Sekarang Lagi Ramai di Media Sosial, Tradisi Warga Mencabik-cabik Mayat
Puluhan warga Banjar Buruan, Desa Pekraman Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring Gianyar, Bali langsung siaga.
Sekitar 15 menit berlalu, rapinya bungkusan mayat berubah wujud menjadi compang-camping.
Serpihan tikar bertebaran di jalan sekitar 200 meter dari jarak rumah menuju pertigaan dimana bade dan lembu menunggu.
Saat itu, hentakan baleganjur pun berhenti.
Baru kemudian mayat dinaikkan ke atas bade.
Mereka yang awalnya mesbes bangke beralih menuju sanan bade lalu mengangkatnya menuju Setra Desa Pekraman Tampaksiring.
"Bau sih bau, namanya juga bangke matah, baru enam hari. Tapi semangat dan rasa kebersamaan kami yang membuat bau itu tidak berarti," ujar I Made Putra.
Putra yang bersimbah keringat setelah mengikuti tradisi mesbes bangke mengutarakan rasa herannya.
Pria 30 tahun ini mengaku tidak tahu penyebab warga tidak jijik saat mencabik-cabik mayat.
Pasalnya, tradisi mesbes bangke tidak hanya dengan tangan saja.
Melainkan ada yang menggunakan gigi.
"Kalau baleganjur sudah menghentak, jeg semangat kami berkobar. Saya tidak tahu, saya tidak jijik, yang lain juga tidak jijik. Sepertinya sudah mendarah daging," jelasnya tersenyum keheranan.
Sementara, I Komang Suteja (26) mengatakan, tradisi mesbes bangke bukan sebagai ajang balas dendam.
Dengan gamblang ia menjelaskan, ini hanya tradisi yang sudah berjalan dari turun-temurun.
Tak sekalipun tradisi mesbes dijadikan ajang pembalasan apabila warga yang meninggal memiliki masalah dengan warga lainnya.
"Masalah personal atau kesepekan banjar, tidak ada. Tradisi ini tidak ingin kami nodai dengan hal-hal seperti itu. Keluarga almarhum bahkan ikut mesbes. Ini hanya tradisi leluhur yang terus kami jalankan," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/cabik-mayat_20160619_104829.jpg)