Update Harga BBM 18 Juni 2026, Turun? Ada Bahan Bakar Baru per 1 Juli 2026
Cek info harga BBM Pertamina terbaru per 18 Juni 2026 seluruh wilayah Indonesia & kesiapan peluncuran bahan bakar baru B50 per 1 Juli.
Penulis: Dedy Qurniawan CC | Editor: Dedy Qurniawan
Ringkasan Berita:
- Sejak 10 Juni 2026, Pertamax Cs mengalami kenaikan signifikan, sedangkan lini produk diesel seperti Pertamina Dex dan Dexlite justru turun harga.
- Harga BBM nonsubsidi bergerak dinamis mengikuti mekanisme pasar dan fluktuasi harga minyak mentah dunia.
- Pemerintah siap meluncurkan Biodiesel B50 per 1 Juli 2026 demi kemandirian energi dan hemat devisa Rp157 T.
BANGKAPOS.COM - Berikut info terbaru harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamina yang berlaku pada Kamis, 18 Juni 2026, di sejumlah wilayah Indonesia.
Pertamina secara berkala terus melakukan penyesuaian harga, terutama untuk produk BBM nonsubsidi, guna merespons dinamika pasar global dan kebijakan yang berlaku.
Berdasarkan penyesuaian terbaru yang efektif berjalan sejak 10 Juni 2026, harga Pertamax tercatat mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Di wilayah Jawa Barat misalnya, harga Pertamax kini meningkat sebesar Rp3.950 per liter, dari yang sebelumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Kenaikan yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh Pertamax Green selaku produk BBM ramah lingkungan.
Pertamax Green sekarang dibanderol Rp17.000 per liter setelah mengalami kenaikan Rp4.100 dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp12.900 per liter.
Sementara itu, untuk produk dengan oktan lebih tinggi seperti Pertamax Turbo, penyesuaian harga juga telah dilakukan menjadi Rp20.750 per liter dari harga awal Rp19.900 per liter.
Berbanding terbalik dengan varian bensin, lini produk diesel Pertamina justru mengalami penurunan harga yang cukup besar.
Harga Pertamina Dex kini merosot dari Rp27.900 menjadi Rp24.800 per liter.
Langkah penurunan ini juga diikuti oleh Dexlite yang sekarang dijual seharga Rp23.000 per liter, lebih rendah dibanding harga sebelumnya yang menyentuh Rp26.000 per liter.
Berdasarkan pantauan per 17 Juni 2026 malam, tampaknya penyesuaian harga BBM per 10 Juni 2026 lalu masih akan menjadi harga BBM terbaru yang berlaku per 18 Juni 2026.
Turun Tergantung Harga Minya Dunia
Sementara itu, juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan, ketika harga minyak dunia turun, maka harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi juga dipastikan turun.
Namun, sebaliknya, jika harga minyak dunia naik, harga BBM nonsubsidi juga akan naik. "Nah apakah bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun. Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan, mau tidak mau, tidak terhindarkan harga BBM non-subsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya," ujar Dwi di kantor Bakom, Jakarta, Rabu (17/6/2026) dilansir kompas.com.
Dwi menekankan, harga BBM non subsidi di Pertamina maupun di SPBU swasta mengikuti mekanisme harga pasar.
Dia mengatakan, mau berapa pun harga minyak mentah dunia, mau tidak mau BBM non-subsidi harus mengikuti harganya.
"Namun balik lagi, kita tahu kondisi saat ini kenaikan harga BBM non-subsidi ini memang sudah berlangsung. Kalau kita bicara negara-negara kawasan di tetangga sudah jauh lebih dulu mengalami kenaikan, penyesuaian," tuturnya.
Sementara itu, terkait harga Pertamax yang sempat dipertahankan, Dwi membocorkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memang sempat mencoba menjaga kestabilan ekonomi dan daya beli masyarakat.
Walhasil, Pertamax sempat menjadi satu-satunya BBM non subsidi yang tidak mengalami kenaikan harga, meski pada akhirnya dinaikkan menjadi Rp 16.250.
"Tapi seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis, ini para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomian. Seperti itu. Jadi kalau ditanya akan turun enggak harga minyak dunia turun, pasti akan ada penyesuaian juga untuk penurunan harga BBM non-subsidi," imbuh Dwi.
BBM Jenis Baru per 1 Juli 2026
Sementara itu, stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada 1 Juli 2026 akan hadir bahan bakar minyak (BBM) jenis baru dengan nama Biodiesel 50 persen (B50).
Mengutip laman onesolution.pertamina.com, biosolar atau biodiesel adalah bahan bakar yang terbuat dari campuran bahan bakar untuk mesin jenis diesel dengan beragam bahan baku dari bahan alami seperti minyak kelapa sawit, minyak jarak, atau minyak biji kapuk.
