Astaga! LGBT di Semarang Telah Mencapai 20 Ribu Orang
Jumlah LGBT di Jawa Tengah mencapai 15.000 sampai 20.000 orang.
BANGKAPOS.COM, SEMARANG - Berdasarkan data komunitas LGBT Kota Semarang, Rumah Pelangi Indonesia, jumlah LGBT di ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu mencapai 15.000 sampai 20.000 orang.
"Yang tercatat dan menjadi anggota di akun media sosial dan itu grup tertutup ada 7.000 orang. Itu Kota Semarang dan sekitarnya saja. Padahal banyak teman saya tidak masuk grup itu. Jadi perkirakan sendiri, jumlah LGBT di sini bisa mencapai sekitar 20.000 orang," kata Ketua Komunitas Rumah Pelangi Indonesia, Stanley, kepada Tribun Jateng, akhir pekan lalu.
Stanley yang mengaku juga sebagai gay menuturkan, dari 7.000 orang yang tergabung dalam grup tertutup hampir keseluruhan adalah gay.
Padahal, LGBT juga terdapat lesbian, biseksual dan transgender.
Ia mengatakan, Rumah Pelangi merupakan komunitas independen dan tidak berafiliasi dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) manapun.
Karenanya, seluruh kegiatan dan program yang dijalankan didanai secara swadaya.
"Banyak acara yang kami gelar. Seperti diskusi, gathering, nonton film, charity. Dan itu biayanya swadaya, kami semua urunan. Kami juga punya kegiatan tahunan yaitu operate summit yang digelar secara nasional," jelasnya.
Stanley menjelaskan, tidak semua LGBT membuka diri terhadap lingkungan sekitar. Sebagian besar masih menutup diri.
"Kami di komunitas, mengedukasi mereka. Kita tidak pernah mendorong agar mereka membuka diri, tapi kami mengedukasi. Jika terbuka konsekuensinya begini, kalau tertutup yang harus dilakukan begini. Pilihan terbuka atau tertutup kami serahkan kepada masing-masing orang," jelasnya.
Stanley berharap tidak ada lagi LGBT diusir dari rumah. Ia menyebut beberapa LGBT tidak diterima oleh keluarga sendiri akhirnya harus keluar dari rumah.
"Kami juga tidak ingin ada lagi LGBT yang mendapatkan perlakuan diskriminasi dan kekerasan, baik di rumah, lingkungan maupun di tempat kerja," tandasnya.
Terbuka kepada keluarga, menurut pengurus Rumah Pelangi Indonesia lainnya, sebut saja Asep, merupakan hal yang paling sulit dilakukan.
"Kami sebagai LGBT lebih mudah berbicara dengan teman dibanding dengan keluarga. Kalau dengan keluarga, ada kekhawatiran akan diusir, takut putus pendidikan karena tidak dibiayai dan lainnya," tambahnya.
Menyikapi kondisi saat ini dimana banyak media menyorot dan menjadikan LGBT sebagai isu, lanjutnya, diduga ada kepentingan tertentu.
"Ini dilematis bagi kami. Kalau diam, malah isunya semakin menjadi-jadi. Kita mau melawan, tapi ada banyak penghalang," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/lgbt_20160229_200035.jpg)