Idul Adha 2026
5 Khutbah Idul Adha 2026 Singkat Padat Lengkap Versi NU, Muhammadiyah dan Kemenag
Menyiapkan materi khutbah Idul Adha bukan hanya soal menyusun teks, tapi juga tentang pesan yang terkandung di dalamnya.
Ringkasan Berita:
- Khutbah akan disampaikan di depan jemaah usai pelaksanaan Shalat Idul Adha 2026
- Penting diketahui, menyiapkan materi khutbah Idul Adha bukan hanya soal menyusun teks, tapi juga tentang pesan yang terkandung di dalamnya
- Untuk itu, khutbah Idul Adha 2026 dapat menjadi sarana bagi para khatib untuk menyampaikan pesan moral tentang hikmah Idul Adha
BANGKAPOS.COM -- Sebentar lagi umat Islam akan melaksanakan Hari Raya Idul Adha 2026/1447 Hijriyah.
Berbagai persiapan telah dilakukan, termasuk para khatib yang kini mulai bersiap mengumpulkan materi khutbah.
Khutbah akan disampaikan di depan jemaah usai pelaksanaan Shalat Idul Adha 2026.
Penting diketahui, menyiapkan materi khutbah Idul Adha bukan hanya soal menyusun teks, tapi juga tentang pesan yang terkandung di dalamnya.
Untuk itu, khutbah Idul Adha 2026 dapat menjadi sarana bagi para khatib untuk menyampaikan pesan moral tentang hikmah Idul Adha.
Sebagai referensi, berikut ini 5 kumpulan teks khutbah Idul Adha 2026 yang telah dirangkum Bangkapos.com dari berbagai sumber mulai dari laman Majelis Ulama Indonesia, laman Nahdlatul Ulama, laman Ma'had 'Aly An-Nuur, laman Suara Muhammadiyah dan Kemenag Yogyakarta.
Baca juga: 5 Contoh Khutbah Idul Adha 2026: MUI, NU, Muhammadiyah, Kemenag Singkat Padat Menyentuh Hati
Tema mengenai keteladanan Nabi Ibrahim AS selalu menjadi tema utama yang tidak pernah kehilangan relevansinya dari masa ke masa.
Agar pesan yang disampaikan semakin kuat dan relevan, maka perlu dikaitkan dengan tantangan zaman hari ini sehingga terasa dekat dengan kehidupan jemaah.
# Khutbah Idul Adha Pertama
Judul: Mencari Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam Diri Manusia
Oleh: Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur
Salah satu pelajaran paling penting di hari raya Idul Adha adalah menelusuri jejak Nabi Ibrahim as, sosok yang teguh dalam iman dan total dalam berpasrah. Ketika ia bersedia mengorbankan Ismail demi perintah Allah, itu tidak semata ujian, tapi teladan tentang bagaimana menundukkan ego dan meletakkan cinta kepada Allah di atas segalanya. Maka, setiap insan beriman ditantang untuk mencari seberkas keteladanan itu dalam dirinya, mengalahkan nafsu, melepas keterikatan duniawi, dan berani memilih jalan taat meski berat.
Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, "Khutbah Idul Adha: Mencari Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Diri Manusia". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
KHUTBAH I
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ يَوْمَ الْأَضْحَى عِيدًا وَمَوْسِمًا لِلْخَيْرَاتِ وَالطَّاعَاتِ، وَتَكْفِيْرِ الذُّنُوْبِ وَالرَّفْعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا الْفَوْزَ يَوْمَ الْمَقَامَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumulah
Di awal khutbah hari raya Idul Adha ini, marilah kita tundukkan hati dan lafalkan syukur kepada Allah SWT, yang dengan rahmat-Nya, masih memberikan kita kesehatan dan umur panjang untuk bisa hadir kembali melaksanakan shalat sunah Idul Adha, di hari yang penuh sejarah, penuh teladan, dan penuh pengorbanan ini. Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabat, dan umatnya. Semoga kita dikumpulkan bersamanya di akhirat, dalam surga yang penuh rahmat dan nikmat. Amin ya rabbal alamin.
Selanjutnya, di hari yang mulia ini, saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT. Takwa yang tumbuh dari hati, jiwa, dan amal saleh yang ikhlas. Takwa sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim, yang siap meninggalkan apa pun demi menjalankan perintah Tuhannya. Hingga apa yang ia lakukan tidak hanya menjadi sekadar cerita saat ini, tetapi menjadi panggilan untuk ditanamkan dalam laku hidup kita semua.
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah
Hari raya Idul Adha tidak sekadar hari raya biasa. Ia merupakan peringatan tentang kesabaran paling tinggi, ketika taat pada perintah Allah harus rela mengorbankan anak sendiri. Dalam kisahnya, tepat pada hari ini, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail. Disembelih oleh tangannya sendiri, di hadapan matanya, dan dengan kesadaran penuh sebagai bentuk patuh pada perintah-Nya.
Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai salah satu kisah kesabaran yang sangat luar biasa untuk kita teladani bersama. Allah swt berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya, "Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.'" (QS Ash-Shaffat, [37]: 102).
Dalam potongan kisah tersebut, kita menyaksikan dua sosok luar biasa, (1) ayah yang berserah penuh kepada Allah dengan mengorbankan putranya, dan (2) anak yang menerima takdir dengan sabar dan ikhlas. Nabi Ibrahim tidak hanya menunjukkan ketaatan sebagai seorang hamba, tapi juga keberanian sebagai seorang ayah yang sanggup menundukkan rasa cintanya kepada sang anak demi patuh kepada Tuhannya. Begitu juga Ismail, keteguhan hatinya memperlihatkan bahwa jiwanya tidak goyah sekalipun diperintah untuk menyerahkan nyawanya.
Namun juga perlu kita ketahui, bahwa apa yang dilakukan keduanya tidak sekadar hubungan antara ayah dan anak biasa. Keduanya adalah manusia pilihan yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Maka keteladanan ini bukanlah ajakan agar orang tua bisa meminta apa pun pada anaknya, atau agar anak selalu menuruti tanpa berpikir. Karena pelajaran besarnya adalah tentang kesungguhan iman ketika perintah dari Allah datang dengan jelas, dan pengorbanan terhadap ego pribadi ketika kebenaran sudah nyata.
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Ketika Nabi Ibrahim telah membaringkan putranya, dan pisau telah siap di tangannya, serta Nabi Ismail telah ridha dan pasrah pada perintah Allah. Pada saat itulah, datang seruan dari Allah swt, bahwa semua itu hanyalah ujian keimanan, dan tidak benar-benar akan mengambil nyawa sang anak. Kemudian Allah menggantikan Ismail dengan seekor hewan sembelihan yang agung. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)
Artinya, "Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar." (QS Ash-Shaffat, [37]: 105-107).
Inilah ruh dari Idul Adha, yaitu tunduk patuh dan menerima pada apa yang Allah tetapkan sebagaimana yang tercermin dalam diri Nabi Ibrahim, serta ikhlas dan sabar sebagaimana dalam diri Nabi Ismail. Ibrahim tidak hanya semata menyembelih, tapi melepas rasa kepemilikan yang berlebihan, menyembelih ego, menyembelih rasa takut yang menghalanginya dari total patuh kepada Allah.
Lantas, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini? Pelajarannya adalah menerima terhadap semua takdir dan ketentuan Allah dengan ikhlas dan percaya, bahwa semua itu benar-benar yang terbaik bagi kita semua, tanpa mengeluh, tanpa marah, dan tanpa memberontak. Karena ketika Ibrahim dan Ismail pasrah dan menerima semuanya, apa yang terjadi? Allah memberikan ganti dari ujian tersebut dan tidak menjadikan Ismail sebagai kurban.
Pelajaran dan penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad Mutawalli asy-Syarawi, dalam kitab Tafsir wa Khawathirul Umam, jilid IV, halaman 417, ia mengatakan:
وَتُعَلِّمُنَا هَذِهِ الْوَاقِعَةُ أَنَّكَ إِذَا مَا جَاءَ لَكَ قَضَاءٌ مِنَ اللهِ إِيَّاكَ أَنْ تَجْزَعَ، إِيَّاكَ أَنْ تَسْخَطَ، إِيَّاكَ أَنْ تَغْضَبَ، إِيَّاكَ أَنْ تَتَمَرَّدَ، لِأَنَّكَ بِذَلِكَ تُطِيْلُ أَمَدَ الْقَضَاءِ عَلَيْكَ، وَلَكِنْ سَلِّمْ لِقَضَاءِ اللهِ فَيُرْفَع هَذَا الْقَضَاءُ، لِأَنَّ الْقَضَاءَ لاَ يُرْفَعُ حَتَّى يُرْضَى بِهِ
Artinya, "Peristiwa ini mengajarkan kepada kita, bahwa jika datang suatu ketetapan dari Allah kepadamu, maka janganlah engkau gelisah, jangan marah, jangan murka, dan jangan memberontak. Karena jika engkau melakukan itu, itu hanya akan memperpanjang masa ketetapan itu atas dirimu. Akan tetapi, berserah dirilah pada ketetapan Allah, niscaya ketetapan itu akan diangkat. Sebab, suatu ketetapan tidak akan diangkat hingga diridhai oleh yang menerimanya."
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Dengan demikian, maka Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita arti sejati dari cinta yang tidak melampaui cinta kepada Allah. Nabi Ismail mengajarkan kepada kita makna kesabaran, keikhlasan, dan ridha dalam menerima takdir. Inilah keteladanan yang kita cari dalam diri manusia, yaitu menjadi hamba yang patuh tanpa syarat, dan menjadi manusia yang teguh saat diuji dengan pengorbanan.
Mari kita pulang dari shalat Idul Adha ini dengan membawa semangat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ke dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita sembelih ego kita yang sombong, kita tebas rasa tamak dan dengki, dan kita gantikan dengan ketundukan, keikhlasan, dan ketakwaan yang sejati. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berserah diri kepada-Nya dalam segala keadaan, dan semoga ibadah kita diterima sebagaimana Allah menerima pengorbanan Ibrahim dan Ismail.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيّاً وَحِينَ تُظْهِرُونَ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
ٱلْحَمْدُ للهِ الَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ ٱلْأُضْحِيَةَ تَذْكِرَةً بِفِدَاءِ خَلِيلِهِ، وَجَعَلَ أَيَّامَ ٱلنَّحْرِ مَوَاسِمَ قُرْبَاتٍ وَرَفْعَاتٍ فِي سَبِيلِهِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ، وَدَعَا بِدَعْوَتِهِ، وَتَأَسَّى بِسُنَّتِهِ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. فَانْظُرُوْا أَنَّ أَعْظَمَ الْقُرْبَاتِ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ مَا قُدِّمَ فِيهَا مِنْ دَمٍ يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُهُ، وَمَا طَابَ فِيهَا مِنْ نَفْسٍ تُرِيدُ رِضَاهُ فَأَكْرِمُوا هَذِهِ الْمَوَاسِمَ، فَإِنَّهَا أَيَّامُ رَحْمَةٍ وَنَفَحَاتٍ وَتَجَلِّيَاتٍ مِنْ عِنْدِهِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Sumber: Laman Nahdlatul Ulama
# Khutbah Idul Adha Kedua
Judul: Qurban dan Pembentukan Umat yang Unggul
Oleh: KH Sholahudin Al Aiyub, Ketua MUI Bidang Ekonomi Syariah dan Halal
KHUTBAH I
الله أكبر (×9)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أكبرُ وللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للهِ حَاكِمَ الْحُكَّامِ، جَاعِلِ النُّوْرِ وَالظَّلَامِ، وَجَعَلَ هَذَا الْيَوْمِ عِيْدًا لِلْإِسْلَامِ، وَحَرَّمَ عَلَيْنَا الصِّيَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اَلَّذِى أَمَرَناَ بِذَبِيْحَةِ الْقُرْباَنِ، اِتِّبَاعًا لِسَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ الْأَنَامِ وَمِصْبَاحُ الظَّلَامِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ، صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ عَلَى مَمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَيَّامِ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ وَأَطِيْعُواهُ وَكَبِّرُوْهُ تَكْبِيْرًا.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.
Kaum muslimin wal muslimat, 'aidin wal 'aidat rahimakumullah.
Sejak kemarin terdengar gema takbir, tahmid, dan tahlil menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha yang mubarak. Syukur Alhamdulillah, kita semua dapat berjumpa kembali dengan Hari Raya ini dalam keadaan sehat wal afiat. Langkah kaki kita menghadiri shalat ied ini merupakan bukti bahwa kita masih dikaruniai nikmat kesehatan dan keimanan, dua nikmat yang sangat besar sekali nilainya, tanpa bisa digantikan oleh selainnya. Semoga nikmat tersebut tetap kita peroleh sampai nyawa berpisah dari badan ini. Amin ya rabbal alamin.
Hari ini kita memasuki Hari Raya Idul Adha. Hari Raya ini dikatakan dengan Idul Adha karena pada hari raya ini dan tiga hari sesudahnya, atau disebut dengan Hari Tasyrik, kita semua diserukan untuk memotong hewan qurban yang merupakan bentuk ketundukan dan kepasrahan kita kepada Allah SWT Dzat Yang Kuasanya tiada terbilang dan tiada terhingga. Allah SWT berfirman:
فصل لربك وانحر
"Sembahyanglah kamu kepada Rabb-mu dan berqurban-lah" (QS. Al-Kautsar: 2)
Menurut Mazhab Imam Syafi'i, memotong hewan qurban itu hukumnya sunnah muakkadah, artinya sunnah yang dikuatkan, meskipun ada imam madzhab yang mewajibkannya. Meskipun hukumnya sunnah muakkadah, namun bagi orang mampu yang tidak berqurban maka Rasulullah mengingatkan dengan keras:
مَنْ كَانَ لَهُ سِعَةٌ فَلَمْ يُضْحِ فَلْيَمُتْ إِنْ شَاءَ يَهُوْدِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا
"Barangsiapa yang mempunyai kemampuan (berqurban) tetapi tidak melakukannya maka silakan mati dalam keadaan yahudi atau nasrani." Dalam riwayat lain:
مَنْ كَانَ لَهُ سِعَةٌ فَلَمْ يُضْحِ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
"Barangsiapa yang mempunyai kemampuan (berqurban) tetapi tidak melakukannya maka janganlah mendekati tempat shalat kami."
Oleh karena itu, sudah pada tempatnya kita sebagai orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya untuk memenuhi panggilan berqurban tersebut.
Kaum muslimin wal muslimat, 'aidin wal 'aidat rahimakumullah.
Pelaksanaan qurban yang dilakukan oleh umat Islam, selain sebagai bentuk kepatuhan dan kepasrahan kepada Allah serta sebagai upaya pendekatan diri kepada-Nya (taqarrub ilallah), juga ada hikmah yang berdampak kemashlahatan bagi umat manusia. Di antara hikmah yang bisa kita petik adalah:
Meneladani kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihimas salam dalam menerima cobaan dan ujian
Menumbuhkan sifat kedermawanan, saling membantu (ta'awun), saling berkasih sayang (tarahum), dan terbinanya solidaritas sosial di kalangan umat Islam
Menumbuhkan semangat berkorban di kalangan kaum muslimin pada khususnya. Hikmah pertama, yakni meneladani kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihimas salam dalam menerima cobaan dan ujian. Sebagaimana diceritakan dalam kitab suci Alquran bahwa Nabi Ibrahim 'alaihis salam belum dikaruniai seorang anak sampai usianya lanjut sehingga beliau sangat ingin dikaruniai seorang anak dan senantiasa berdoa agar keinginan tersebut dikabulkan oleh Allah Ta'ala:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ
"Wahai Tuhanku berilah aku putra yang shalih" (QS as-Shaffat: 100)
Akhirnya Allah SWT menjawab dan mengabulkan doa beliau setelah sekian lama. Namun setelah beliau memperoleh seorang putra dan putranya itu berumur antara 9-11 tahun, Allah SWT memintanya kembali untuk dijadikan qurban sebagai persembahan. Tidak mudah bagi seseorang yang sudah sekian lama mendambakan seorang anak, tapi setelah anak itu lahir dan di usia yang sedang lucu-lucunya, diperintahkan untuk mengorbankannya. Secara manusiawi perintah tersebut sulit sekali untuk dipenuhi.
Tapi Nabi Ibrahim tidaklah demikian. Perintah tersebut diterimanya dengan penuh ketaatan dan kepasrahan. Sikap tersebut muncul karena keimanan yang total kepada Allah Ta'ala, bahwa semua perintah-Nya tidak lain adalah untuk kemaslahatan umat manusia. Bahwa semua yang ada pada diri manusia tidak lain pada hakekatnya merupakan milik Allah. Apabila Allah memerintahkan untuk mengorbankannya, maka pada hakekatnya itu adalah mengembalikan sesuatu yang dititipkan ke umat manusia dikembalikan pada pemilik hakikinya.
Sebelum melaksanakan perintah tersebut, Nabi Ibrahim merundingkan pada anaknya yaitu nabi Ismail. Sebuah contoh mulia bagaimana orang tua memusyawarahkan dengan anaknya terhadap sesuatu keputusan yang akan berakibat dan berdampak pada anak tersebut.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Maka tatkala anak itu sampai usia remaja, Ia berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS ash-Shaffat : 102)
Sungguh sangat mengagumkan seorang ayah yang sanggup menjalankan perintah mengorbankan anak satu-satunya yang sudah didambakan kelahirannya sekian lama. Lebih mengagumkan lagi adalah sikap anak tersebut yang penuh keyakinan dan kesabaran mendorong ayahnya untuk menjalankan perintah tersebut. Meskipun itu artinya mengorbankan nyawanya.
Ketika kepasrahan dan ketundukan yang luar biasa dari nabi Ibrahim dan nabi Islamil 'alaihimas salam dalam menerima perintah tersebut, rupanya itu merupakan ujian dari Allah kepada mereka berdua. Maka tatkala mereka siap untuk melaksanakan perintah itu, Allah menggantinya dengan seekor domba yang besar.
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)
"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS ash-Shaffat: 103-107)
Kepasrahan dan ketundukan nabi Ibrahim dan nabi Ismail 'alaihimas salam dalam menerima dan menjalankan perintah Allah SWT merupakan contoh terbaik yang patut menjadi teladan kita umat Islam. Saat ini banyak sekali umat Islam yang seakan tidak peduli dengan perintah Allah SWT di dalam ajaran agama.
Perintah Allah SWT dipilah dan dipilih untuk ditaati dan diimani. Mana perintah yang sesuai dengan kepentingan dan keinginannya, maka ia akan menjalankan perintah tersebut. Tapi jika sebaliknya, ia menganggap angin lalu saja perintah tersebut. Kepasrahan dan ketundukan total kepada Allah Dzat Yang Mahakuasa saat ini merupakan sesuatu yang sulit ditemukan di kalangan umat Islam.
Oleh karena itu, melalui momentum Idul Adha ini saya mengajak kita semua umat Islam untuk meneladani nabi Ibrahim dan nabi Ismail dalam menerima dan menjalankan perintah Allah SWT, yaitu dengan penuh kepasrahan dan ketundukan. Karena semua perintah Allah apabila dilaksanakan secara benar pasti akan membawa kemanfaatan dan kemaslahatan pada orang yang menjalankan tersebut.
الله أكبر (×3) لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, 'aidin wal 'aidat rahimakumullah.
Pesan ibadah qurban yang kedua adalah menumbuhkan sikap ta'awun (saling membantu antar sesama umat manusia), khususnya di kalangan umat Islam. Penyembelihan hewan qurban jangan hanya dilihat semata-mata dari aspek penyembelihannya saja. Tapi juga harus dilihat bahwa penyembelihan itu merupakan simbol perilaku kedermawanan dan solidaritas sosial di antara umat manusia. Sesuatu yang menjadi salah satu pilar ajaran Nabi SAW.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَآدِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَى ]متفق عليه[
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hubungan cinta kasih dan kasih sayang satu sama lain seperti satu jasad yang apabila ada salah satu bagiannya sakit maka seluruh tubuh itu akan merasakan sakit." (HR al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW telah mencontohkan pentingnya solidaritas tersebut, salah satunya melalui upaya mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Orang-orang Anshar bersedia memberikan sebagian bahkan setengah dari hartanya kepada kaum Muhajirin yang kebetulan ketika mereka pindah dari Makkah ke Madinah tidak sempat membawa apa-apa. Bahkan, kaum Anshar cenderung lebih mementingkan keperluan kaum Muhajirin daripada keperluan mereka sendiri. Sikap tersebut mendapat pujian dari Allah seperti disebut dalam Alquran surat al-Hasyr ayat 9:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)".
Ini merupakan gambaran umat Islam periode pertama (as-sabiqun al-awwalun) yang memiliki solidaritas dan kasih sayang yang amat tinggi. Sikap seperti ini sangat dibutuhkan pada masa sekarang. Misalnya menyisihkan sebagian penghasilan untuk didonasikan kepada mereka yang membutuhkan, sesuai sabda Nabi SAW:
وَمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلُ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنَ لاَ زَادَ لَهُ ]رواه مسلم
"Barangsiapa yang memiliki kelebihan bekal hidup maka hendaklah mendonasikan kepada orang yang tidak punya bekal hidup". (HR Muslim)
الله أكبر (×3) لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, 'aidin wal 'aidat rahimakumullah.
Pesan ibadah qurban yang ketiga adalah menumbuhkan semangat berkorban, khususnya di kalangan kaum muslimin. Tanpa adanya pengorbanan tidak mungkin dapat mencapai sesuatu yang diinginkan. Kemerdekaan negara Indonesia tercinta ini diperoleh tidak lain adalah merupakan hasil dari pengorbanan para pahlawan, yang telah rela mengorbankan jiwa dan raganya dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita yang hidup menikmati kemerdekaan tersebut menjaga dan merawat dengan baik negara ini. Kita harus mau berkorban demi kemajuan negara ini. Tantangan dan ujian seberat apapun hendaknya tidak akan menggoyahkan semangat berkorban demi terjaganya negara tercinta ini. Di atas pundak kita umat Islam Indonesia, terpikul dua tanggung jawab sekaligus yaitu tanggung jawab keislaman (Mas-uliyah Islamiyah) dan tanggung jawab kebangsaan (Mas-uliyah Wathaniyah). Dua tanggungjawab yang tidak bisa dipisahkan antara satu dan lainnya.
Dengan mengedepankan semangat pengorbanan, sebagaimana dipetik dari hikmah iedul adha, insyaallah kita umat Islam dapat memikul tanggungjawab tersebut. Amin ya Rabbal alamin.
إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ المْنَاَّنِ، وَبِهِ يَهْتَدِي الْمُهْتَدُونَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ منِّيْ وَمِنْكُمْ تَلاَوَتَهُ إِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
KHUTBAH KEDUA
اللهُ أَكْبَرُ، (x7 ) لاَ إلِهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرْ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَاماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرْ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرْ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمْ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنْ، وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنْ.
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللّهُمَّ انْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْفَاجِرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. آمِيْنَ يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Sumber: Laman Majelis Ulama Indonesia
# Khutbah Idul Adha Ketiga
Judul: Iman Yang Tunduk Dan Akal Yang Tercerahkan
Oleh: Ashabul Yamin S.Pd, Alumnus Ma'had Aly An-Nuur
KHUTBAH I
اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
إِنَّ الْـحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
نَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُوْا بِهَا النَّجَاةَ مِنْ عَذَابِهِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْقَائِمُ بِأَمْرِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالشُّكْرِ وَهَذَا الدِّيْنِ مَتِيْنٌ فَأَوْثِقُوْا عُرَاهُ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ
فَأَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral muslimin jama'ah shalat idul adha yang dirahmati Allah.
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Dengan kasih sayang dan karunia-Nya yang tak terhingga, kita kembali dipertemukan di pagi yang mulia ini-hari yang insya Allah penuh berkah, penuh makna, dan penuh syukur. Hari Idul Adha 1447 H, hari raya umat Islam kedua setelah Idul Fitri.
Alhamdulillah, dengan izin Allah, kita semua dapat hadir di tempat ini dalam keadaan sehat, damai, dan dalam limpahan nikmat yang tak terhitung dalam rangka menunaikan salah satu sunnah mulia Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: merayakan Idul Adha dan menunaikan ibadah udhiyah sebagai bentuk taqarrub kepada Allah, dimulai hari ini, kemudian dilanjutkan 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, insya Allah.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, suri teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan.
Semoga pula tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat yang setia mengikuti jalan hidup beliau hingga hari akhir kelak.
Ma'asyiral Muslimin, Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,
Hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1447 H memori sejarah kita membuka dirinya kembali, membawa pada kenangan ribuan tahun lalu. Pagi ini kita kenang lagi manusia-manusia agung yang telah menciptakan arus terbesar dalam sejarah manusia, membentuk arah kehidupan, serta membuat kita semua berkumpul di tempat ini untuk shalat dan berdoa bagi mereka.
Pagi ini kita agungkan lagi nama-nama besar itu: Nabi Ibrahim, Ibunda Hajar dan anaknya Nabi Ismail. Mari kita bayangkan, bahwa lebih dari 4.000 tahun lalu tiga manusia agung itu (Ibrahim, Hajar dan Ismail) berjalan kaki sejauh lebih dari 2.000 km (atau sejauh Makassar-Jakarta) dari negeri Syam (yang sekarang menjadi Syria, Palestina, Yordania dan Lebanon) menuju jazirah tandus, Makkah al-Mukarramah.
Bayangkan, bagaimana mereka memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa. Bagaimana pula Ka'bah yang pada awalnya hanya dithawafi oleh tiga manusia agung itu. Hingga hari ini, jutaan manusia mengunjungi kota Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, dan mereka berasal dari berbagai penjuru dunia.
Jika kita buka lembar sejarahnya, Mekkah pada zaman Nabi Ibrahim adalah padang tandus yang panas, gersang, dan sepi tanpa penghuni. Kondisinya tergambar dalam doa Nabi Ibrahim ketika meninggalkan Ibunda Hajar dan Nabi Ismail:
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)
Pagi ini kita kenang lagi perjuangan 4 milenium lalu itu. Dan akan terus kita kenang hingga riwayat kehidupan berakhir saat kiamat datang kelak.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral Muslimin sidang shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Perayaan Idul Adha yang kita laksanakan hari ini sejatinya bukan hanya rutinitas tahunan yang selalu dilewati tanpa makna. Ia adalah pengingat yang memanggil memori ingatan kita pada peristiwa ribuan tahun yang lalu. Peristiwa yang menjadi penentu arah masa depan peradaban manusia.
Untuk apa? untuk kita ambil pelajaran penting tentang arti sebuah pengorbanan.
Sebuah pengorbanan dari tiga manusia agung, Nabi Ibrahim, istrinya yaitu Ibunda Hajar, dan anaknya Nabi Ismail. Pengorbanan yang melampaui batas nalar akal manusia.
Dalam pengorbanan ini ada pergulatan antara hati dan logika. Antara keinginan pribadi dan kepatuhan kepada perintah Allah subhanahu wa ta'ala.
Mari kita bayangkan sekali lagi, bagaimana mungkin seorang bapak diperintah untuk menyembelih anaknya? Akal sehat mana di dunia ini yang membenarkan perbuatan itu. Hati nurani mana yang tidak tersentak dan menggigil membayangkan sebuah peristiwa aneh dan janggal tersebut.
Kata Nabi Ibrahim kepada anaknya:
قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ
"(Yaa bunayya -panggilan sayang) Wahai Anakku sayang, tadi malam Ayah bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih dirimu, apa pendapatmu, Nak?"
Awal menerima perintah itu Nabi Ibrahim ragu-ragu, namun mimpi itu terulang sebanyak tiga kali, dan akhirnya beliau benar-benar yakin bahwa itu adalah perintah dari Allah.
Nabi Ibrahim 'alaihissalam di satu sisi mengimani bahwa mimpi menyembelih anaknya adalah kebenaran wahyu, tapi di sisi lain, dia akan melihat anaknya terputus urat lehernya disembelih oleh tangannya sendiri.
Betapa getirnya perasaan itu, membayangkan tubuh kecil yang pernah dipeluk dalam rindu dan dijaga dengan penuh kasih sayang, kini harus ia rebahkan sendiri ke tanah, lalu mengayunkan pisau ke lehernya.
Ini ujian tidak hanya menantang akal sehat, tetapi juga mengguncang hati manusia paling kuat sekalipun.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral Muslimin sidang shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Tapi akhirnya Nabi Ibrahim memenangkan keimanannya. Betapa pun tidak masuk di akal perintah itu, dia hiraukan. Siapapun yang menolak, bahkan setan sekalipun, akan beliau lawan demi menjalankan perintah Allah tersebut.
Apa kira-kira respons Nabi Ismail ketika disampaikan padanya perintah tersebut?
قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
"Ayah, kerjakan apa yang Allah perintah kepada Ayah, Insya Allah aku sabar dengan perintah itu." Tidak ada sedikitpun bantahan, tidak ada keberatan, kalau itu perintah Allah, apapun konsekuensinya harus dilaksanakan.
Ini bukan sekedar ketaatan biasa. Ini adalah puncak dari pemahaman tentang hidup dan makna pengabdian. Bagi Nabi Ismail, hidup bukan mutlak milik dirinya. Hidup adalah titipan, jika Sang Pemilik memintanya kembali maka tidak ada alasan untuk tidak menyerahkannya.
Kepasrahan Nabi Ismail adalah cermin dari jiwa yang telah merdeka dari rasa memiliki, dan benar-benar berserah kepada kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Bukan karena takut dan pasrah, tapi karena Nabi Ismail paham betul, ini adalah perintah Allah, dan perintah ini harus dikerjakan apapun resikonya, termasuk jika dengan itu nyawa sendiri harus menjadi taruhannya.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral Muslimin sidang shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Lalu ketika perintah untuk menyembelih Nabi Ismail disampaikan oleh Nabi Ibrahim kepada istrinya ibunda Hajar, bayangan kita, kira-kira apa reaksinya?
Reaksi normal seorang dari ibu yang begitu mencintai buah hatinya. Buah hati yang kehadirannya ditunggu dengan penuh harap dalam penantian yang panjang. Dalam munajat penuh cucuran air mata di malam-malam sepi. Karena berharap betul dikarunai Allah seorang keturunan shaleh.
Reaksi wajar ibunda Hajar pasti akan menganggap suaminya tidak waras. Tapi kejadian itu tidak pernah tertulis oleh tinta emas sejarah.
Justru yang terjadi adalah sebaliknya, Ibunda Hajar ridha dengan perintah itu. Dengan sepenuh hati, ia mempersilakan sang suami untuk melaksanakan perintah Allah menyembelih sang buah hati.
Urusan gejolak yang membuncah di lubuk hati tak perlu ditanyakan, Ibunda Hajar juga manusia, seorang ibu sebagaimana ibu-ibu pada umumnya. Banjir linangan air mata, sesak di dada, tentu juga dirasakan.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral Muslimin sidang shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Namun pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih, Allah menggantinya dengan seekor domba, yang kemudian menjadi bagian dari syari'at Islam berupa kurban yang dilaksanakan setiap tahunnya pada hari Idul Adha. Seperti yang akan kita laksanakan insya Allah.
Perintah itu ternyata hanya ujian keimanan bagi Nabi Ibrahim, ibunda Hajar, dan anaknya Nabi Ismail 'alaihissalam. Tiga manusia agung itu lulus dari ujian. Ujian demi ujian, cobaan demi cobaan dilewati dengan sepenuh keyakinan dan keimanan.
Ma'asyiral Muslimin sidang shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Salah satu pelajaran besar dari kisah Nabi Ibrahim 'alaihis-salam adalah bahwa dalam perkara ibadah, spirit utamanya adalah iman (ketundukan).
Bukan untuk dipertanyakan logikanya, atau ditimbang-timbang hikmah dan maslahatnya, jika terlihat ada manfaat, dijalankan, jika tidak, ditinggal. Seperti itu bukan ruh ibadah yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Ibadah justru akan kehilangan makna apabila dasarnya hanya logika atau perhitungan manfaat.
Memang benar, setiap perintah Allah sarat dengan hikmah dan maslahat. Sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah
فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ مَبْنَاهَا وَأَسَاسَهَا عَلَى الْحُكْمِ وَمَصَالِحِ الْعِبَادِ فِي الْمَعَاشِ وَالْمَعَادِ، وَهِيَ عَدْلٌ كُلُّهَا، وَرَحْمَةٌ كُلُّهَا، وَمَصَالِحُ كُلُّهَا، وَحِكْمَةٌ كُلُّهَا
"Sesungguhnya syariat itu dibangun dan didasarkan atas dasar hikmah dan kemaslahatan bagi para hamba, baik di dunia maupun di akhirat. Syariat secara keseluruhan adalah keadilan, rahmat, kebijaksanaan, dan maslahat."
Namun demikian, tidak semua hikmah selalu dapat dijangkau oleh akal manusia. Ada kalanya perintah Allah tampak "ganjil" di mata logika, tetapi justru di situlah letak ujian keimanannya.
Misalnya, Shalat; kenapa harus lima waktu? Kenapa jumlah rakaatnya berbeda-beda? Kenapa juga harus menghadap kiblat, padahal Allah Maha Melihat ke mana pun arah kita?
Puasa, kenapa menahan makan, minum, dan syahwat di siang hari, padahal itu semua halal di waktu lain?
Kemudian Thawaf, mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali berlawanan arah jarum jam-apa rahasianya, kenapa harus seperti itu?
Demikian pula, dengan penyembelihan hewan kurban, kenapa harus menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu, dan tidak pada waktu yang lain? Dan lain sebagainya.
Semua ini tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh akal. Tapi sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap ibadah memiliki makna yang dalam dan dampak yang besar dalam kehidupan, meskipun tak selalu tampak di permukaan. Karena itu, sikap terbaik seorang hamba adalah tunduk dan yakin, bahwa setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan, meski belum kita pahami sepenuhnya.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamdu. Ma'asyiral Muslimin sidang shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Lalu, di mana letak fungsi akal? Bukankah akal juga merupakan anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia sebagai pembeda dari makhluk lainnya?
Menarik untuk menyimak apa yang disampaikan oleh Imam asy-Syathibi dalam kitabnya al-Muwafaqat, jilid 2, hlm. 513:
ٱلْأَصْلُ فِي ٱلْعِبَادَاتِ بِٱلنِّسْبَةِ إِلَى ٱلْمُكَلَّفِ ٱلتَّعَبُّدُ دُونَ ٱلِٱلْتِفَاتِ إِلَى ٱلْمَعَانِي، وَأَصْلُ ٱلْعَادَاتِ ٱلِٱلْتِفَاتُ إِلَى ٱلْمَعَانِي
"Hukum asal dalam ibadah bagi seorang mukallaf adalah bersifat ta'abbudi (murni penghambaan), tanpa memperhatikan makna-makna (rasional) nya. Sedangkan hukum asal dalam kebiasaan (muamalah dan adat) adalah memperhatikan makna dan tujuan yang terkandung di dalamnya."
Di sini, Imam asy-Syathibi menjelaskan dengan jelas hubungan antara iman dan akal. Dalam urusan tata interaksi sosial serta relasi antar manusia, akal memang penting. Dalam hal ini, bahkan umat Islam dituntut untuk mendayagunakan secara maksimal akalnya untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Jika tidak, maka umat akan tertinggal dan hanya menjadi bulan-bulanan peradaban lain.
Lihatlah kemajuan pesat ilmu pengetahuan teknologi hari ini. Jauh berbeda dengan apa yang ada di zaman Nabi. Ambil contoh, penggunaan internet untuk menyebarkan dakwah, aplikasi seluler Al-Qur'an, atau kemajuan di bidang kedokteran yang menyelamatkan banyak nyawa.
Apakah semua inovasi itu dilarang dalam Islam? Tentu saja tidak sama sekali, bahkan sangat dianjurkan dengan tetap memperhatikan aturan Islam. Umat ini sangat membutuhkan individu-individu yang menguasai teknologi dan sains agar tidak hanya menjadi konsumen pasif di tengah derasnya arus peradaban, melainkan menjadi agen perubahan dan kontributor.
Namun demikian, sekali lagi, dalam konteks ibadah, fondasi utamanya adalah iman. Dengan kata lain, akal berfungsi untuk memahami kehidupan, sedangkan iman berperan dalam menundukkan diri sepenuhnya dalam pengabdian.
Oleh karena itu, pada momentum bulan Dzulhijjah yang penuh berkah ini, marilah kita belajar menempatkan iman dan akal secara proporsional.
Dalam ibadah, iman seyogyanya harus di garda terdepan, sementara akal mengikuti dari belakang dan menopangnya. Hal ini dikarenakan tidak semua perintah Allah dapat dipertimbangkan dengan logika, seperti yang terbukti pada perintah Allah kepada keluarga Nabi Ibrahim.
Mari gunakan akal untuk memahami, tapi jangan menjadikan akal sebagai syarat untuk taat kepada syari'at. Karena iman yang sejati adalah ketika kita tetap tunduk pada syariat, meski hikmahnya belum dipahami. Wallahu a'lam bishawab.
Demikian Khutbah Idul Adha 1447 H pada kesempatan mulia ini.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآياَتِ وِالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
KHUTBAH KEDUA
اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلا
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ
اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَقِرَاءَتَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَسْبِيْحَنَا وَتَهْلِيْلَنَا وَتَمْجِيْدَنَا وَتَحْمِيْدَنَا وَخُشُوْعَنَا يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العَالَمِيْن
إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر
Sumber: Laman Ma'had 'Aly An-Nuur
# Khutbah Idul Adha Keempat
Judul: Memetik Pilar Islam Berkemajuan dari Kisah Nabi Ibrahim
Oleh: Prof Dr H Dadang Kahmad, MSi, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SwT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita di pagi yang indah ini bisa berkumpul bersama menikmati hangatnya sinar mentari, dan segarnya udara di pagi sambil mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai ekspresi mengagungkan Ilahi Robbi. Dan melaksanakan shalat sunah dua rakaat Idul Adha sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Idul Adha adalah momen penting dimana kita diingatkan kembali atas kisah pengorbanan Nabi Ibrahim 'alaihi salam bersama putranya, Nabi Ismail 'alaihi salam. Sebuah kisah yang begitu luar biasa, yang menyentuh kalbu dan jiwa, peristiwa yang jarang bisa dilaksanakan oleh manusia biasa. Ayah dan anak keduanya kompak menunjukkan ketundukan yang sempurna kepada Allah Rabb al-'Alamin. Nabi Ibrahim menunjukkan keberanian luar biasa untuk melaksanakan perintah Allah, meskipun itu berarti harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintai yaitu anak kesayangannya. Dan di sisi lain, kita juga kagum kepada Nabi Ismail as yang juga menunjukkan ketaatan yang luar biasa kepada ayah dan kepada Tuhannya walaupun harus mengorbankan dirinya.
Kisah tersebut diabadikan Allah dalam Al-Qur'an surat as-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
"Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar."
Nabi Ibrahim adalah figure bapak yang taat kepada Tuhan tetapi menghormati pendapat orang lain. Beliau berjiwa demokratis mengajak bermusyarah dengan putranya untuk minta pendapatnya. Begitu pula sang anak sama sama punya keimanan yang tinggi menyatakan kesediannya, sehingga terjadi harmoni dalam melaksanakan perintah Tuhan. Tidak ada paksaan dalam beragama.
Kisah tersebut di atas sangat menarik untuk diambil pelajaran penting dalam keberagamaan kita di masa kini. Keberagamaan harus bertumpu pada kesadaran penuh akan nilai-nilai spiritual. Nabi Ibrahim adalah teladan keberagamaan yang tidak hanya menitikberatkan ibadah ritual, tetapi juga keberanian moral, keikhlasan, dan kepatuhan yang teguh kepada perintah Tuhan.
Oleh karena itu, dalam kesempatan yang baik ini, khatib akan mengemukakan beberapa poin yang dapat kita ambil sebagai ibrah dari kisah nabi Ibrahim dan Ismail. Dimana keberagamaan keduanya bisa dijadikan sebagai model keberagamaan Islam Berkemajuan.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Yang pertama adalah keikhlasan dalam beribadah: Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa segala bentuk ibadah kita harus dilandasi oleh keikhlasan. Tidak ada pamrih dalam beribadah, hanya semata-mata mencari ridha Allah SwT. Sebagaimana Firman Allah surat al-Bayyinah
وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ
Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS al-Bayyinah ayat 5)
Ibrah yang kedua adalah keberanian menghadapi tantangan. Islam mengajarkan umatnya untuk terus bergerak maju, menghadapi segala tantangan dengan keberanian dan keteguhan hati. Nabi Ibrahim adalah contoh nyata dari seorang pemimpin yang tidak gentar menjalani ujian Allah.
وَمَنۡ أَحۡسَنُ دِينٗا مِّمَّنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٰهِيمَ خَلِيلٗا
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (QS an-Nisa' ayat 125)
Dan Ibrah yang ketiga adalah semangat pembaruan (Tajdid). Keberagamaan yang diajarkan Nabi Ibrahim bukanlah yang stagnan. Beliau selalu mencari kebenaran dan berupaya mendekatkan diri pada Allah. Ini adalah semangat yang harus dihidupkan umat Islam untuk terus berkarya dan memberi manfaat kepada lingkungan.
۞وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (QS al-Baqarah ayat 124)
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Jamaah yang dirahmati Allah
Di era modern sekarang ini, semangat keberagamaan Nabi Ibrahim bisa menjadi panduan untuk kita dalam melaksanakan Islam berkemajuan. Dalam menghadapi berbagai tantangan, umat Islam harus tetap memprioritaskan nilai-nilai ketaatan kepada Allah, memperkuat ukhuwah, dan memberi kontribusi positif kepada masyarakat.
لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ
Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji. (QS al-Mumtahanah ayat 6).
Kisah nabi Ibrahim tidak hanya mencerminkan kerelaan pengorbanan beliau tetapi juga menjadikannya sebagai model iman, kesabaran, dan pengabdian. Tindakannya beresonansi dalam praktik dan kepercayaan Islam, menginspirasi orang percaya untuk menegakkan iman mereka dengan ketulusan dan keberanian.
Para sarjana telah mengeksplorasi kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dari berbagai perspektif, menekankan signifikansi teologis, moral, dan spiritualnya. Banyak sarjana menyoroti bahwa kesediaan Ibrahim untuk mengorbankan putranya menunjukkan penyerahan tertinggi kepada Allah. Tindakan ini dipandang sebagai contoh mendalam dari keyakinan dan ketauhidan (keesaan Tuhan) dan kepercayaan penuh dan patuh pada kebijaksanaan ilahi.
Pengorbanan nabi Ibrahim sering ditafsirkan sebagai pelajaran dalam memprioritaskan pengabdian kepada Allah daripada keterikatan duniawi. Para sarjana seperti Ibn al-'Arabi telah membahas narasi sebagai panggilan untuk melepaskan berhala pribadi atau apa pun yang mengalihkan perhatian dari Allah.
Beberapa sarjana merefleksikan tantangan etika yang dihadapi Ibrahim, menekankan perjuangan internal dan keyakinannya yang tak tergoyahkan. Aspek ini dipandang sebagai pengingat bagi orang-orang percaya untuk menghadapi dilema moral mereka sendiri dengan keberanian dan kepercayaan kepada Allah. Dan Tindakan Ibrahim dipandang sebagai landasan ajaran Islam, ritual yang menginspirasi seperti pengorbanan Idul Adha. Tindakan tersebut melambangkan rasa syukur, kerendahan hati, dan kesiapan orang percaya untuk membuat pengorbanan pribadi demi kebaikan yang lebih besar.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Akhirnya saya mengajak hadirin untuk mencontoh, keimanan, ketakwaan dan ketaatan kepada Allah, sehingga melahirkan jiwa berani berkorban, tidak egois dan mendahulukan musyawarah. Marilah kita memanfaatkan kesempatan yang ada untuk selalu berbuat baik. Mumpung masih diberi kesempatan hidup oleh Allah yang entah sampai kapan sisa umur ini masih ada. Sungguh alangkah indahnya jika umur yang tersisa ini kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat sehingga menjadi umur yang dipenuhi kasih sayang Allah, umur yang dipenuhi barakah Allah. Harta yang kita punyai, mari kita gunakan untuk kepentingan kebaikan, kita gunakan untuk meraih kesenangan di akhirat yang abadi. Jangan sampai kita menyesal berkepanjangan ketika kelak kita berada di alam keabadian.
Untuk menguatkan keimanan kita agar menjadi iman aktif marilah kita memanjatkan doa kehadirat Allah SwT. Dan kita yakin doa ini akan diamini para malaikat juga akan dikabulkan Allah SwT.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.
Sumber: Laman Suara Muhammadiyah
# Khutbah Idul Adha Kelima
Judul: Keteladanan Nabi Ibrahin sebagai Orangtua dan Nai Ismail sebagai Anak dalam Membentuk Keluarga Sakinah
Oleh: Ariadi S. Ag, Penyuluh Agama Islam KUA Gedongtengen
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ الْأَضَاحِي، وَجَعَلَهَا قُرْبَانًا إِلَيْهِ، وَدَلِيلًا عَلَى التَّقْوَى، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَسْأَلُهُ التَّوْفِيقَ وَالرِّضَا
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji hanya bagi Allah.
Allah Maha Besar dengan kebesaran yang agung. Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang.
Segala puji bagi Allah yang telah mensyariatkan ibadah qurban kepada hamba-hamba-Nya, menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya dan sebagai bukti ketakwaan. Kita memuji-Nya, memohon ampun kepada-Nya, serta meminta taufik dan keridhaan-Nya.
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabat beliau.
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Hari ini kita merayakan Idul Adha, hari besar yang mengingatkan kita pada peristiwa agung pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketaatan luar biasa Nabi Ismail. Ini bukan sekedar kisah sejarah melainkan pelajaran hidup tentang bagaimana orang tua bersikap kepada Allah dan anak bersikap terhadap Allah dan orang tuanya.
،ﻣﻌﺎﺷر اﻟﻣﺳﻠﻣﯾن رﺣﻣﻛم ﷲ
Di antara sosok teladan dalam Al-Qur'an adalah Nabi Ibrahim اﻟﺳﻼم ﻋﻠﯾﮫ, seorang ayah, suami, dan pemimpin umat yang memiliki sifat sabar, tawakal, dan penuh kasih sayang dalam membina keluarganya. Keteladanan yang ada dalam diri beliau adalah
1. Kepemimpinan Spiritual
Nabi Ibrahim membimbing keluarganya menuju tauhid, bahkan saat diperintahkan untuk menyembelih putranya:
) يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (
"Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah pendapatmu.
Ismail berkata: "wahai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, in syaa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar"
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Ini adalah bentuk kepemimpinan spiritual yang mengakar dalam cinta kepada Allah dan pendidikan tauhid.
2. Keteladanan istri: Siti Hajar
Ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di padang tandus, Hajar berkata:
"اللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: "نَعَمْ" قَالَتْ: "إِذًا لَنْ يُضَيِّعَنَا"
"Apakah ini perintah Allah, wahai Ibrahim? Ibrahim menjawab, "ya"
"Kalau begitu Allah tidak akan menyia nyiakan kami" (Hadis riwayat Bukhari)
Siti Hajar adalah contoh istri yang taat, kuat, dan yakin pada ketentuan Allah.
3. Tujuan Akhir: Mencetak Generasi Saleh
Nabi Ibrahim selalu berdoa untuk anak cucunya:
(رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي)
" Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang orang yang tetap mendirikan sholat" QS. Ibrahim: 40)
(رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ)
"Ya tuhan kami jadikanlah kami orang orang yang berserah diri kepadaMu dan anak cucu kami juga"
(QS. Al-Baqarah: 128)
Nabi Ibrahim mempunyai anak yang taat karena didikan orang tuanya. Dikisahkan dalam Al Qur'an surat Ash Shaffat : 102 bagaimana keteguhan Ismail kecil taat kepada orang tuanya. Nabi Ismail, yang masih belia saat itu tidak membangkang, tidak mengeluh, bahkan menyemangati ayahnya untuk taat kepada perintah Allah. Inilah contoh nyata anak yang berbakti dan taat kepada Allah serta kedua orang tuanya.
Apa yang bisa kita teladani dari nabi Ismail?
1. Taat kepada Allah sepenuh hati, meski perintah-Nya terasa berat.
2. Berbakti kepada orang tua, mendengarkan dan menghormati keputusan mereka.
3. Sabar dan rela berkorban, demi kebaikan dan nilai-nilai agama.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillaahil hamd. Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,
Idul Adha juga dikenal sebagai Hari Raya Qurban. Kata "qurban" berasal dari "qaruba" yang berarti mendekat. Maka, berqurban adalah bentuk mendekatkan diri kita kepada Allah, dengan harta, waktu, tenaga, dan bahkan perasaan.
Begitu pula yang dilakukan Nabi Ismail AS. Ia rela menjadi qurban jiwa, bukan karena paksaan, tetapi karena keimanan yang mendalam.
(وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ)
"Maka Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaffat: 107)
Allah pun mengganti Ismail dengan hewan sembelihan, karena telah terbukti keikhlasan dan ketaatan mereka.
Psan kepada para anak: teladanilah Ismail AS dengan ketaatan dan bakti kepada orang tua.
Kepada para orang tua: teladanilah Ibrahim AS dengan mendidik anak-anak dalam iman dan komunikasi yang lembut.
Kepada kita semua: mari jadikan momen Idul Adha ini untuk menghidupkan kembali semangat pengorbanan dan ketaatan dalam kehidupan kita.
اللهم اجعلنا من عبادك الصالحين، واجعل أولادنا من المتقين البارين، وارزقنا قلوبًا خاشعة، وأعمالا متقبلة.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallaah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillaahil hamd.
Akhir kata, mari kita sambut Hari Raya Idul Adha ini dengan hati yang penuh syukur, ketaqwaan yang tinggi, dan semangat berbagi. Semoga Allah SWT menerima ibadah qurban kita, memberkahi kita, serta melimpahkan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua.Selamat Hari Raya Idul Adha! Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga kita semua menjadi hamba yang taat dan bertaqwa kepada-Nya.
Semoga menjadi khutbah yang bermanfaat, dan semoga kita bisa meneladani Nabi Ibrahim dalam kehidupan kita sehari-hari.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Sumber: Kemenag Yogyakarta
(Bangkapos.com/Tribun Network/Diolah dari Berbagai Sumber)
| 3 Khutbah Idul Adha Singkat Padat Mengharukan Bahasa Sunda Tahun 2026, Silakan Dicontoh! |
|
|---|
| Khutbah Idul Adha Sedih tentang Orang Tua Tahun 2026: Belajar dari Keteladanan Nabi Ibrahim & Ismail |
|
|---|
| Contoh Teks Khutbah Idul Adha 1447 H tentang Qurban |
|
|---|
| 3 Khutbah Idul Adha 2026 NU, Muhammadiyah Lengkap PDF Terbaru |
|
|---|
| Niat Puasa Idul Adha 2026: Bacaan Lengkap Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah dan Arafah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220710-Salat-Iduladha-di-Taman-Alun-alun.jpg)