Ini Kisah Tujuh Datuk Penyebar Islam di Belitung
Jurnal Etnologi Hindia Belanda ‘Tijdschrift voor Indische Taal, Land-En Volkenkunde ‘ tahun 1890 memuat sebuah
Laporan wartawan Pos Belitung, Wahyu K
BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Jurnal Etnologi Hindia Belanda ‘Tijdschrift voor Indische Taal, Land-En Volkenkunde ‘ tahun 1890 memuat sebuah cerita rakyat tentang tujuh penyebar Agama Islam yang disebut oleh masyarakat Belitong dengan nama Datuk Keramat. Selain Datuk Keramat Gunong Tajam, disebutkan pula nama Datuk Keramat Simpang Cengal Ngabehi Sijuk.
Cerita ketujuh Datuk Keramat dalam jurnal tersebut ditulis dalam Bahasa Belitong kuno di Batavia 1 Desember 1889. Sayang tidak ada keterangan mengenai siapa penulis cerita rakyat tersebut. Setelah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, tujuh Datuk Keramat tersebut secara berurutan yakni Datuk
Keramat Setampin bertempat tinggal di Sungai Cerucuk Tanjungpandan, Datuk Keramat Jemang bertempat tinggal di Kelekak Datuk Ngabehi Badau, Datuk Keramat Gunong Tajam bertempat tinggal di Aik Batu hulu Sungai Buding Ngabehi Buding, Datk Keramat Simpang Cengal Ngabehi Sijuk, Datuk Keramat di Padang Lambayan Ngabehi Gunong Sepang, Datuk Keramat Suwat Lais, Sungai Lenggang, Kariya Lenggang, dan Datuk Keramat di Padang Lilangan, Ngabehi Badau.
Masih menurut cerita dalam jurnal tersebut, ketujuh datuk keramat ini disebut berasal dari Negeri Pasai (Aceh). Ketujuh Datuk Keramat ini bersaudara dan dikenal orangnya manis dan menjalankan hukum hukum agama Nabi Muhammad. Mereka pula yang disebut mengajarkan rukun Islam kepada orang-orang di Belitong.
Namun, secara umum cerita rakyat tersebut lebih banyak mengisahkan tentang kehidupan Datuk Keramat Gunong Tajam. Kisah enam datuk lainnya tak sedikit pun diulas, termasuk Datuk Keramat Simpang Cengal.
Jika melihat kedudukannya, Datuk Keramat Simpang Cengal saat ini masuk dalam wilayah Desa Sijuk Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Namun kini tak banyak yang tahu soal keberadan Datuk Keramat tersebut.
Junaidi (63), Warga Desa Sijuk mengatakan, kebanyakan masyarakat hanya tahu tentang Kubor Keramat Cengal yakni sebuah makam tua di perbatasan wilayah Desa Air Selumar dan Desa Sijuk.
Dari penelusuran yang dilakukan bersama Pos Belitung, tampak makam tersebut berada cukup jauh dari pemukiman. Perjalanan ke makam tersebut bisa diakses lewat perkebunan kelapa sawit yang berada jauh di belakang pemukiman warga Desa Tanjong Tinggi.
Sesampainya di lokasi, akses menuju makam hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Lokasinya berada di sebuah hutan kecil di antara bekas kolong dan kebun kelapa sawit. Di tengah hutan kecil tersebut terdapat sebuah pohon beringin besar dan sekitarnya penuh dengan semak belukar.
Tak jauh dari pohon beringin tersebut, terdapat belasan makam tua yang saling berdekatan dan sudah tidak terawat. Jika melihat bentuk nisannya, tampak makam tersebut terdiri dari makam pria dan wanita dewasa.
Dari belasan makam, hanya satu makam yang memiliki nisan yang terbuat dari batu granit. Selebihnya, semua makam di area tersebut menggunakan nisan dari kayu. Menurut Junaidi, makam dengan nisan batu granit itulah yang dikenal masyarakat dengan nama kubor keramat Cengal.
“Setahu saya tidak ada lagi keturunannya di Sijok, jadi kami juga tidak tahu bagaimana cerita dari kubor keramat ini,” kata Junaidi kepada Pos Belitung, Selasa (14/4) sore.
Menurutnya, lokasi makam tersebut berada di perbatasan antara Desa Air Selumar dan Desa Sijuk. Disebut Keramat Cengal karena makam tersebut berada di sekitar Sungai Cengal. Kata cengal disebut memiliki arti dangkal sehingga secara harfiah Sungai Cengal adalah sungai yang dangkal.