Inilah Kebohongan yang Diperbolehkan untuk Suami Istri
Bahkan, jika seorang suami memaksa istri untuk bersumpah guna menceritakan masa lalunya, Syekh Qaradhawi memandang paksaan suami tersebut tidak bijak.
BANGKAPOS.COM -- Kita perlu mengetahui bahwa dalam rumah tangga ada perkataan bohong atau dusta yang diperbolehkan.
Para suami hendaknya menjaga perasaan istri dari perkataan jujur yang berpotensi menyakiti perasaan istrinya, begitu pula istri amat perlu menjaga lisan agar suami tak tersinggung
Berikut ini beberapa hal 'bohong' yang boleh dilakukan oleh pasutri:
1. Bohong mengenai cinta masa lalu yang memang sudah bertaubat dan menjauh dari hal tersebut
Syekh Yusuf Qaradhawi menegaskan alangkah tidak bijaksananya seorang istri menceritakan terus terang kepada suami, misalnya kisah cintanya pada masa lalu yang telah dihapuskan dan ditutup aibnya.
Bahkan, jika seorang suami memaksa istri untuk bersumpah guna menceritakan masa lalunya, Syekh Qaradhawi memandang paksaan suami tersebut tidak bijak.
Pertama, karena mengungkit masa lalu termasuk tindakan yang sia-sia. Kedua sumpah tersebut tidak akan menyelesaikan masalah rumah tangga itu.
2. Bohong yang tidak menggugurkan kewajiban masing-masing suami istri, juga tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya
Batasan berbohong dalam rumah tangga, tentu saja sebatas bohong yang tidak menggugurkan kewajiban pihak masing-masing.
"Mereka (para ulama) sepakat bahwa maksud dari bohong (yang dibolehkan) pada pasangan suami-istri ialah dalam hal-hal yang tidak menyebabkan gugurnya hak si suami maupun si istri, atau tidak menyebabkan salah satu pihak mengambil hak yang bukan miliknya." [Fathul Baari, jilid 5 halaman 300].
3. Berbohong demi terciptanya rasa kasih sayang antara suami istri
Syeikh Ibnu al-Utsaimin rahimahullah juga berkata dalam kitab Syarh Riyaadh as-Shaalihiin [6/184]:
"Termasuk maslahat juga yaitu seorang suami berbohong kepada istrinya atau seorang istri berbohong kepada suaminya dalam hal yang bisa menciptakan kecintaan dan kasih sayang. Misalnya si suami berkata kepadanya: "Bagiku engkau sangatlah berharga, engkau paling aku cintai dari seluruh wanita,..." dan kata-kata lainnya.
Meskipun dia bohong, tetapi itu untuk memasukkan kecintaan kepadanya. Dan maslahat juga menuntut hal tersebut."
4. Berbohong yang tidak menimbulkan mudharat pada orang lain maupun pada diri pasutri tersebut
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/suami-pulang-ke-rumah_20160328_113317.jpg)