Bungker Misterius Bos Pekerja Timah dari China di Belitung
Bungker misterius ini dikaitkan dengan bos pekerja Timah dari Tiong Hoa, Kapiten Ho A Yun.
BANGKAPOS, TANJUNGPANDANG - Penemuan ruang bawah tanah misterius, yang diperkirakan bungker, di bawah lantai panggung ball room Hotel Billiton, Tanjungpandan, Belitung, dikaitkan dengan keberadaan tokoh Tiong Hoa, Kapiten Ho A Yun.
Tokoh masyarakat Tiong Hoa, Ayie Gardiansyah mengaku sampai tak konsentrasi seharian lantaran memikirkan penemuan ruang bawah tanah mirip bungker tersebut. Pasalnya berita itu membuatnya teringat pada cerita lama.
"Dulu sekitar tahun 72 atau 73, kakek saya pernah cerita soal rumah Kapiten itu, makanya saya dari tadi dak terlalu dengar orang-orang ngomong sama saya, karena memang saya memikirkan berita ini," kata Ayie kepada Pos Belitung, Jumat (24/4).
bangkapos.com/wahyu
Wahyu Brata sedang mengecek ruang bawah tanah di ball room hotel Billiton, Kamis (23/4/2015) siang.
Menurut penuturan kakeknya, jabatan Kapiten Ho A Yun, zaman dulu sama seperti posisi bupati pada masa kini. Kediamannya sangat dihormati warga Tiong Hoa sampai-sampai, setiap yang melewati rumah tersebut harus menundukkan kepala.
"Dulu kata kakek saya, Kapiten pernah mendatangkan ahli terowongan dari Negeri Tiongkok. Setelah pekerjaannya selesai, ahli terowongan itu dipulangkan kembali ke negerinya, jadi tidak ada yang tahu soal kegiatan mereka selama di rumah Kapiten," kata Ayie.
Dalam beberapa artikel yang dipublikasikan media, Kapiten Ho A Yun, disebut sebagai ''bos'' pekerja Tiong Hoa yang didatangkan ke Belitung untuk bekerja di tambang timah.
Kedatangan besar-besaran pekerja Tiong Hoa terjadi sejak Belanda membuka perusahaan penambangan timah yang kemudian dinamai Billiton Maatschappij (BM) di Air Lesung, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, pada 1851.
Kapiten Ho A Yun lah yang bertugas mendatangkan pekerja yang umumnya berasal dari daerah utara Kwantung dan selatan Fukien, China, dan biasa disebut Hakka. Kadang, mereka dipanggil Xinke atau orang Khek.
Seiring perkembangan tambang timah, jumlah kuli kontrak terus bertambah dari tahun ke tahun. Tahun 1851, terdapat 28 orang yang datang, tahun 1856 sebanyak 627 orang, dan meningkat menjadi 1.326 orang tahun 1864. Tahun 1866, jumlahnya naik lagi menjadi 2.724 orang, dan 1905 sebanyak 22.670 orang. Mereka terus datang hingga menjelang kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945.
Para kuli kontrak bekerja dalam sebuah kongsi yang terdiri dari sekitar lima orang dan dipimpin kepala parit. Mereka bekerja dalam sistem kontrak tertentu dengan upah yang dipotong biaya akomodasi dan konsumsi yang telah dinikmati.
Ayie mengatakan, sebagai seorang pemimpin, kapiten mungkin saja menyiapkan jalan rahasia untuk persembunyian di saat darurat. Namun di sisi lain, keberadaan ruang bawah tanah itu juga berhubungan dengan kisah misterius makam Kapiten Ho A Yun.
Ayie mengatakan, sampai sekarang belum diketahui di mana lokasi makam kapiten. Menurut kakeknya, terdapat sejumlah dugaan mengenai lokasi makam tersebut. Pertama lokasinya berada di Air Batu Buding, kedua di Pilang, Desa Dukong, dan ketiga di ruang bawah tanah rumahnya sendiri.
Dugaan ketiga lanjut Ayi, bukannya tanpa alasan. Sebab, lantai di bawah Toapekong terasa kopong. Itu artinya seperti ada ruangan di bawah lantai tersebut. Kakeknya sendiri sudah pernah mengecek kondisi lantai di bawah Toapekong tersebut dan meyakini bahwa terdapat ruangan di bawahnya.
"Kakek saya itu pensiunan timah tiga zaman, Belanda, Jepang, Indonesia, Beliau dulu Kepala Parit di Sungai Padang, dan sering ke rumah itu kalau ada acara perusahaan."
Ia mengatakan, akan segera mengunjungi ruang bawah tanah. Bahkan jika diperbolehkan, dirinya juga ingin ikut menelusuri ruang bawah tanah tersebut. Sebab, menurutnya bukan tidak mungkin ruang bawah tersebut menyimpan jenazah Kapiten.
"Kalau memang makam Kapiten ada di bawah sana, jelas di dalam petinya pasti banyak harta, tapi yang terpenting sebenarnya adalah penelusuran ruang bawah tanah itu akan banyak mengungkap sejarah Belitung."
Mantan Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Belitung Periode 2009-2014, Ishak Holidi mengatakan bermarga Ho yang sama dengan Kapiten Ho A Yun. Namun keluarganya bukanlah keturunan dari Kapiten tersebut.
"Saya juga tidak pernah dengan soal ruang bawah tanah itu, tapi dulu keturunan-keturunan Kapiten itu sering berkunjung ke Belitung, mereka sekarang tinggalnya menyebar, ada yang di Jakarta ada yang di Belanda," kata Ishak kepada Pos Belitung, Jumat (24/4).
Anggota Komisi I DPRD Belitung, Agung juga tak menampik ikut penasaran. Pasalnya banyak cerita berkembang dari orang-orang tua zaman dulu seputar rumah kapiten tersebut.
"Makanya kami di DPRD segera akan meninjau lokasi itu, kalau perlu ikut turun juga nelusuri dalamnya seperti apa, kalau ada penemuan barang kan, itu harusnya jadi milik pemda, bukan punya pihak hotel," kata Agung.
Satu cerita yang pernah didengarnya menyebutkan ruang bawah tanah di Hotel Billiton tersebut memiliki terowongan yang tembus hingga ke daerah Pasar Ikan Tanjungpandan. Namun secara pribadi, Agung lebih condong pada dugaan bahwa ruang bawah tanah ini itu adalah tempat persembunyian rahasia di saat darurat.
Ruang bawah tanah menyerupai bungker ditemukan di bawah panggung dalam ball room Hotel Billiton, Kamis (23/4).
Manajer Hotel Billiton Wahyu Brata mengatakan, penemuan ruang bawah tanah tersebut berawal dari kegiatan renovasi panggung dalam ball room hotel. Sebagian lantai panggung yang terbuat dari kayu dibongkar karena sudah lapuk.
Setelah dibongkar, pihaknya kaget ketika mendapati sebuah lorong di bawahnya. Lorong tersebut terbuat dari beton dan memiliki tangga menuju ke bawah tanah.
"Kita awalnya juga tidak tahu kalau ada ruangan bawah di tanah di bawah panggung ini. Saya coba tanya sana-sini, ada beberapa versi sih," kata Wahyu kepada Pos Belitung, Kamis siang.
Ruang bawah tanah tersebut memiliki ke dalaman sekitar 175 cm. Terdapat lima anak tangga yang arahnya menuju Pantai Tanjungpendam. Setelah itu, ruang bawah tersebut memiliki sebuah lorong selebar 70 cm ke arah kiri atau mengarah ke Gang Kim Ting, Pasar Ikan Tanjungpandan.
Lorong tersebut memiliki panjang sekitar empat meter dan pada bagian ujung ditutup dengan batu bata merah. Wahyu menyakini, lorong tersebut sengaja ditutup dengan tujuan tertentu. (kk1)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/bungker-biliton-2_20150424_183456.jpg)