Aliong dan Kakaknya Dibacok
Amin (24) masih terbaring lemah di ruang Bougenvile RSUD Kabupaten Belitung. Jarum inpus masih melekat
BANGKAPOS.COM , BELITUNG -- Amin (24) masih terbaring lemah di ruang Bougenvile RSUD Kabupaten Belitung. Jarum inpus masih melekat di tangan kiri kakak Aliong ini.
Sementara bagian kepala depan dan belakang, leher kiri, pundak kiri, tangan kanan masih dibalut perban karena sabetan benda tajam yang dilayangkan Hd, Rabu (16/5/2012) dini hari. Hal serupa juga terlihat di lengan kiri Aliong.
Amin dan Aliong diduga merupakan korban pembacokan yang dilakukan Hd di kediaman Amin Jalan Dr Susilo Tanjungpandan. Diduga Hd, warga Tanjungpandan, kesal dan marah kepada Amin.
Menurut Amin, awal perselisihan dia dan Hd terjadi sejak Hd tahu wanita yang
pernah menjadi pacar Hd dekat dengan dirinya. Hubungan asmara ini tidak
berlangsung lama karena Amin memutuskannya.
"Satu minggu, terus putus. Tapi embel-embelnya yang gak bagus," kata Amin kepada bangkapos.com, Jumat (18/5/2012).
Tidak lama setelah itu, Hd kembali berbaikan dengan perempuan itu. Dalam perjalanan hubungan ini, Amin dituding menyebar fitnah tidak sedap. "Aku dituduh, bilang ke orang-orang pacarnya bisa "dipake". Padahal, dia (HD--red) sendiri yang bilang itu ke aku. Aku kena getahnya," ungkap Amin.
Sebenarnya, Amin sama sekali tidak menanggapi apa yang dituduhkan Hd. Bahkan, Amin pernah mengajak bertemu Hd untuk meluruskan permasalahan tersebut.
"Saya tunggu ketemu, tapi gak datang malam itu. Dia (Hd--red) bilang ada yang meninggal saya jawab ayah kamu atau kamu yang meninggal. Kemudian saya tunggu lagi, di STMJ ternyata dia bilang di Gantung. Saya jawab ayah kamu meninggal di "gantung" ya. Lalu dia matikan telepon, telepon lagi dan tanya di mana, saya jawab di rumah. Itulah dia (Hd--red) ke rumah," ungkap Amin.
Hd tiba di rumah Amin bersama pacarnya dan seorang teman laki-laki saat Amin masih duduk-duduk di kediamannya bersama rekan-rekannya. Melihat Hd datang, Amin mendekati. Terjadilah percekcokan mulut. Dan tiba-tiba Hd melayangkan sebilah parang yang diletakkannya di motor ke kepala Amin dan bagian tubuh Amin lainnya. Merasa terancam, Amin mencoba melawan.
"Saya lawan, dan dibantu adik saya. Akhirnya, kami berhasil menahan parang dia (Hd--red). Memang kami pukul dia karena tidak mau melepaskan parangnya. Jadi bukan kami mengeroyok dia, karena dia yang datang ke rumah, marah-marah dan membawa parang," papar Amin.
Tidak berapa lama setelah kejadian Aliong membawa kakaknya yang bersimbah darah ke rumah sakit.
"Kami mau hukum ditegakkan. Jangan faktanya di balik, kami yang diserang bukan kami yang menyerang. Semoga pihak kepolisian tidak pandang bulu dalam hal ini. Karena ada upaya perencanaan dalam kasus ini," papar Aliong.