Berita Bangka Selatan
3 Ton Sampah Diangkut dari Pesisir Bangka Selatan
350 peserta yang terdiri dari unsur pemerintah, komunitas, dan masyarakat berhasil mengumpulkan sekitar dua hingga tiga ton sampah di Pantai Kelisut.
Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Fitriadi
BANGKAPOS.COM, BANGKA – Sinar matahari mulai terasa menyengat tidak menyurutkan semangat ratusan peserta yang memadati Pantai Kelisut, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (6/6/2026) pagi.
Dengan membawa karung, kantong sampah, hingga alat kebersihan sederhana, mereka menyebar di sepanjang garis pantai untuk memungut sampah yang terselip di antara pasir, bebatuan, dan semak-semak pesisir.
Langkah demi langkah mereka susuri kawasan pantai, memastikan tidak ada sampah yang tertinggal. Karung-karung sampah perlahan terisi penuh.
Beberapa peserta terlihat membungkuk berulang kali mengambil botol plastik, bungkus makanan, potongan kayu, hingga sampah rumah tangga yang terbawa arus laut.
Tak jauh dari bibir pantai, sejumlah peserta lainnya bertugas memilah sampah yang telah terkumpul.
Sampah organik dan anorganik dipisahkan untuk memudahkan proses pengolahan selanjutnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka Selatan, Agung Prasetyo Rahmadi, bilang sebanyak 350 peserta yang terdiri dari unsur pemerintah, komunitas, dan masyarakat berhasil mengumpulkan sekitar dua hingga tiga ton sampah. Terutama dalam aksi gotong royong memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2026.
Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan Pantai Kelisut dan berlangsung serentak di sejumlah lokasi pesisir lainnya.
“Selain Pantai Kelisut, pembersihan juga dilakukan di Batu Belimbing, Pantai Batu Kapur, dan Batu Kodok. Seluruh peserta dibagi ke sejumlah titik untuk mempercepat proses pembersihan kawasan pesisir,” kata Agung Prasetyo Rahmadi kepada Bangkapos.com.
Menurutnya, sampah yang berhasil dikumpulkan dari empat lokasi tersebut dipilah menjadi dua kategori, yakni sampah organik dan sampah anorganik.
Pemilahan dilakukan agar sampah masih memiliki nilai guna dan tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir. Pasalnya, pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini mengusung tema saatnya bekerja untuk iklim.
Tema tersebut diangkat karena Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan lingkungan, mulai dari perubahan iklim, penurunan emisi, hingga pencemaran lingkungan.
Faktor yang berkontribusi terhadap persoalan tersebut adalah keberadaan sampah yang tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia mencanangkan gerakan kurve atau gotong royong yang dilaksanakan secara serentak di seluruh daerah.
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan pun memanfaatkan momentum tersebut untuk kembali menggalakkan budaya gotong royong membersihkan lingkungan.
“Ada tiga isu utama yang menjadi perhatian saat ini yaitu perubahan iklim, penurunan emisi, dan polusi atau pencemaran,” ujar Agung Prasetyo Rahmadi.
Ia menambahkan sampah organik yang terkumpul akan diarahkan untuk diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik akan dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi beban sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir.
Selain itu, pemanfaatan kembali sampah dinilai dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan.
“Harapannya sampah organik bisa dijadikan kompos dan sampah anorganik dapat dimanfaatkan ataupun didaur ulang,” sebutnya.
Meski berhasil mengumpulkan tonase sampah dalam jumlah besar, pihaknya menilai kesadaran masyarakat dalam memilah sampah masih perlu ditingkatkan.
Karena itu, momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat agar mulai mengelola sampah dari rumah tangga.
Upaya tersebut dinilai penting karena persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya pada tahap akhir pembuangan.
“Sampahmu adalah tanggung jawabmu, sehingga pemilahan sampah harus dimulai dari sumbernya agar yang masuk ke TPA benar-benar hanya sampah residu,” pungkas Agung Prasetyo Rahmadi. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)
| Sebulan Edarkan Sabu, Residivis di Bangka Selatan Simpan Barang Bukti di Tumpukan Kayu |
|
|---|
| Beasiswa SDM Sawit 2026 Dibuka Ribuan Kuota, Anak Pekebun Basel Berpeluang Kuliah Gratis |
|
|---|
| Kuliah Gratis untuk Anak Pekebun Dibuka, Bangka Selatan Bidik Penerima Beasiswa Lebih Banyak |
|
|---|
| Cegah Malaria, Warga Bangka Selatan Diminta Gunakan Kelambu dan Repelen |
|
|---|
| Daerah Tambang dan Rawa di Bangka Selatan Jadi Fokus Pengawasan Malaria |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/sampah-di-pantai-kelisut-basel.jpg)