Kamis, 4 Juni 2026

Merintis Rumpon Cumi di Perairan Tuing (1)

Drum Bekas Mulai Ditempeli Telur Cumi

RUSAKNYA perairan di Bangka Belitung akibat dari penambangan laut, membuat habitat cumi Bangka semakin terkurung

Tayang:
zoom-inlihat foto Drum Bekas Mulai Ditempeli Telur Cumi
bangkapos.com/teddymalaka
Rumpon cumi yang mulai ditempeli telur cumi
Laporan Wartawan Bangka Pos, Teddy Malaka

RUSAKNYA perairan di Bangka Belitung akibat dari penambangan laut, membuat habitat cumi Bangka semakin terkurung. Langkah penting adalah usaha bagaimana membuat penyelamatan habitat hewan laut ini agar dapat dilakukan dan berhasil melalui penelitian rumpon cumi.

PENELITIAN rumpon cumi yang dilakukan oleh dosen perikanan Universitas Bangka Belitung (UBB), Indra Ambalika, telah berhasil menjadi daerah pemijahan cumi-cumi. Rumpon cumi tersebut dibuat dari bahan kayu dan drum bekas yang merupakan bantuan dari Corporate Sosial Responsibility (CSR) PT Bangka Cakra Karya yang berlokasi di Desa Kudai Sungailiat Bangka.

Indra Ambalika menyampaikan, sebanyak 77,78 persen drum bekas yang ditenggelamkan pada tanggal 15 Oktober 2012 di Perairan Tuing Kacamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, telah berhasil ditempeli oleh telur cumi.

“Monitoring hasil penenggelaman rumpon cumi ini dilakukan pada 18 November 2012 lalu. Setiap rumpon cumi rata-rata berisi 152 kapsul telur cumi dimana setiap kapsul berisi 2-5 individu baru cumi. Artinya setiap unit rumpon cumi menghasilkan sekitar 532 individu cumi-cumi” ungkap Indra Ambalika, Kamis (29/11/2012).

Indra menjelaskan pada penelitian ini, rumpon cumi ditenggelamkan pada kedalaman 3, 5, dan 7 meter. Dari hasil penelitian, rumpon yang paling banyak ditempeli oleh telur cumi adalah pada kedalaman 3 meter dan yang paling sedikit pada kedalaman 7 meter.

“Cumi-cumi secara umum memang hidup dan beraktivitas di perairan yang lebih dalam, namun jika memijah akan menuju ke perairan yang lebih dangkal,” jelasnya.

Penelitian efektifitas rumpon cumi ini sangat penting untuk dilakukan mengingat Bangka Belitung cukup dikenal dengan “cumi bangka” yang telah diekspor dan dipasarkan pula di swalayan-swalayan besar di Jabodetabek.

“Harga cumi bangka relatif lebih tinggi dibandingkan dengan cumi lain di pasaran. Selain itu, walaupun saat musim cumi melimpah, cumi-cumi masih dapat diolah menjadi cumi kering, cumi asin, kerupuk cumi, kritcu dan banyak lagi jenis produk makanan berbahan cumi dengan harga yang tetap tinggi,” katanya yakin.

Indra Ambalika berharap hasil penelitian ini nantinya dapat meningkatkan hasil tangkapan cumi nelayan lokal dan mengurangi penangkapan di ekosistem terumbu karang sehingga karang dapat melakukan restorasi secara alami.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved