Terungkap, Ternyata Inilah yang Sebenarnya Terjadi pada Otak Manusia Saat Tidur
Studi ini menunjukkan pada kita bahwa tidur adalah aktivitas otak yang sangat aktif dan bukan buang-buang waktu. Tidur dibutuhkan untuk mendukung..."
MANUSIA ternyata menghabiskan sepertiga waktu hidupnya (8 jam per hari) untuk tidur? Apakah kita makhluk malas?
BACA: PNS Pria Ini Meninggal Saat Sedang Dipijat di Tempat Spa
Christoph Nissen, psikiatri dari Universitas Freiburg di Jerman mengungkap bahwa tidur bukan sekadar istirahat dan bukan membuang waktu.
BACA: Netter Geram dan Ramai-ramai Caci Maki Amien Rais, Ternyata Inilah Pemicunya
Menurut risetnya yang dipublikasikan di Nature Communication pada Selasa (23/8/2016), tidur memberi kesempatan pada otak untuk menata dan mengendapkan memori serta mencegah kejenuhan sinyal.
BACA: Beginilah Akhir Perjalanan 'Kolor Ijo' Si Pemerkosa dan Penganiaya Lebih dari 30 Wanita
"Studi ini menunjukkan pada kita bahwa tidur adalah aktivitas otak yang sangat aktif dan bukan buang-buang waktu. Tidur dibutuhkan untuk mendukung fungsi otak yang baik," jelas Nissen.
Hasil penelitian Nissen megonfirmasi hipotesis homeostatis sinapsis yang dikemukakan oleh profesor kedokteran dan tidur dari University of Wisconsin-Madison, Giulio Tononi, pada tahun 2003.
BACA: Oktober, Antasari Azhar Bebas Bersyarat
Menurut hipotesis tersebut, saat terbangun, jaringan saraf otak manusia penuh dengan informasi yang harus diproses.
Proses tersebut membuat otak jenuh sinyal. Tidur membantu otak manusia mengendapkan informasi dan menata diri sehingga siap digunakan lagi keesokan harinya.
Tidur seperti me-reset otak. Semalam saja manusia bergadang dan kurang tidur, otak akan jenuh sinyal dan kurang siap menerima dan mengirim informasi baru.
Hasilnya, bergadang akan membuat manusia kurang konsentrasi, sulit memberikan reaksi dengan cepat, serta sulit menyimpan memori baru.
Diberitakan The Guardian, Selasa (23/8/2016), Nissen memperoleh kesimpulannya tentang manfaat tidur bagi otak dengan meneliti respon 11 laki-laki dan 11 perempuan berusia 19-25 tahun setelah tidur cukup maupun bergadang.
Nissen mengungkap bahwa setelah bergadang, obyek riset punya sinyal saraf lebih rendah untuk menggerakkan otot serta respon neuron yang juga lebih rendah, tanda kesulitan menyimpan memori.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/otak_20160515_210124.jpg)