Dokter Mulia Ini Mengobati Pasien 24 Jam Gratis Sampai Kehabisan Uang

Ferihana (35) sejak menyandang gelar dokter, tak sekalipun ia memasang tarif bagi pasiennya alias gratis.

Editor: fitriadi
Tribun Jogja/Ikrar Gilang
Ferihana (35), dokter mulia yang membuka klinik pengobatan 24 jam gratis untuk warga. 

"Yang menyenangkan dari pekerjaan ini adalah bagaimana saya dan pasian selalu senang bila bertemu, saya senang mengobati, pasien senang diobati saya. Akhirnya hubungan yang terjalin bukan lagi dokter dengan pasien, tapi lebih seperti interaksi dalam keluarga," terang Hana.

Kekurangan Uang

Konsep pelayanan sukarela harus diakui Hana dan suaminya, tidak bisa memberikan banyak penghasilan.

"Sekitar tahun 2012-2013 saya sempat mengalami keadaan benar-benar tidak mempunyai uang, habis. Sejak saat itu saya berdoa kepada Tuhan agar diberikan penghasilan sampingan untuk menunjang pengobatan gratis ini," ungkap Hana.

Walaupun menerima infak, toh tetap tidak bisa menutup biaya operasional seperti obat-obatan dan alat-alat medis lainnya.

Dengan pengalaman di klinik kecantikan, Hana pun mencoba membuka praktik kecantikan disebelah tempat praktik pengobatan gratisnya.

"Syukurnya, penghasilan dari klinik kecantikan bisa meng-cover biaya operasional, namun saya tetap fokus di pengobatan gratis karena itu pekerjaan utama saya dan masyarakat lebih membutuhkan," terang Hana.

Cari relawan

Mengelola dua klinik sekaligus, Hana bekerja seorang diri sebagai dokter. Ditanya soal mencari dokter pembantu kliniknya, Hana menjawab sudah sering mendapat tawaran tersebut.

Namun pada akhirnya dokter-dokter relawan tidak bertahan lama.

"Mereka kadang hanya bertahan beberapa hari saja. Saya maklum karena kan semua orang butuh penghasilan, jika bergabung dengan saya berarti harus siap tidak mendapatkan uang dan siap lelah," ungkap Hana.

Diakuinya, juga banyak yang ingin membantunya walau kemudian terhenti di lisan saja.

Kedepannya, ia berharap akan ada banyak dokter yang bisa menolong sesama dengan sepenuh hati.

"Awal-awal saya minta izin juga ke ayah saya untuk membukaa praktik sukarela ini, karena kan beliau yang membiayai kuliah saya. Untungnya, beliau sangat mendukung bahkan pada awal memulia membantu memnuhi kebutuhan peralatan," tutur Hana.

Sejauh ini, dokter Hana tidak pernah menyerah dan merasa lelah dengan idealisme pekerjaan yang ia anut. Sekalipun harus memenuhi panggilan pekerjaan di tengah malam.

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved