Jumat, 17 April 2026

Pakar NASA Sebut Bencana Asap 2015 Terburuk dalam Sejarah

''Jika hasil prakiraan cuaca tetap bertahan di musim kering, ini akan membuat 2015 masuk peringkat terparah dalam rekor. Kabut asap semakin tebal.''

blogger
Asap selimuti Bandara Kualalumpur Minggu (4/10/2015). Namun pesawat masih bisa mendarat karena jarak pandang masih mencapai 1.000 meter. 

BANGKAPOS.com - Seorang ilmuwan di Goddart Institute for Space Studies NASA, Dr Robert Field menyebut asap kebakaran hutan Indonesia yang menyelimuti beberapa negara Asia Tenggara sebagai krisis polusi udara terburuk sepanjang sejarah.

Menurut NASA, dikutip oleh The Straits Times, masalah kabut asap ini sudah hampir separah masalah serupa yang pernah terjadi pada 1997 lalu.

Saat itu, kabut asap akibat kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera menimbulkan bencana kabut asap yang melanda Malaysia, Singapura, Brunei, hingga Thailand.

BACA JUGA: Pangkostrad Jenderal Si Anak Medan Ditegur Tak Bentak-bentak Presiden

Krisis kabut asap tahun ini sudah membuat banyak aktivitas dan kesehatan terganggu. Berbagai kritik dari negara-negara tetangga terus mengkritisi Indonesia atas upayanya yang dinilai belum cukup untuk mengatasi masalah ini.

"Kondisi di Singapura dan Sumatera sudah semakin mendekati (kondisi) pada 1997," ujarnya.

Robert juga memperingatkan musim kering yang berkepanjangan ini akan semakin memperburuk tingkat polusi udara dan membuatnya memecah rekor terburuk.

"Jika hasil prakiraan cuaca tetap bertahan di musim kering, ini akan membuat 2015 masuk peringkat terparah dalam rekor. Kabut asap pun akan semakin tebal," ujarnya.

Global Fire Emissions Database, yang didukung juga oleh NASA, memperkirakan sekitar 600 juta ton gas rumah kaca telah dihasilkan oleh kebakaran pada tahun ini.

BACA: Kabut Asap Renggut Nyawa Balita di Jambi 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi, kerugian ekonomi akibat bencana kabut asap yang terjadi karena kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi di Indonesia pada 2015 bisa melebihi angka Rp 20 triliun.

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, yang kemudian menimbulkan bencana kabut asap, bukan yang pertama kali. Dalam 20 tahun terakhir, bencana serupa hampir setiap tahun terjadi.

Sementara Walhi mengungkapkan dari Januari hingga September 2015, ada 16.334 titik panas (berdasarkan LAPAN) atau 24.086 (berdasarkan NASA FIRM) yang tersebar di lima provinsi dengan kebakaran hutan terparah yaitu Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Riau.

Titik-titik panas tersebut berada di konsesi perusahaan. Beberapa di antaranya yaitu Kalimantan Barat ada 2.495, Kalimantan Tengah 5.672, Riau 1.005, Sumatera Selatan 4.416 dan Jambi 2.842.

Nilai ISPU di daerah-daerah tersebut dalam beberapa waktu belakangan sudah di atas level berbahaya. Contoh di Kalimantan Barat, indeks standar pencemaran umum (ISPU) sempat mencapai angka 1.300 atau empat kali lipat level berbahaya (di angka 300-500), sementara nilai ISPU rata-rata mencapai 600-800.(tribunnews)

Sumber: bangkapos
Tags
kabut asap
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved