Ada Sungai Besar di Bawah Laut Perairan Mentawai
Tim peneliti gabungan dari Indonesia, Perancis, dan Singapura menemukan beberapa data menarik di perairan Mentawai.
BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Tim peneliti gabungan dari Indonesia, Perancis, dan Singapura beberapa waktu lalu menemukan beberapa data menarik di perairan Mentawai, Sumatera Barat.
Salah satu temuan yang mengejutkan adalah adanya sungai bawah laut dengan kedalaman 5 meter dan lebar 100 meter, di kedalaman 5.000 meter di bawah laut.
Pemetaan ini dilakukan menggunakan kapal riset milik Schmidt Ocean Institute (SOI) dari Amerika Serikat selama 32 hari pelayaran.
"Teknologi yang ada di kapal survei ini memungkinkan kita mengetahui topografi dasar laut di kedalaman 5.000-6.000 meter dengan akurat," ujar kepala ekspedisi tim peneliti tersebut, Satish Singh, beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari kompas.com.
Sungai bawah laut itu bisa menjadi indikasi keberadaan patahan aktif.
Menurut Satish Singh, timnya berhasil menemukan patahan aktif di Cekungan Wharton, di kawasan Mentawai Gap dan di dekat palung.
"Hasil temuan ekspedisi itu akan memberi pemahaman lebih baik kepada peneliti untuk mengetahui penyebab tsunami, sehingga bisa menentukan langkah tepat dalam mitigasi bencana," kata Singh lewat konferensi video.
Singh mengatakan, Mentawai Gap adalah daerah geologi aktif zona subduksi Sumatera-Andaman yang belum pernah mengalami gempa besar dalam 200 tahun terakhir, sehingga diperkirakan berpotensi merilis gempa besar ke depan. Namun, sejauh ini tak ada yang bisa memastikan kapan gempa terjadi.
Nugroho Hananto, peneliti dari LIPI yang turut dalam ekspedisi itu mengatakan, penelitian yang dilakukan timnya merupakan riset dasar. Dengan demikian, masih butuh beberapa langkah untuk diterapkan.
"Hasil pemetaan nantinya bisa diakses publik setelah kami analisis dan publikasikan dalam paper ilmiah. Lalu, bisa diformulasikan rekomendasi ke pemerintah untuk meningkatkan pengurangan risiko bencana," ujar Hananto.
Hananto menambahkan, survei di Mentawai itu dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi dasar laut sebelum dan sesudah gempa. Jika kemudian terjadi gempa, survei serupa kemungkinan akan dilakukan lagi di wilayah tersebut.
Tim ekspedisi ini merampungkan pemetaan dasar laut dan pengambilan data seismik di perairan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Pemetaan itu untuk menambah pengetahuan tentang risiko tsunami akibat gempa di zona Subduksi Mentawai yang termasuk paling rentan di dunia.
Ekspedisi itu diikuti 10 peneliti dari Earth Observatory Singapore Nanyang Technological University (EOS-NTU), Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Ekspedisi in dinamakan Mentawai Gap-Tsunami Earthquake Risk Assessment (Mega-Tera).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/gempa_20160303_081529.jpg)