Beragam campuran bahan nabati tersebut digunakan sebagai bahan bakar pengganti solar atau diesel biasa pada mesin diesel.
Oleh sebab itu, Biodiesel B50 terdiri dari campuran minyak nabati (tumbuhan) dan bahan bakar minyak jenis solar yang komposisinya terdiri dari 50 persen nabati (tumbuhan) dan juga 50 persen bahan bakar minyak jenis solar.
Saat ini SPBU sudah tersedia B40, di mana sebelumnya diterapkan B20 dan B30.
Sifat fisika dari Biodiesel B50
Mengutip solarindustri.com, bertambahnya proporsi biodiesel mengubah beberapa sifat bahan bakar yang relevan untuk performa mesin dan infrastruktur:
Viskositas: biodiesel umum-nya memiliki viskositas lebih tinggi daripada diesel mineral sehingga dapat mempengaruhi pola injeksi dan atomisasi.
Nilai kalor (Lower Heating Value): biodiesel memiliki energi per volume sedikit lebih rendah — artinya konsumsi volume bisa meningkat marginal untuk menghasilkan output tenaga yang sama.
Cold-flow properties (cloud point, pour point, CFPP): biodiesel seringkali lebih rentan membeku/keruh pada suhu rendah, sehingga di iklim dingin perlu mitigasi.
Stabilitas oksidasi & korosivitas: umur simpan dan kecenderungan pembentukan endapan/asam bisa meningkat jika kualitas feedstock dan proses pemurnian tidak terjaga.
Tantangan dan risiko implementasi
Kesiapan armada dan engine: Mesin tertentu, terutama unit lama, dapat membutuhkan penggantian seal, gasket, filter, atau penyesuaian manajemen bahan bakar. Perubahan viskositas dan sifat kimia dapat memperpendek interval servis jika tidak diantisipasi.
Infrastruktur penyimpanan & distribusi: tangki, pipa, dan pompa harus dievaluasi terhadap kompatibilitas bahan bakar bercampur biodiesel. Air dan mikroorganisme dalam tangki dapat mempercepat degradasi biodiesel.
Kualitas dan kontinuitas pasokan feedstock: fluktuasi kualitas FAME (mis. kadar asam tinggi, keberadaan air) berdampak langsung pada performa dan pemeliharaan.
Dampak pasar komoditas dan kebijakan fiskal: peningkatan permintaan biodiesel dapat mendorong naiknya harga CPO dan memengaruhi ekspor — pemerintah sering mengatur mekanisme levy/subsidi untuk menyeimbangkan dampak ini.
Ketahanan Energi
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan implementasi program Biodiesel 50 persen (B50) akan dimulai serentak pada 1 Juli 2026.
Kebijakan pencampuran solar murni dengan minyak sawit ini ditargetkan menghemat devisa negara Rp 157 triliun.
"Dan di 2026 ini dengan implementasi B50, Pak Kepala, diharapkan kita bisa menghemat devisa kita Ro157,28 triliun," ujar Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026).
Program mandatori B50 merupakan bagian dari visi ketahanan energi nasional yang diarahkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Terkait spesifikasi teknisnya, pemerintah akan menggunakan komposisi yang seimbang antara bahan bakar fosil dan nabati.
"Kita akan memproduksi solar campuran dari minyak sawit, FAME itu Fatty Acid Methyl Ester yang merupakan asam lemak, campuran kelapa sawit yang di-blend dengan solar murni dengan komposisinya 50:50. Makanya disebut dengan B50," jelas Dwi.
Menurutnya, kebijakan B50 tidak hanya bertujuan pada efisiensi anggaran, tetapi juga diproyeksikan mampu menyerap 2,2 juta tenaga kerja dan memangkas 46,72 juta ton emisi karbon. Langkah ini diambil sebagai respons atas tingginya kerentanan Indonesia terhadap pasokan bahan bakar dari luar negeri.
"Bapak Ibu, rekan-rekan semua juga mungkin bisa menyaksikan langsung merasakan langsung bagaimana ketergantungan impor ini sangat membuat kita rentan sekali, kita bergantung, maka dari itu inilah yang diharapkan Presiden kita bisa mandiri secara bertahap baik itu dari bensin kemudian juga solar, dilakukanlah pengurangan impor," pungkasnya.
Baca juga: Sistem Penyaluran BBM Bersubsidi Perlu Dibenahi, Hidayar Arsani Minta Transparan Libatkan Perbankan
Harga BBM Terbaru per 18 Juni 2026 di Seluruh Indonesia
Berikut rincian lengkap harga BBM Pertamina terbaru per 18 Juni 2026 sebagaimana dihimpun langsung dari situs resmi Pertamina Patra Niaga.
1. Provinsi Aceh
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
2. Free Trade Zone (FTZ) Sabang
Pertamax: Rp15.250
Dexlite: Rp21.550
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
3. Provinsi Sumatera Utara
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp 23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
4. Provinsi Sumatera Barat
Pertamax: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp21.650
Pertamina Dex: Rp25.900
Dexlite: Rp24.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
5. Provinsi Riau
Pertamax: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp21.650
Pertamina Dex: Rp25.900
Dexlite: Rp24.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
6. Provinsi Kepulauan Riau
Pertamax: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp21.650
Pertamina Dex: Rp25.900
Dexlite: Rp24.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
7. Free Trade Zone (FTZ) Batam
Pertamax: Rp15.400
Pertamax Turbo: Rp19.700
Pertamina Dex: Rp23.350
Dexlite: Rp21.850
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
8. Provinsi Jambi
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp 23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
9. Provinsi Bengkulu
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp 23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
10. Provinsi Sumatera Selatan
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp 23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
11. Provinsi Bangka Belitung
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp 23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
12. Provinsi Lampung
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp 23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
13. Provinsi DKI Jakarta
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamina Dex: Rp24.800
Dexlite: Rp23.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
14. Provinsi Banten
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamina Dex: Rp24.800
Dexlite: Rp23.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
15. Provinsi Jawa Barat
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamina Dex: Rp24.800
Dexlite: Rp23.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
16. Provinsi Jawa Tengah
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamina Dex: Rp24.800
Dexlite: Rp23.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
17. Provinsi DI Yogyakarta
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamina Dex: Rp24.800
Dexlite: Rp23.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
18. Provinsi Jawa Timur
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamina Dex: Rp24.800
Dexlite: Rp23.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
19. Provinsi Bali
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamina Dex: Rp24.800
Dexlite: Rp23.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
20. Provinsi Nusa Tenggara Barat
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamina Dex: Rp24.800
Dexlite: Rp23.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
21. Provinsi Nusa Tenggara Timur
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamina Dex: Rp24.800
Dexlite: Rp23.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
22. Provinsi Kalimantan Barat
Pertamax: Rp16.550
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
23. Provinsi Kalimantan Tengah
Pertamax: Rp16.550
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
24. Provinsi Kalimantan Selatan
Pertamax: Rp16.900
Pertamax Turbo: Rp21.650
Pertamina Dex: Rp25.900
Dexlite: Rp24.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
25. Provinsi Kalimantan Timur
Pertamax: Rp16.550
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
26. Provinsi Kalimantan Utara
Pertamax: Rp16.900
Pertamax Turbo: Rp21.650
Pertamina Dex: Rp25.900
Dexlite: Rp24.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
27. Provinsi Sulawesi Utara
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
28. Provinsi Gorontalo
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
29. Provinsi Sulawesi Tengah
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
30. Provinsi Sulawesi Tenggara
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
31. Provinsi Sulawesi Selatan
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
32. Provinsi Sulawesi Barat
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
33. Provinsi Maluku
Pertamax: Rp16.650
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
34. Provinsi Maluku Utara
Pertamax: Rp16.650
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
35. Provinsi Papua
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp21.200
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
36. Provinsi Papua Barat
Pertamax: Rp16.650
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
37. Provinsi Papua Selatan
Pertamax: Rp16.650
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
38. Provinsi Papua Pegunungan
Pertamax: Rp16.650
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
39. Provinsi Papua Tengah
Pertamax: Rp16.650
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
40. Provinsi Papua Barat Daya
Pertamax: Rp16.650
Pertamina Dex: Rp25.350
Dexlite: Rp23.500
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
(Bangkapos.com/Tribun Jabar/Tribunnews/ Kompas.com)
| Antrian Mengular di SPBU, Kapolres Bangka Kerahkan Tim Macan dan Intel Bongkar Praktek Pengerit BBM |
|
|---|
| Update Harga BBM 17 Juni 2026 di Seluruh Indonesia, Cek Jenis BBM yang Terpantau Naik |
|
|---|
| Update Harga BBM Hari Ini 16 Juni 2026 Seluruh Indonesia, Ini Jenis BBM yang Terpantau Naik |
|
|---|
| Update Harga BBM Hari Ini 14 Juni 2026 di Seluruh Indonesia, Ini 2 Jenis BBM Terpantau Naik |
|
|---|
| Harga BBM Jumat 12 Juni 2026 di Seluruh SPBU Indonesia, Ini Jenis BBM yang Terpantau Naik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260610-BBM-Non-Subsidi-yang-terpampang.jpg)