Lipsus Harian Bangka Pos

Isu Pelepasan Stok Lada Vietnam Hingga Menguatnya Rupiah Diduga Penyebab Anjloknya Harga Lada

Badan Pengelolaan, Pengembangan, dan Pemasaran Lada (BP3L) Babel punya pendapat lain soal penurunan harga lada

Isu Pelepasan Stok Lada Vietnam Hingga Menguatnya Rupiah Diduga Penyebab Anjloknya Harga Lada
Bangka Pos/ Nordin
Pemilik kebun sahang atau lada di Desa Kemuja Kabupaten Bangka memanen hasil tanamnya. Pada bulan-bulan tertentu seperti Juli sampai Agustus warga mulai menikmati hasilnya, Selasa (28/7/2015) 

BANGKAPOS.COM-- Badan Pengelolaan, Pengembangan, dan Pemasaran Lada (BP3L) Babel punya pendapat lain soal penurunan harga lada.

Isu pelepasan stok lada oleh Vietnam disebut menjadi penyebab penurunan harga. Selain itu penurunan harga lada juga diakibatkan faktor menguatnya rupiah dan anjloknya harga komoditas pertanian lainnya seperti karet, sawit.

Kepala BP3L Babel, Zainal Arifin memastikan harga Lada Babel masih tetap tinggi. Meski begitu, saat ini pasokan lada ke eksportir berkurang sehingga ekspor lada menurun.

"Disisi lain permintaan lada dunia tetap walau produksi turun. Ekspor lada Babel sampai Juni 2016 hanya mencapai 3000 ton, sedangkan permintaan di atas 4000 karena barangnya tidak ada.

Produksi lada Babel sendiri menurun akibat panas panjang pada tahun 2015 lalu. Tanaman banyak mati, hasil panen tidak maksimal," kata Zainal, Selasa (2/8).

Zainal menambahkan, pihaknya memprediksi harga lada tetap akan bertahan di atas Rp 100 ribu dengan catatan rupiah tidak sampai di bawah Rp 10.000.

"Petani kita juga sudah pintar, walaupun sedang panen tidak menjual ladanya seluruhnya, paling untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi Lada bisa tahan disimpan puluhan tahun dengan catatan tempat penyimpanan kering tidak lembab," ujarnya.

Kepala Dinas Peternakan, Pertanian, dan Perkebunan (Distambunak) Babel, Toni Batubara menyarankan petani lada membentuk koperasi petani untuk menghindari tingginya selisih harga dari pembeli ke petani.

Koperasi dinilai bisa mewadahi petani yang dapat menjual langsung hasil lada tersebut ke eksportir dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan menjual pada pengepul.

"Biasanya pembeli lada ini kan banyak tangan bisa 1 sampai 2 tingkat, dari pengepul ini baru ke pemilik izin ke ekspor dan mereka juga mau dapat untung. Mereka beli dikampung harga lebih murah kalau mau bagus bentuk koperasi yang anggotanya petani lada. Nanti koperasi beli dari anggota petani lada kan ada selisih harga kan nanti keuntungannya dikembalikan ke petani. Koperasilah yang yang menjual keeksportir jangan jual ke yang keliling. Kalau ada koperasi ini kan koperasi yang bergerak sejauh ini ada koperasi lada tapi tidak berjalan," kata Toni belum lama ini.

Dia optimis kejayaan lada di Babel akan segera terwujud dengan meningkatkanya luas tanam di Babel dari tahun ke tahun. Selain itu ia berharap harga lada di Babel jangan sampai berada di bawah Rp 100.000 pasalnya harga tersebut akan mengurangi minat petani untuk berkebun lada.

"Estimasi harga terendah jangan sampai dibawah 100. Masih tertutup dengan biaya produksi tapi tidak signifikan keuntungannya nanti orang tidak tertarik lagi nanam lada," tandasnya. (o2/wan)

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved