Bahasa Melayu Bangka Punya Lima Dialek Utama
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Kota Pangkalpinang Akhmad Elvian
"Keluarga adalah inti dari sebuah kehidupan, dalam sebuah keluarga, bahasa paling banyak dituturkan, oleh sebab itu untuk mencegah degradasi bahasa daerah, khususnya Bahasa Melayu, kami anjurkan tiap keluarga selalu menuturkan Bahasa Melayu," kata dia di Pangkalpinang, Bangka Belitung, Jumat.
Lebih lanjut Elvian mengatakan, degradasi Bahasa Melayu sebagai cikal bakal Bahasa Nasional, salah satunya adalah karena mendapat pengaruh dari bahasa populer. "Menurut pengamatan saya, penggunaan Bahasa Melayu, terutama di kalangan remaja banyak dipengaruhi oleh bahasa sinetron atau bahasa iklan sehingga pemakaiannya sudah dicampuradukkan," kata dia.
Untuk mengembalikan Bahasa Melayu ke kaidah asalnya, Elvian menyebutkan, seharusnya Bahasa Melayu lebih sering digunakan dalam lingkungan keluarga dan pendidikan. "Karena kedua lingkungan tersebut adalah fondasi dalam membentuk karakter manusia," ujarnya.
Bahasa Indonesia saat ini, menurut Elvian telah banyak dipengaruhi bahasa daerah lain seperti Bahasa Betawi dan Bahasa Jawa. "Hal tersebut karena penutur Bahasa Melayu bukan lagi hanya orang Melayu, tapi juga dari berbagai daerah lain di seluruh Nusantara," kata dia.
Elvian menjelaskan, sebagai cikal bakal Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu Bangka memiliki lima dialek bahasa daerah.
Dia menjelaskan, bahasa daerah Melayu Bangka mempunyai lima dialek utama yaitu dialek Mentok, dialek Belinyu, dialek Toboali, dialek Sungailiat dan dialek Pangkalpinang.
"Bahasa Nasional kita yakni Bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Melayu Bangka, hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya Prasasti Kota Kapur, tulisan pada prasasti ini ditulis dalam aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu," kata dia.