Kamis, 11 Juni 2026

Fengsui, Kepercayaan dan Tradisi

FENGSUI diyakini sebagai perhitungan rasional. Lewat bacaannya, sebuah bangunan dirancang

Tayang:
zoom-inlihat foto Fengsui, Kepercayaan dan Tradisi
Kompas/Agus Susanto
Warga memilih aksesori Imlek di Petak Sembilan, Jakarta Barat, Sabtu (21/1). Warga mulai ramai mencari segala macam aksesori jelang Imlek yang akan datang tanggal 23 Januari mendatang.

Berdasarkan medan magnet di lokasi kantor dan gudang itu, Mas Dian membaginya menjadi area berenergi baik dan buruk. Area berenergi baik ditandai dengan spidol hijau. Di area hijau ini disarankan sehari-hari dijadikan ruangan kantor. Sementara area berspidol merah—yang berenergi negatif—tidak difungsikan secara maksimal.

”Bagi saya, fengsui itu penting. Ini soal bagaimana kita berupaya hidup selaras dengan alam,” kata Ayen.

Saat ini, menurut Mas Dian, umumnya pembangunan tempat usaha dan mal di Jakarta juga melibatkan praktisi fengsui. Pelaku bisnis ini kerap kali amat manut terhadap nasihat dari konselor fengsui. Apabila sang konselor menyatakan suatu kios atau tempat usaha tak baik secara fengsui, kios itu diyakini bakal tak kunjung laku.

Stanley Ade Parwoko (58), pengusaha baju pengantin di Semarang, Jawa Tengah, juga selalu berkonsultasi fengsui sebelum memilih tempat tinggal dan lokasi bisnis. ”Sampai sekarang saya jarang mengubah tata ruang di rumah karena apa yang saya lakukan sudah benar,” kata Stanley.

Pemanfaatan fengsui juga ditemukan di tempat ibadah kelenteng. Salah satunya di kelenteng tua Boen Tek Bio, Tangerang, Banten. Kelenteng yang berdiri sejak 1684 ini berada pada satu garis lurus dengan dua kelenteng lain. Oey Tjin Eng dari bagian humas Boen Tek Bio menjelaskan, posisi kelenteng ini persis di titik tengah antara Kelenteng Boen San Bio di Pasar Baru (Tangerang) yang berdiri tahun 1689 dan Boen Hai Bio di Serpong yang berdiri tahun 1694.

”San dalam Boen San Bio dalam Hokkian artinya ’gunung’, sementara Hai dalam Boen Hai Bio artinya ’laut’. Jadi, Boen Tek Bio merupakan kelenteng yang dibangun dengan posisi bersandar pada gunung dan memandang laut,” ujar Oey Tjin Eng.

Gunung sebagai sesuatu yang kokoh bisa direpresentasikan dengan membangun dinding kokoh dan tinggi di bagian belakang bangunan. Sementara lautan adalah unsur air, bisa berwujud kolam di muka bangunan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved