Jumat, 15 Mei 2026

Anggota DPD RI Bahar Buasan Ternyata Pernah Jual Sayur dan Kue Keliling

Sukses tidak bisa diraih tanpa upaya keras dan jalan yang berliku.

Tayang:
Penulis: Iwan Satriawan | Editor: Iwan Satriawan
Istimewa
Bahar Buasan dan istri 

BANGKAPOS.COM.BANGKA--Sukses tidak bisa diraih tanpa upaya keras dan jalan yang berliku. Namun dengan semangat dan keyakinan, serta kegigihan, semua orang bisa meraih kesuksesan.

Hal ini digambarkan anggota DPD RI‎ asal Babel Bahar Buasan dalam perjalanan hidupnya.

Pria yang selama dua periode duduk sebagai anggota DPD RI ini sebelum duduk di Senayan Jakarta ternyata benar-benar harus merangkak dari bawah.

"Saya memiliki pengalaman yang beragam mulai dari bertani menanam sayur, menjual sayur dan kue keliling, kenek tukang batu, karir profesional, menjalani bisnis, hingga akhirnya jadi politisi," ungkap Bahar Buasan dalam kisah pengalaman hidupnya yang dibagikan kepada Bangkapos.com, baru-baru ini.

Dalam hidupnya, Bahar mengakui ia banyak belajar dari filsafat hidup sang nenek yang memberikan semangat luar biasa bagi dirinya.

"Beliau mengatakan “Kita boleh miskin, tetapi kita harus sekolah. Jangan takut kepada orang yang tidak bisa, takutlah kepada orang yang tidak mau. Jangan takut beli barang mahal, orang beli banyak kita beli sedikit, selera tetap sama. Maju terus pantang mundur !” Berbekal kemauan keras, pintu menuju sukses diyakini akan selalu terbuka," ‎jelasnya.

Berbekal filsafat hidup dari sang nenek tersebut, Bahar memiliki empat prinsip yang selalu pegang dalam hidup.

Dapat dikatakan bahwa keempat hal inilah yang membawa dirinya bertransformasi dari anak-anak yang berjualan kue dan sayur keliling, menjadi pekerja di beberapa perusahaan, mencoba peruntungan menjadi pebisnis dan menjadi politisi yaitu kegigihan, pendidikan harus jadi nomor satu,memberi apa yang dimiliki dan disayangi.

"Prinsip keempat, tak ku biarkan nasiku berceceran. Petani menanam padi, padi ditumbuk menjadi beras, Beras dicuci dan ditanak hingga menjadi nasi, Nasi ditaruh diatas piring ,Seringkali dibuang sebagian," imbuhnya. ‎

Padahal menurutnya, mungkin dari beberapa butir tersebut menyimpan energi yang dapat kita gunakan sebagai energi dan tenaga cadangan untuk kegiatan ini dan masih banyak orang yang masih menderita kelaparan, sehingga bagi saya sangat sayang untuk melihat nasi dibuang.

"Dari filosofi nasi tersebut saya tangkap menjadi peluang tidak boleh disia-siakan. Peluang apapun di depan matamu, ambilah. karena bisa jadi peluang itu yang akan membawamu ke satu tempat," beber Bahar.(wan)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved