Muharafah Risau Anaknya Mendapatkan PR Hapalan, Ini Jawaban Kemendikbud RI yang Menakjubkan

Muharafah mengatakan, ia masih bisa membantu anaknya mengerjakan PR jika itu terkait pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau sejenisnya.

Muharafah Risau Anaknya Mendapatkan PR Hapalan, Ini Jawaban Kemendikbud RI yang Menakjubkan
Pos Belitung/Dedy Q
Seminar Nasional Pendidikan Berkarakter yang digelar oleh UPTD Pendidikan Kecamatan Manggar di Gedung Serbaguna, Kantor Desa Padang, Sabtu (12/11/2016) (POSBELITUNG/DEDY Q) 

Laporan wartawan Pos Belitung, Dedy Qurniawan

BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Seorang orangtua murid, Muharafah, pada acara Seminar Nasional Pendidikan Berkarakter yang digelar oleh UPTD Pendidikan Kecamatan Manggar, Belitung Timur (Beltim), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), mengaku risau dengan sikap anaknya yang duduk di kelas III sekolah dasar (SD).

Kerisauan itu muncul saat dirinya membantu sang anak mengerjakan tugas Pekerjaan Rumah (PR).

Muharafah mengatakan, ia masih bisa membantu anaknya mengerjakan PR jika itu terkait pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau sejenisnya.

Namun, dia angkat tangan saat anaknya mendapatkan PR berupa hapalan.

Muharafah merasa dia tak bisa membantu anaknya terkait kemampuan hapalan anaknya ini.

"Dia sudah berusaha, dia keras, dia tidak mau sekolah (kalau tidak bisa)," katanya.

Saat ditenangkan bahwa itu tidak akan jadi persoalan di sekolah, sang anak menjawab "Saya takut untuk berdiri di depan kelas," kata Muharafah menirukan omongan anaknya.

"Sebagai orangtua kami harus bagaimana," ujar Muharafah

Mendapat jawaban seperti itu, Direktur Pembinaan Pendiddikan Keluarga Kemendikbud RI Dr Sukiman M.Pd yang menjadi narasumber pada seminar tersebut mengatakan bahwa anak-anak memiliki minat dan bakat yang berbeda.

Sukiman meminta anaknya untuk tidak dipaksa. Sang anak harus diketahui kelebihannya.

Muharafah pun menjawab anaknya memiliki kemampuan lebih dalam menggambar.

Mendapat jawaban seperti itu, Sukiman menyarankan agar metode belajar menghapal anaknya dibantu dengan memanfaatkan gambar.

Sukiman mengatakan, masa kanak-kanak sebenarnya adalah masa emas perkembangan otak.

"Tolong perbanyak ngobrol dengan anak. Ajak berbicara (tentang topik apa saja). Nanti dia akan bisa banyak mengingat kosakata," kata dia. (*)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: asmadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved