka panjang yang tidak boleh diabaikan. Perguruan tinggi yang berkualitas mampu menjadi motor inovasi dan pusat pengembangan sumber daya manusia.

Kehadiran institusi pendidikan tinggi negeri baru, misalnya di Belitung, berpotensi menciptakan efek berganda bagi ekonomi lokal melalui peningkatan aktivitas barang, jasa, dan mobilitas manusia. Dalam banyak kasus, ekosistem kampus justru menawarkan stabilitas ekonomi yang lebih terukur dibandingkan sektor pariwisata yang fluktuatif.

Lalu, bagaimana dengan aktivitas pertambangan yang masih berjalan? Jawabannya bukan menghentikan secara drastis, melainkan mengelolanya secara lebih bijak dalam kerangka keberlanjutan. Penegakan zonasi tata ruang harus konsisten dan tegas. Teknologi pertambangan yang lebih ramah lingkungan perlu diadopsi secara luas. Di saat yang sama, upaya pemulihan lahan pascatambang harus dipercepat dengan pendekatan inovatif agar lebih efektif dan efisien.

Transformasi ekonomi Bangka Belitung memang bukan perkara mudah. Namun, dengan keberanian mengubah arah, berbasis data, dan didukung kolaborasi lintas sektor, “Pulau Timah” dapat bertransformasi menjadi kawasan yang tidak hanya kaya sumber daya, tetapi juga tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved