Rabu, 22 April 2026

Pembangunan Objek Wisata di Pulau Bangka Masih Setengah Hati

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwista Babel, Tajuddin mengatakan selama ini dinas yang dia pimpin tidak memiliki sumber pendapatan untuk daerah.

bangkapos.com/Iwan S
Pemandangan matahari tenggelam dari pantai Tanjung Putat Belinyu. Tanjung Putat sendiri merupakan salah satu objek wisata yang ada di dalam wilayah Teluk Kelabat. 

PANGKALPINANG, BANGKA POS - Hampir semua masyarakat Toboali mengenal Pantai Laut Nek Aji.

Beberapa gazebo atau tempat istirahat baru saja dilakukan perawatan khususnya di bagian sebelah kiri wisata.

Melongok ke sebelah sisi kanan atau tepatnya di bagian bawah kawasan Benteng Toboali terlihat dalam keadaan rusak.

Atap gazebo telah hancur berantakan serta beberapa kursi yang terbuat dari batu terlihat tumbang.

Saat disambangi selepas hujan, hampir semua gazebo digenangi air, Rabu (17/11). Di bibir pantai, sampah plastik makanan dan minuman berserakan.

Padahal, setiap hari warga sekitar selalu berkunjung untuk sekadar melepas lelah ataupun mengajak anak-anak bermain.

Fasilitas toilet memang disediakan, tetapi minim perawatan.

Beberapa kegiatan besar pemerintah hingga masyarakat sering dilaksanakan di tempat ini, tepatnya di lapangan bola sebelum menuju ke bibir Pantai Nek Aji Toboali.

Kondisi tersebut menimbulkan kesan bahwa pemerintah daerah setengah hati mengembangkan potensi wisata.

Hal itupun diakui pelaku pariwisata di Bangka Selatan, Dodi saat berbincang- bincang dengan Bangka Pos belum lama ini.

"Saat ini masih wisatawan lokal saja belum secara nasional, memang semua tergantung promosi wilayahnya. Jika memang kita serius dan mendapat perhatian dari pemerintah mungkin bisa berkembang seperti Pantai Tanjung Krasak atau Tanjung Kubu," jelasnya.

Kondisi serupa di Pantai Tungau Desa Planggas Kecamatan Simpangteritip, Bangka Barat.

Andi (40) warga Dusun Tungau Sadar Jaya Desa Planggas menyebutkan, belum ada penjual baik warung maupun toko di seputaran Pantai Tungau.

"Pantai ini hanya ramai di hari tertentu saja. Biasa pedagang yang menggunakan motor," katanya.

Sedangkan objek wisata yang berada di antara Pelabuhan Tanjung Gudang, Belinyu dan Mako Lanal Babel sudah belasan tahun tanpa perubahan.

Menurut warga sekitar Tanjung Putat, Irwan, seharusnya ada perhatian pemerintah daerah untuk pengembangan Tanjung Putat seperti dengan menambah fasilitas pondok-pondok peristirahatan.

"Kalau bisa ditata lagi, ini air tawar saja nggak ada. Sayang kalau tempat sebagus ini kurang perhatian," imbuhnya.

Lurah Air Jukung, Helsiana mengakui tidak ada pengembangan untuk objek wisata Tanjung Putat. Padahal tempat tersebut setiap sore tidak pernah sepi dari kunjungan warga.

"Dari dulu memang ramai karena dekat kota, orang jualan juga lumayan hasilnya. Tempat itu berkembang sendiri," ungkap Helsiana.

Pendapatan pajak
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwista Babel, Tajuddin mengatakan selama ini dinas yang dia pimpin tidak memiliki sumber pendapatan untuk daerah.

Namun dinas di daerah mendapatkan pemasukan karena kepengurusan izin usaha.

"Sumber pendapatan daerah itu dari kabupaten dan kota, PAD banyak pajak hotel, restoran itu dipungut dan jadi pendapatan pariwisata kabupaten/kota. Makin tahun makin besar pajak restoran dan hotel," kata Tajuddin

Dijelaskan Tajuddin, tidak adanya pendapatan dari pariwisata Babel dikarenakan semua hal yang berkaitan dengan izin digratiskan.

Hal itu dilakukan untuk mendorong semakin majunya bisnis Pariwista di Babel.

"Untuk pariwisata pendapatannya tidak langsung, tapi ada multiplayer efe. Jika banyak wisatawan yang datang makin banyak pendapatan masyarakat. Jadi sektor pariwisata itu multiplayer efeknya wisatawan, usaha pariwista ini kembali untuk masyarakat itu usaha ikutannya misalnya membuka rental mobil, souvenir, rumah makan, itu multiplayer efek dari pembangunan pariwista," ujarnya.

Alokasi anggaran untuk bidang pada tahun 2015 Rp 24 miliar naik dari tahun 2014 Rp 22 miliar.

Terpisah Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Basel mengakui, hingga saat ini belum ada sumber pariwisata yang menjadi pendapatan wilayahnya.

"Ada Perda nomor 23 tahun 2011 mengenai retribusi rekreasi dan sarana olahraga, untuk pariwisata belum, tetapi olahraga sudah ada.Saat ini kita masih fokus dalam perbaikan fasilitasnya yang nanti bermuara ke sana (pendapatan daerah)," ungkap Kepala Disparbudpora Basel, Husni didampingi Sekretarisnya, Ahmad Syafri, Kamis (19/11).

Menurutnya, jika masyarakat telah menikmati maka pemerintah baru dapat menarik retribusi secara jelas dan tepat.

"Untuk tahun ini dari Rp 5,4 Miliar untuk anggaran pariwisata diberikan sebesar Rp 1,3 Miliar, untuk pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada. Fokus kita saat ini di Pantai Tanjung Krasak seperti pembangunan landscape, gazebo enam unit, kamar ganti dan toilet dengan penyelesaian sekitar 90 persen," katanya. 

Perbanyak Desa Wisata

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Rustam Effendi akan memperbanyak desa wisata dan kelompok sadar wisata, guna mempercepat pembangunan pariwisata di daerah itu.

"Keberadaan desa wisata dan kelompok masyarakat sadar wisata ini sangat membantu pemerintah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan di daerah ini," kata Rustam Effendi usai menyerahkan hadiah pemenang desa wisata dan kelompok sadar wisata tingkat provinsi di Pangkalpinang, Sabtu.

Rustam memberikan piala dan hadiah kepada pemenang pertama lomba kelompok sadar yang diraih Kelompok Burong Mandi dari Kabupaten Belitung Timur dengan nilai 959,4.

Pemenang kedua diraih Kelompok Tanjong Tinggi dari Kabupaten Belitung dengan nilai 905,9 dan peringkat ke-3 Kelompok Air Anyir dari Kabupaten Bangka dengan nilai 857,3.

Sedangkan pemenang pertama kategori lomba desa wisata diraih Desa Burong Mandi, pemenang kedua Desa Tanjong Tinggi dan pemenang ketiga diraih Desa Air Anyir Kabupaten Bangka.

"Saya berharap pemenang terus meningkatkan kreativitas membangun dan mempromosikan wisata di desanya," ujarnya.
Dalam mendorong pertumbuhan kelompok sadar

wisata dan desa wisata, kata dia, pemerintah provinsi siap melatih sumber daya manusia, memfasilitasi dan membantu masyarakat membangun kepariwisataan di daerahnya.

"Kita mengapresiasi masyarakat yang ikut berperan membangun dan mempromosikan potensi pariwisata alam, seni budaya dan lainnya di daerah ini," ujarnya.

Bangun wisata bahari
Terpisah, Kepala Bappeda Babel, Yan Megawandi mengatakan Pemprov Babel akan fokus membangun wisata bahari di Desa Tuing Mapur.

Wisata bahari menargetkan peningkatan wisatawan mancanegara di daerah itu.

Yan menjelaskan potensi wisata bahari Tuing Mapur yang akan dikembangkan wisata bawah laut, pantai dan pusat studi pengembangbiakan cumi-cumi dan potensi wisata alam lainnya di daerah itu.

"Kita akan jadikan perairan Tuing Mapur sebagai pusat studi cumi-cumi di Indonesia dan dunia, sehingga Tuing Mapur dapat menjadi destinasi wisata baru di daerah ini," kata Yan, Sabtu (21/11).

Ia mengatakan dijadikannya Tuing Mapur sebagai pusat penelitian cumi-cumi, dapat meningkatkan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara di daerah ini.

"Para wisatawan bisa menikmati keindahan pantai, alam bawah laut dan melihat langsung cumi-cumi bertelur secara langsung di alam," ujarnya.

Selain itu, kata dia, Tuing Mapur sebagai pusat penelitian cumi-cumi, maka peneliti dunia dan dalam negeri akan banyak berkunjung ke daerah itu.

"Wisata bahari Tuing Mapur dengan cumi-cuminya harus kita promosikan, agar wisatawan domestik dan mancanegara tertarik untuk datang berkunjung ke daerah ini," ujarnya. (tim)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved