Rabu, 22 April 2026

Kombes Martuani Bentak Untung Sangaji: Kamu Siapa!

Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya, Kombes Martuani Sormin sempat mencurigai AKBP Untung Sangadji di lokasi teror Sarinah.

Editor: fitriadi
AFP / BAY ISMOYO
Polisi melepas tembakan ke arah terduga pelaku yang berada di luar sebuah kafe setelah ledakan menghantam kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2016). Serangkaian ledakan menewaskan sejumlah orang, terjadi baku tembak antara polisi dan beberapa orang yang diduga pelaku. 

Semula dia tak mengetahui insiden apa di tempat itu. Senjata api masih di pinggangnya. Setelah Rais, office boy sebuah bank tertembak, dia bingung menentukan korban itu meninggal atau tidak.

Lalu, terduga teroris menembak anggota Provost. Setelah ada penembakan, dia sadar para pelaku bersenjata.

Dia memimpin aparat kepolisian untuk menumpas pelaku dari Starbuck Coffee.

Dia menilai para pelaku itu meniru insiden peledakan bom di Paris. Di kesempatan itu, dia menyayangkan warga sipil dan awak media yang berada di dekat peristiwa penembakan.

Ini membuat kesulitan aparat kepolisian menentukan pelaku atau sipil.

"Saya belum paham dia nembak. Ini Alif dan Afif masih ngobrol. Saya menolong anggota pospol, ini (Ali) menembak. Rupanya dia melakukan. Ketiga, tertembak Rais. Dia habis nembak ini (Rais). Ini Afif. Ini Untung (AKBP Untung Sangaji-red). Ini mengerikan. Saya baru tahu Untung polisi. Sebelumnya gak tahu," kata dia.

Setelah mengetahui AKBP Untung Sangaji merupakan aparat kepolisian, dia meminta Untung untuk melindungi dia di bagian belakang.

Sementara, sopir Martuani membawa senjata api berada di sisi kiri. Dia mengaku menghabiskan 2 magazine untuk menumpas teror saat itu.

Satu magazine berisi 11 peluru. Penanganan teror berlangsung selama 10 menit setelah Rais tertembak.

Dalam kondisi seperti itu, menurut dia, harus dilakukan penindakan cepat. Sehingga, dia tak memperdulikan standar operasional (SOP) penanganan teror. Apalagi menunggu memasang rompi anti peluru. Apabila memaksakan memasang rompi, maka bisa saja korban pihak sipil bertambah banyak.

"Kalau saya menunggu rompi, ya wassalam. Di mobil saya juga ada rompi antipeluru. Kalau SOP harus bawa. Kalau penindakan itu kan di film-filim yang kita skenariokan akan ditembak. Itu spontan," tambahnya.

Sebagai upaya mengantisipasi insiden serupa, maka Martuani membawa senjata api. Di pinggang terdapat dua magazine. Dia sempat memperlihatkan itu kepada wartawan.

Sumber: Tribunnews
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved