Kasus Dugaan Pijat Ilegal Terungkap Tarif Pasien Datang Rp 4,5 Juta

Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sumatera Selatan mengimbau seluruh masyarakat yang merasa

Kasus Dugaan Pijat Ilegal Terungkap Tarif Pasien Datang Rp 4,5 Juta
KOMPAS.COM/AJI YK PUTRA
Chris Leong (baju orange) WNA asal Malasia yang tertangkap membuka praktik pijat ilegal di Palembang, bersama 19 WNA lainnya, ketika berada di kantor KemenkumHAM Sumsel, Kamis (10/1/2019). 

BANGKAPOS.COM - Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sumatera Selatan mengimbau seluruh masyarakat yang merasa dirugikan terkait praktik pijat ilegal oleh 20 WNA untuk segera melapor kepada petugas.

Kepala Kantor Kanwil Kemenkumham Sumsel Sudirman D Hurry, ketika dikonfirmasi, mengatakan, sejauh ini mereka telah meminta keterangan dari pihak hotel yang menjadi tempat praktik pijat ilegal oleh Chirs Leong warga asal Malaysia bersama 19 rekannya tersebut.

Menurut Sudirman, berdasarkan keterangan pihak hotel, mereka menyewa ballroom hotel yang berada di kawasan R Soekamto Palembang. "Pihak hotel sudah dipanggil untuk diminta keterangan dan sampai saat ini belum ada masyarakat yang mengadu walaupun kami sudah mengimbau melalui media. Apabila ada yg dikecewakan agar menghubungi Kanim Palembang," kata Sudirman, Sabtu (12/01/2019).

Sudirman mengatakan, 20 WNA tersebut masih ditahan di ruang Detensi Imigrasi Klas 1 Palembang untuk pendalaman pelimpahan berkas. Para WNA itu terancam dikenakan sanksi deportasi hingga pidana, lantaran penyalahgunaan visa kunjungan serta membuka praktik pijat ilegal tanpa izin Dinas Kesehatan.

Diberitakan sebelumnya, Chris Leong membuka praktik pijat secara ilegal di ballroom salah satu hotel kawasan R Soekamto Palembang bersama 19 orang rekan yang lainnya. Kegiatan mereka tersebut tercium oleh petugas Imigrasi hingga akhirnya langsung diamankan.

Dari pemeriksaan, petugas mendapati bahwa mereka masuk ke Indonesia menggunakan visa kunjungan. Kenyataannya, para WNA itu melakukan kegiatan pengobatan berupa pijat tradisional tanpa izin. Hasil penelusuran Kompas.com, video terapi pengobatan Chris Leong banyak tersebar di Youtube. Para pasien terlihat datang dari berbagai kalangan seperti anak kecil hingga orang dewasa.

Chris pun mengaku, hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyembuhkan satu orang pasien hingga ia bisa menangani puluhan bahkan ratusan pasien dalam satu hari. Satu pasien yang datang untuk dipijat Chris dikenakan tarif Rp 4,5 juta.

Dalam sehari, para WNA ini mengaku bisa mendapatkan penghasilan Rp 1 Miliar. Pihak Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) Sumatera Selatan kini sedang mencari para pasien dari praktik pijat ilegal yang dilakukan oleh Chris Leong warga asal Malaysia.

Sudirman mengatakan, saat ini mereka terus mendalami dan menggali keterangan dari para saksi untuk menyelidiki kasus tersebut. Selain pasien yang mengikuti terapi pijat Chris Leong, imbuhnya mereka juga akan meminta keterangan saksi ahli dari Dinas Kesehatan, untuk memastikan terapi yang digunakan bahaya atau tidak.

"20 WNA itu masih ditahan di ruang Deteni Imigrasi Klas 1 Palembang. Setelah semua proses selesai, kemungkinan besar kita akan pro-justisia dan segera kita limpahkan ke Kejaksaan untuk disidangkan di PN Palembang," ujar dia.

Sebelumnya, Chris Leong membuka praktik pijat secara ilegal di ballroom salah satu hotel kawasan R Soekamto Palembang. Dia melakukan itu bersama 19 orang rekan yang lainnya. Kegiatan mereka tersebut tercium oleh petugas Imigrasi hingga akhirnya langsung diamankan.

Dari pemeriksaan, petugas mendapati jika mereka masuk ke Indonesia menggunakan visa kunjungan. Namun, ternyata melakukan kegiatan pengobatan berupa pijat tradisional tanpa izin. Sebanyak 20 WNA itupun terancam dideportasi akibat penyalahgunaan visa. Tak hanya itu, mereka juga diancam sanksi pidana karena membuka praktik pijat tanpa izin Dinas Kesehatan.(Kompas.com)

Editor: emil
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved