Profil dan Profesi Mentereng Andre Kuncoro, Ayah Josepha Alexandra Berani Protes Juri LCC MPR RI
Andre Kuncoro, ayah Josepha Alexandra seorang profesional yang memiliki rekam jejak panjang di bidang pemberdayaan masyarakat.
Ringkasan Berita:
- Andre Kuncoro, ayah Josepha Alexandra seorang profesional yang memiliki rekam jejak panjang di bidang pemberdayaan masyarakat dan birokrasi kementerian
- Ternyata karakter vokal Josepha Alexandra atau disapa Ocha ini mengalir dari sang ayah yang memiliki nama Andre Kuncoro
- Andre yang tinggal di Putussibau, Kalimantan Barat, diketahui bekerja sebagai Staf Ahli Pertanian Lembaga Gemawan
BANGKAPOS.COM -- Di tengah keberanian Josepha Alexandra, siswi SMAN 1 Pontianak yang memprotes ketidakadilan juri di Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026, sang ayah jadi sorotan.
Ternyata karakter vokal Josepha Alexandra atau disapa Ocha ini mengalir dari sang ayah yang memiliki nama Andre Kuncoro.
Bukan sosok sembarangan, rupanya ayah Josepha memiliki jabatan mentereng.
Andre Kuncoro merupakan seorang profesional yang memiliki rekam jejak panjang di bidang pemberdayaan masyarakat dan birokrasi kementerian.
Baca juga: Rekam Jejak Cemerlang AKP Yohanes Bonar Hutapea, Perwira Alumni Akpol 2015 Terjerat Kasus Narkoba
Andre yang tinggal di Putussibau, Kalimantan Barat, diketahui bekerja sebagai Staf Ahli Pertanian Lembaga Gemawan.
Berikut adalah perjalanan karier mentereng ayah Ocha, dilansir dari akun Facebooknya.
Profil dan Profesi Andre Kuncoro
- Eks PNPM Mandiri Perdesaan (2007)
- Koordinator TPP Kapuas Hulu P3MD Kemendesa PDTT (2021)
- Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi (2021)
- Dan kini, Staf Ahli Pertania Lembaga Gemawan.
Sebagai seorang profesional yang terbiasa berurusan dengan tata kelola dan aturan, Andre Kuncoro menekankan pentingnya sportivitas dan kejujuran kepada putrinya.
Baginya, aksi putrinya di atas panggung bukan sekadar protes, melainkan menyuarakan keadilan atas kebenaran yang ia sampaikan.
"Publik Indonesia tidak hanya dipertontonkan acara lomba, tapi bagaimana seorang anak kecil dengan gagah berani menyuarakan keadilan dan kebenaran," kata Andre melansir dari TribunStyle.com, Jumat (15/5/2026).
Baca juga: Ayah Pratu F, Dari Belitung Terbang ke Palembang Dengar Anak Pertamanya Tewas Diduga Ditembak TNI
Menurutnya menang atau kalah dalam lomba merupakan bonus, terpenting anaknya mampu melewati semua prosesnya.
"Berkah yang luar biasa dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Dalam lomba itu sportivitas harus dijunjung tinggi. Menang atau kalah itu biasa, yang penting prosesnya," katanya.
Ia berharap tindakan Ocha dapat menginspirasi untuk berani menyiarakan keadilan.
"Kebenaran tetap harus jadi kebenaran, dan keadilan harus tetap dijaga," katanya.
Sosok Ocha Dibongkar Sang Ayah
Andre menceritakan sosok Ocha sebagai pribadi yang getol sekali belajar.
"Ocha itu nggak banyak bicara. Dia lebih senang berada di kamar dengan dunianya sendiri, dengan laptopnya, belajar," katanya.
Menurutnya Ocha sering kali belajar sampai larut malam.
Sang ibu bahkan selalu mengingatkan untuk istirahat.
"Kadang tidak kenal waktu sampai tengah malam. Ibunya sering mengingatkan, ‘Dek tidur’. Tapi kalau belum selesai, dia belum mau tidur," katanya.
Sebagai orang tua, Andre mengaku beberapa kali mencoba mengajak Ocha bersantai atau bermain bersama teman-temannya.
Namun ajakan itu sering ditolak karena dianggap membuang waktu.
"Kita suruh main dengan temannya juga nggak mau. Katanya buang-buang waktu," katanya.
Selain aktif belajar mandiri, Ocha juga mengikuti bimbingan belajar beberapa kali dalam sepekan.
Di luar kegiatan sekolah, ia turut aktif dalam kegiatan sosial bersama anak-anak di kawasan Taman Catur Untan.
Andre menyebut, putrinya kerap membantu membina anak-anak kecil melalui kegiatan mewarnai, melukis, hingga mengajarkan sejumlah mata pelajaran pada hari libur.
“Biasanya di Taman Catur itu, membina adik-adik kecil, mewarnai, melukis, lalu mengajarkan pelajaran juga,” ungkapnya.
Baca juga: Sosok Pratu F, Anggota TNI Tewas Diduga Ditembak Rekan Sendiri di Kafe, Luka Satu Lubang di Perut
Menurut Andre, kebiasaan belajar Ocha yang begitu intens terkadang membuat keluarga khawatir.
Meski demikian, ia melihat putrinya memang menikmati dunia belajar sebagai hobinya.
“Ocha hobinya memang di depan laptop belajar. Kadang kami orang tua juga khawatir, ini anak nggak stres. Tapi memang dia suka,” katanya.
Dapat Undangan Bertemu Wapres
Setelah sebelumnya viral akibat insiden penilaian kontroversial di ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026, remaja yang akrab disapa Ocha ini mendapat undangan istimewa untuk bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pertemuan tersebut berlangsung di Istana Wakil Presiden, Jakarta, pada Rabu (13/5/2026).
Tidak sendirian, Ocha hadir didampingi rekan satu timnya yang juga merupakan peserta kompetisi bergengsi tersebut.
Dalam kesempatan langka itu, Ocha mengungkapkan bahwa dirinya tidak hanya sekadar berbincang, tetapi juga menyerap ilmu komunikasi langsung dari orang nomor dua di Indonesia tersebut.
Ia mengaku mendapatkan arahan mengenai cara mengasah kepercayaan diri dan teknik adu gagasan.
“Tadi kami diberi motivasi serta tips and trick juga gimana caranya nanti untuk berpublic speaking dan berdebat dimuka umum,” ujar Josepha usai pertemuan dalam tayangan instagram Kompas TV Rabu (13/5/2026).
Baca juga: Bersenggolan saat Joget, Detik-detik Pratu F Tewas Diduga Ditembak Rekan TNI di Kafe Palembang
Menurut Josepha, wejangan yang disampaikan Wapres Gibran menjadi suntikan semangat sekaligus bekal berharga bagi masa depannya.
"Ini menjadi suatu harapan dan semangat bagi kami untuk terus melangkah maju dan berkembang. Didalam juga kami diberikan arahan oleh bapak Wapres Gibran untuk terus berlajar dan tidak mudah termakan isu-isu yang berkembang di media sosial saat ini." tambah Ocha dibantu rekan timnya.
Diskusi yang berjalan cair tersebut banyak menekankan pada pentingnya keberanian generasi muda dalam menyuarakan pendapat secara kritis di hadapan khalayak.
Ocha dan juga mengungkapkan bagaimana perasaannya setelah mendapatkan undangan dari bapak Wapres Gibran, hingga ia dan tim bisa sampai berkunjung ke Istana Negara yang ada di Jakarta.
"Iya tentunya saya dan juga tim merasa kaget, maksudnya kami diundang tiba-tiba. Tapi saya dan tim merasa senang bisa datang ke Jakarta untuk bertemu dengan bapak Wapres Gibran" tutup Ocha dalam perbincangannya.
Sebagaimana diketahui, sosok Ocha menjadi pembicaraan hangat di jagat maya setelah potongan video dirinya saat berkompetisi tersebar luas.
Polemik bermula saat final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalbar digelar di Pontianak pada Sabtu (9/5/2026).
Kompetisi tersebut diikuti sembilan SMA di Kalimantan Barat, dengan tiga sekolah yang lolos ke babak final yakni SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Kontroversi terjadi saat sesi rebutan jawaban ketika juri memberikan pertanyaan mengenai lembaga yang harus dipertimbangkan DPR dalam memilih anggota BPK.
Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi tim pertama yang menjawab. Seorang siswi menjelaskan bahwa anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan Presiden.
Baca juga: Sempat Sembunyi Ketakutan, Bahroni Penembak Brigadir Arya yang Ditembak Mati Ternyata DPO Curanmor
Namun, dewan juri justru memberikan pengurangan nilai minus lima kepada Regu C.
Tak lama kemudian, pertanyaan yang sama diberikan kepada Regu B dari SMAN 1 Sambas.
Menariknya, jawaban yang disampaikan dinilai sama dengan jawaban Regu C, tetapi justru diberi poin 10 oleh dewan juri dengan alasan inti jawaban sudah benar.
Keputusan itu langsung diprotes peserta dari SMAN 1 Pontianak karena merasa telah menyampaikan jawaban identik.
“Izin, kami tadi menjawabnya sama seperti Regu B,” ujar peserta Regu C dalam tayangan yang kemudian viral di media sosial.
Dewan juri yang merupakan Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI, Dyastasita WB, menjelaskan pihaknya tidak mendengar penyebutan unsur DPD dalam jawaban Regu C.
Baca juga: Bukan Sosok Sembarangan, Rekam Jejak Mentereng Kevin Gusnadi Lulusan UI Dekat dengan Ayu Ting Ting
Namun peserta membantah penjelasan tersebut dan meminta audiens menjadi saksi bahwa mereka telah menyebutkan unsur DPD dalam jawaban.
“Apakah ada yang mendengar saya mengatakan DPD?” kata peserta Regu C di hadapan penonton.
Situasi sempat memanas hingga pembawa acara meminta seluruh peserta menghormati keputusan dewan juri.
Dewan juri lainnya, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI Indri Wahyuni, mengatakan peserta perlu memperhatikan artikulasi saat menjawab pertanyaan.
“Artikulasi itu penting. Kalau dewan juri tidak mendengar dengan jelas, maka dewan juri berhak memberikan nilai minus lima,” ujar Indri.
Insiden tersebut kemudian memicu gelombang kritik publik di media sosial. Banyak warganet menilai keputusan juri tidak konsisten karena jawaban yang dinilai sama justru mendapatkan hasil penilaian berbeda.
(TribunPontianak.co.id/Tribunnews.com/TribunStyle.com/TribunSumsel.com/Bangkapos.com)
| Rekam Jejak Cemerlang AKP Yohanes Bonar Hutapea, Perwira Alumni Akpol 2015 Terjerat Kasus Narkoba |
|
|---|
| 149 Penderita Thalassemia Terdata di Babel, Didominasi Anak-anak, Kenali Penyebab, Ini RS Rujukannya |
|
|---|
| Bersenggolan saat Joget, Detik-detik Pratu F Tewas Diduga Ditembak Rekan TNI di Kafe Palembang |
|
|---|
| Sempat Sembunyi Ketakutan, Bahroni Penembak Brigadir Arya yang Ditembak Mati Ternyata DPO Curanmor |
|
|---|
| Bukan Sosok Sembarangan, Rekam Jejak Mentereng Kevin Gusnadi Lulusan UI Dekat dengan Ayu Ting Ting |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260516-JOSEPHA-ALEXANDRA.jpg)