Lakukan Ini Saat Pesawat Mengalami Turbulensi
Memang turbulensi diluar kendali manusia, namun kita sebagai manusia tetaplah waspada dan berupaya meminimalisir risiko ketika ada turbulensi.
BANGKAPOS.COM - Beberapa hari terakhir diberitakan mengenai turbulensi pesawat ketika mengudara.
Beberapa kabar menyebutkan bahwa peristiwa itu sangat mengerikan dan membuat penumpang pesawat trauma.
Memang turbulensi diluar kendali manusia, namun kita sebagai manusia tetaplah waspada dan berupaya meminimalisir risiko ketika ada turbulensi.
Ada catatan menarik dan baik untuk disimak yang ditulis oleh Direktur Operasi Garuda Indonesia, Captain Novianto yang disebarkan melalui didinding akun Facebook Bpn GA. Berikut tulisannya:
Sehubungan dengan berita2 mengenai beberapa penerbangan terkena "Turbulence" bersama ini Kami Copas tulisan Direktur Operasi Garuda Indonesia - Capt. Novianto, sangat baik utk diikuti, demi keselamatan kita bersama :
Turbulence di ketinggian penerbangan umumnya up and down draft.
Pesawat ini jenis Boeing B777. Bayangkan saja panjang badan (fuselage) sekitar 70 meter. Dengan posisi Center of Gravity (C of G) sedikit di depan sayap.
Ketika terpapar turbulence up and down draft maka bagian fuselage dekat sayap (C of G) akan naik turun secara rata.
Bagian kokpit di depan terjauh dari C of G akan menerima goncangan naik turun tapi tidak terlalu parah dan pilotnya "pasti" pakai 3 points Seat Belt (seputar kaki dan selangkangan) dengan asumsi harnes tidak digunakan (bentuknya V Belt). Jadi ketika terjadi goncangan pilot terikat di kursinya (makanya tenang2 saja karena sudah sering menghadapi goncangan).
Tapi pada bagian ekor fuselage terjauh di belakang C of G akan sangat berbeda (semakin ke belakang semakin parah).
Dengan kelenturan bodi pesawat, bagian ekor jika kena goncangan up and down draft bisa bergerak terlempar 2G force dalam 1 detik.
Artinya apa?
Ekornya secara fisik naik turun antara -1.5 hingga +1.5 meter atau bergerak naik turun 3 meter dalam 1 detik!
Ditambah lagi, pesawatnya juga secara akumulasi naik turun dari ketinggian terbangnya.
Jadi dampaknya seperti dobel. Ketika pesawatnya naik, ekornya justru ketinggalan dibawah. Ketika pesawatnya turun, ekornya melenting ke atas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/turbulensi_20160507_202147.jpg)