100 Tahun Pertambangan Timah di Laut (1)
Merambat dari Singkep Hingga Bangka
Sejak timah dieksploitasi 300 tahun silam, mulai dari Muntok, meluas ke Belinyu, Toboali, Pangkapinang, Sungailiat,
SEJAK timah dieksploitasi 300 tahun silam, mulai dari Muntok, meluas ke Belinyu, Toboali, Pangkapinang, Sungailiat, hingga kota-kota kecamatan lainnya, pertambangan timah memainkan peran kunci dalam ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik di Bangka Belitung.
Selama 3 abad itu pula peran kunci timah belum tergoyahkan. Bahkan hari-hari ini, timah menjadi jantung utama penggerak ekonomi masyarakat Babel. Tak di darat, tak di laut, seolah timah di Babel tak habis-habisnya dikeduk, keruk dan dihisap. Miliran rupiah mengalir untuk menggerakkan enonomi di Babel. Negara pun kecipratan devisa dari aktivitas penambangan oleh perusahaan BUMN bernama PT Timah Tbk.
Setelah 200 tahun timah di daratan diekspolitasi. Revolusi industri di Eropa oleh temuan mesin uap James Watt juga merubah wajah pertambangan timah di Babel.
Sejak itu, timah berada di dasar laut mulai digarap. Pada awalnya, eksploitasi timah menggunakan tekhnologi kapal keruk (KK) yang dijalankan mesin uap ini bukanlah pertama kali di perairan Bangka Belitung. Melainkan di perairan Singkep, Kepulauan Riau. Kemampuan sangat terbatas. Tahun ke tahun tekhnolgi KK diperbaiki hingga kemampuannya mencapai puluhan meter. Dengan produksi yang lebih besar diharapkan memberikan keuntungan yang besar pula.
Setelah 100 tahun beroperasi di Indonesia (Babel), akhinya tekhnologi kapal keruk pun nyaris menemui ajalnya. Hari ini, kapal isap produksi (KIP) yang didatangkan dari China dan Thailand telah mengambil alih peran berat itu.
Wilayah Singkep
Kapal keruk (KK) pertama di Indonesia adalah KK Dabo buatan Pabrik Conrod, Belanda. Kapal ini bertenaga uap. Ukuran mangkok 5 cuft dengan kemampuan keruk sedalam 9 meter, dengan kapasitas pemindahan tanah 2000 meter kubik/hari.
Ukuran pontoon panjang 35 meter, lebar 11 meter dan dalam 2,50 meter. KK Dabo beroperasi di perairan Pantai Dabo Singkep pada tahun 1910.
Pada tahun yang sama di datangkan KK Sungai Jongkok yang beroperasi di Tanah Sejuk. Sekitar 18 tahun kemudian, persisnya tahun 1928 dioperasikan KK Sergang di Sungai Sergang. KK Sergang yang pertama yang menggunakan sistem hidraulik.
Wilayah Belitung
Kapal keruk pertama di wilayah ini adalah de Eersteling (anak pertama). Beroperasi pertama kali di lembah Sijuk pada 7 Juli 1920. Sesuai dengan daerah opasinya nama de Eersteling berganti menjadi KK Sidjoek.
Kapal ini beroperasi dan berproduksi sampai tahun 1938 (18 tahun) yang kemudian di-grounded selama 3 tahun tidak dioperasikan (1930-1933).
Kapal keruk berikutnya yang beroperasi di Belitung adalah KK Lais, tahun 1925. Tekhnologi KK menggali timah di perairan Belitung sangat cepat. Menjelang pecahnya Perang Dunia (PD) II, beroperasi 13 kapal keruk.
Sesudah PD II, kondisi KK di Belitung dalam keadaan yang menyedihkan. Pada masa itu banyak yang meramalkan bahwa kekuasaan Belanda di Indonesia akan cepat dapat dipulihkan kembali. Karenanya Biliton Maastcappij sebuah perusahaan penambangan menyiapkan dua KK di Amerika dan enam KK di Eropa. Kapal-kapal ini siap dikirim ke Indonesia, walaupun dalam cuaca sangat buruk.
Pemberangkatan pertama adalah KK Kalmoa, buatan (kerjasama) Smith/ Conrad/Gusto/Vershure, namun belum sampai di Belitung kapal ini dihadang cuaca buruk bulan Maret 1947. Menyusul kemudian penarikan KK Dendang buatan Smith/Conrad/Gusto Vershure memakan waktu hingga 109 hari--merupakan masa penarikan paling panjang.
Wilayah Bangka
KK pertama yang direncanakan untuk beroperasi di perairan Bangka diberi nama Diniang. Karena berbagai kesulitan, KK Diniang baru beroperasi tahun 1927. Sehingga KK Toboali yang tercatat pertama kali beroperasi di Bangka, yakni tahun 1926.
Kemudian didatangkan kapal-kapal baru sehingga pada tahun 1928 tercatat sudah 6 kapal keruk beroperasi, 4 diantaranya digerakkan dengan mesin uap dan 2 unit dengan listrik dialirkan dari darat.
Kapal-kapal keruk ini berukuran sama, yakni berkapasitas 3 juta meter kubik per tahun, dengan ukuran mangkok 9 cuft dan kedalaman gali 18,021 meter.
Karena ditemukan cadangan timah yang lebih dalam lagi, maka pada tahun 1930 dibangun sebuah kapal keruk yang lebih besar dengan ukuran mangkuk 15 cuft dan kedalaman gali 28 meter. Kapal keruk ini diberi nama Ayer Kantong (Air Kantung) sedianya untuk menangani cadangan baru di Air Kantung, Sungailiat Bangka. Namun saat berlayar dari Inggris menuju Bangka, kapal ini tenggelam di Selat Channel Inggris karena dihantam badai dan gelombang besar.
Musibah KK Ayer Kantung menjadi pengalaman berharga. Tekhnologi akhirnya harus menyerah terhadap alam. Pengalaman beratnya menarik kapal-kapal dari Eropa maka KK baru dibangun dengan cara membuat pontoon di galangan kapal di Surabaya. Kapal bertenaga listrik ini selesai dibangun pada tahun 1939, yang kemudian diberi nama KK Sungailiat.
Ketika penambangan timah dengan KK sedang menggeliat, dunia dihadapi oleh persoalan besar. Perang Asia-Pasifik berada di depan mata. Indonesia di bawah kekuasaan kolonial Belanda--tak terkecuali penguasaan tambang timahnya, pemerintah Belanda mengerahkan semua kekuatan penambangan untuk mengeruk timah sebanyak-banyaknya. Dua kapal keruk di Belitung ditarik ke Bangka karena Bangka sebagai daerah yang jauh lebih kaya cadangan timahnya. Tambahan dua kapal ini menyebabkan produksi timah melonjak luar biasa. Tahun 1941 tercatat sebagai produksi timah yang terbesar dalam sejarah timah Indonesia sampai akhir abad ke 20, yakni 51.000 ton. Angka yang belum pernah dicapai sebelumnya. (bersambung)