Sabtu, 16 Mei 2026

Perjuangan Anak Penyintas Thalasemia

Pasrah kepada Allah, Penderita Thalassemia di Babel Bergantung Transfusi

Anak-anak penyintas thalasemia di Bangka Belitung hidup bergantung pada transfusi darah rutin. Ketersediaan stok darah pun menjadi ...

Tayang:
Bangka Pos
Bangka Pos Hari Ini, Jumat (15/05/2026). 

BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Berat badannya hanya 27 kilogram (Kg). Angka ini tergolong kecil untuk anak usia 13 tahun. Bocah laki-laki itu terus bertahan meski sesekali mempertanyakan penderitaannya. 

“Kadang kalau aku marah atau sedih, aku tanya ke mak kenapa aku dilahirkan sakit. Apa mak kesal punya anak seperti aku,” ucap Riski (13), penderita Thalassemia di Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (11/5).

Pertanyaan Riski hanya bisa dijawab dengan pelukan erat ibunya, Hanafiah (50) yang sembari berujar, “Tidak, Mak tidak pernah kesal. Jangan bicara begitu,”

Riski merupakan satu dari puluhan anak penderita Thalassemia di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sekadar diketahui, 8 Mei 2026 lalu merupakan hari peringatan Thalassemia Internasional.

Sejak bayi, Riski sudah akrab dengan selang infus, jarum suntik, dan kantong darah. Hingga kini, Riski wajib singgah ke rumah sakit minimal satu kali dalam sebulan. Dia harus menjalani transfusi darah agar tetap bisa beraktivitas seperti anak-anak lainnya.

Riski dinyatakan menderita Thalassemia sejak umur tujuh bulan. Hanafiah tak kuasa membendung air mata ketika mendengar penjelasan dokter.

“Ibu jatuh air mata waktu tahu lagi-lagi anak kena penyakit ini,” ujar Hanafiah yang kehilangan seorang anak pada usia sembilan tahun akibat penyakit yang sama.

Trauma Hanafiah kini hidup kembali setiap kali Riski memasuki ruang transfusi.

Bagi anak-anak penyintas Thalasemia, darah bukan sekadar cairan merah yang mengalir di tubuh tapi menjadi denyut harapan. Saat kadar Hemoglobin (HB) turun, tubuh mereka perlahan kehilangan tenaga. Wajah memucat, langkah melemah, dan kepala terasa berputar seperti bumi yang kehilangan porosnya.

“Kalau sudah dekat waktu transfusi, aku mulai pusing. Kadang jadi tidak sekolah,” kata Riski sambil tersenyum kecil.

Meski begitu, Riski tetap mencoba menjalani hidup seperti anak-anak lain. Ia gemar memancing, bermain, dan pergi ke masjid. Penyakit itu memang tinggal di tubuhnya, tetapi Riski tak ingin membiarkannya mengurung masa kecilnya.

Setiap bulan, Hanafiah dan Riski harus menempuh perjalanan dari Dendang menuju Manggar menggunakan bus Damri. Ongkos pulang-pergi menjadi rutinitas yang tak bisa dihindari.

Di RSUD Muhammad Zein Manggar, Riski sudah akrab dengan lorong rumah sakit dan aroma obat-obatan. Jarum suntik tak lagi membuatnya menangis.

Dari rasa sakit yang terus berulang, tumbuh cita-cita sederhana di kepala Riski. 

”Ingin jadi perawat. Biar bisa gantian nyuntik orang,” candanya sambil tertawa kecil.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved