Misteri Keramat Gunong Padi
Udara terasa lebih dingin setelah kaki menginjak puncak sebuah bukit
Laporan Wartawan Bangka Pos, Wahyu Kurniawan
BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Udara terasa lebih dingin setelah kaki menginjak puncak sebuah bukit di Kampong Simpang Tige, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur, Minggu (6/1/2013) sore. Di sana, lima nisan membisu di antara semak belukar yang terus bergoyang dibelai angin sepoi-sepoi.
Rombongan yang terdiri dari sembilan orang terhenyak, termasuk Kadar, pria asal Gantong yang memandu rombongan menyambangi puncak bukit. Ada beberapa bagian yang berubah dari lima nisan yang disebut oleh warga dengan nama Keramat Gunong Padi.
"Dulu bata ini lum dicor pakai semen, nisan ini la nisan baru," ujar Kadar.
Keramat Gunong Padi merupakan kuburan tua yang terdiri dari lima buah nisan di puncak bukit setinggi kurang lebih 120 meter. Kelima nisan itu dipatok dalam satu tambak yang terbuat dari bata merah.
Tak ada satu pun tulisan yang tertera di kuburan tersebut. Namun, bila dilihat dari bentuk nisan, kuburan itu terdiri dari dua pria dewasa, satu perempuan dewasa, satu anak laki-laki dan satu anak perempuan.
"Siapa sangka Belitong menyimpan tempat seperti ini, luar biasa," kata Andrea Hirata, penulis Novel Laskar Pelangi yang juga ikut dalam rombongan.
Keramat Gunong Padi berada sekitar satu kilometer dari sisi utara ruas jalan tengah, Desa Simpang Tiga. Letaknya berada di tengah perkebunan kelapa sawit PT Rebinmas Jaya. Untuk mencapai keramat ini, harus melalui jalan blok perkebunan yang belum diaspal.
Jalan menuju puncak bukit cukup baik dan bisa dilalui oleh sepeda motor dan mobil. Bukit ini juga dipenuhi pohon kelapa sawit yang ditanam dengan sistem teras. Dari atas, tampak sekeliling bukit dipenuhi pemandangan kebun sawit, dan perbukitan. Dari sini juga bisa dilihat puncak Gunong Tajam dan Gunong Badau.
Dukun Kampong Simpang Tige Asna'ie (53) mengatakan, Keramat Gunong Padi dikenal oleh warga sebagai tempat untuk bernazar, khususnya saat mau memulai membuka ladang padi. Ketika panen berhasil, warga yang mengucapkan nazar di keramat tersebut akan kembali untuk menunaikan nazarnya masing-masing.
Hingga kini, Asna'ie belum tahu persis sejarah Keramat tersebut. Namun cerita yang berkembang di masyarakat setempat menyebut keramat tersebut tempat itu adalah kuburan Kik Ulas.
"Aku dak tau sejarah e, tapi mimang yang dikubor di situ ukan urang biase, dan mungkin ade kaitan dengan jaman urang bekebun-kebun duluk e," ungkap Asna'ie kepada Pos Belitung.
Keberadaan Keramat Gunong Padi memang masih misterius hingga kini. Namun keramat ini menyimpan keindahan pemandangan lanskap perbukitan dan perkebunan Pulau Belitung. Keramat ini menjadi jejak kebudayaan agraris masyarakat Pulau Belitong.
"Mimang duluk e urang di mane bekebun, di situk la nguborek e, lum ade patokan jalan macam sekarang," jelas Asna'ie.


