Refleksi Berkesenian Bagi Orang (Berjiwa) Muda: Sebuah Otokritik
Seni adalah sebuah proses. Tapi seni juga adalah sebuah kontradiksi. Begitu tarian selesai diciptakan,
Pegiat Sastra Berdomisili di Sungailiat
(Bagian I)
SENI adalah sebuah proses. Tapi seni juga adalah sebuah kontradiksi. Begitu tarian selesai diciptakan, begitu kanvas usai dicoret, nada-nada rampung menjadi lagu, dan kata-kata dinyatakan sebagai puisi, tiba-tiba ia menjadi sesuatu yang berpeluang untuk diperbaiki kembali. Kita tak pernah mampu melahirkan (mengungkapkan) kembali sensasi sekejap yang kita diterima dari alam sebagai sumber (inpirasi) penciptaan karya seni. Oleh karena itu, seni adalah proses. Ia bukan sesuatu yang baku atau mapan. Hal ini tak dapat dihindari sebab karya seni merupakan hasil pergumulan batin dan pikiran seniman. Dan karena itu pula, seniman sering dicap sebagai orang-orang yang gemar melabrak kemapanan masyarakat umum. Orang-orang kemudian menyebut kegemaran seniman tersebut dengan istilah nyentrik.
Dalam masyarakat tradisional kita dulu, mengekspresikan seni dilakukan dengan sangat mudah. Dengan sebuah tanah lapang (bahkan cukup hanya di halaman rumah) mereka sudah bisa tampil. Penontonnya adalah komunitas orang kampung sendiri, ya tetangga sendiri. Bayarannya adalah kepuasan telah menghibur para tetangga. Seniman musik tradisional kita (pemain dambus), bahkan melakoni permainannya di saat-saat senggangnya. Artinya, mereka berkesenian hanya untuk menghibur diri sendiri. Tak peduli dapat pujian atau tidak. Apalagi mikirin bayaran.
Di Bali aktivitas berkesenian seperti itu masih lestari. Sebagian masyarakat dan seniman Bali masih menari di tanah lapang atau di depan pura. Memang tak dapat dipungkiri bahwa tak sedikit pula yang menari di hotel-hotel mewah.
Lain Bali, lain pula Bangka. Menurut pengamatan saya, biasanya orang kita berkesenian hanya di acara-acara pemerintah (baik sebagai pertunjukkan yang memang khusus difasilitasi atau hanya sekadar acara selingan). Selain itu, mengisi acara pada hajatan pernikahan dan sejenisnya. Selanjutnya, jika ada lomba kesenian yang berkaitan dengan cabang seni yang dikuasainya. Adapun lomba-lomba tersebut umumnya diselenggarakan oleh pemerintah. Artinya, kita berkesenian hanya jika diminta atau difasiitasi.
Dengan gaya berkesenian demikian tak heran jika kemudian orientasi berkesenian kita adalah prestise dan materi. Semakin sering dapat job, semakin naik prestisenya dan akan semakin mahal bayarannya. Tentu saja hal ini tak salah. Profesionalitas dalam berkesenian itu sungguh penting. Seniman harus melahirkan karya yang berkualitas hingga ada harganya dan pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan seniman. Akan tetapi, bila ini terus dibiarkan tanpa menengok kembali ke jiwa seniman yang murni niscaya akan mengakibatkan ketumpulan seni itu sendiri.
Bila seniman hanya berkesenian jika diminta oleh pemerintah atau suatu lembaga/ individu tertentu dengan iming-iming bayaran yang cukup, maka seniman secara tak langsung telah memasung kemerdekaannya dalam bekreativitas dan berekspresi.
Kebebasan berkesenian telah dipasung oleh ruang atau tempat dengan pertanyaan dan tantangan: dimana akan tampil? Bagaimana panggung dan pernak-perniknya? Selain itu, soal teknis tampilan: bagaimana dengan alat? Kanvas, cat, dan kuas bagi pelukis; kostum bagi penari; alat musik bagi pemusik; pahat bagi pemahat; catwalk bagi perancang/peraga busana, dan seterusnya. Pertanyaan yang mengikat kreativitas itu pun dilanjutkan dengan: siapa yang akan nonton? Berapa banyak? Dan terakhir: kenapa susah-susah; dibayar juga ndak. Inilah paradigma berkesenian kebanyakan kita saat ini.
Padahal, seniman tradisional telah menunjukkan betapa kebebasan berekspresi mereka tak dapat dihentikan oleh ruang atau tempat. Penyanyi rap dari ras negro di Amerika pada mulanya juga tak membutuhkan ruang atau tempat yang khusus. Mereka menyanyi di jalan-jalan, lapangan basket, emperan toko, di mana saja!
Yang penting bagi sebuah karya seni adalah proses dan media (walau peran alat tak dapat pula dipungkiri). Media sastra adalah bahasa ( baik ditulis tangan, diketik dengan mesin tik manual, komputer; maupun hanya disampaikan secara lisan). Media tari adalah gerak, media musik adalah nada, media lukisan adalah bentuk, warna, dan komposisi.
Jadi, terserah saja jika lukisan dibuat di atas kertas gambar dan dicoret dengan arang atau digoreskan pada botol dengan cat akrilik. Musik tetap sah disebut musik apabila dari tabuhan terhadap pantat kuali, panci, sendok, kayu, atau apa pun itu, tetap menghasilkan sebuah suara yang padu dan harmonis. Penari tanpa kostum yang gemerap pun akan tetap indah jika tubuh sang penari betul-betul menampilkan gerakan yang indah dan artistik.
Tentang penonton atau penikmat. Memang tak dapat dipisahkan antara seniman dengan apresiatornya (penonton, pendengar, pembaca).
Hubungan ini adalah hubungan antara produsen dan konsumen. Bila kualitas karya sang seniman baik, apresiator tak segan-segan memberikan aplaus dan pujian bahkan memberikan materi (bisa dalam bentuk uang atau benda). Sebaliknya,bila kualitas karya seniman buruk, apresiator tak segan-segan mengkritik bahkan menghujat.
Situasi ini membuat seniman bekerja keras meningkatkan kualitas karyanya demi kepuasan apresiator. Selanjutnya, ia akan memeroleh kepopuleran. Bahkan tak sedikit seniman yang berani dan tega melakukan berbagai hal yang salah demi mendapatkan populeritas.
Padahal, penari hiphop (lagi-lagi dari orang kulit hitam) di Amerika pada awalnya menari untuk kesenangan sendiri. Mereka cukup membawa tape compo lalu menari di pinggir jalan, di sudut kota, di lahan parkir, di lapangan basket, di mana saja! Para penari Bali juga tak peduli ditonton orang banyak atau tidak sebab mereka menari untuk dewa.
Terakhir, tentang honor. Jika berkesenian hanya demi bayaran, maka apa bedanya seniman dengan tukang yang melulu hanya mengerjakan sesuatu persis pesanan sang pemilik acara?
Seniman muda Bangka sebaiknya mulai membongkar paradigma berkesenian yang telah dianggap mapan ini. Mengapa seniman (berjiwa) muda? Sebab orang-orang muda(dan berjiwa muda) adalah orang-orang yang tidak berada dalam area kemapanan dan senantiasa gelisah pada kemapanan. Orang-orang muda punya passion, semangat, untuk melabrak kemapanan tersebut. Jangan biarkan ruang dan tempat membelenggu kebebasan berekspresi.
Kreativitas tak boleh dipadamkan oleh keterbatasan alat. Semangat berkesenian jangan pernah musnah terbakar oleh ego dan ambisi untuk popular semata. Dan jangan mau menggadaikan semua kemerdekaan ide kepada kehendak modal. Terus berkarya, tak menolak apresiasi dalam bentuk bayaran, tapi tetap menjaga kemurnian berkesenian bagi diri sendiri dan masyarakat.(*)