Rektor UBB Ajak Semua Pihak Kembalikan Kejayaan Lada
melalui produktivitas lada yang berkualitas dapat memperbaiki terpuruknya ekonomi riil saat ini.
BANGKAPOS.COM, BANGKA, -- Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf MSi menegaskan usaha mewujudkan kembali masa kejayaan lada mendapat momentum yang tepat dengan Bangka Belitung (Babel) kini memasuki era pasca timah.
Diharapkan, melalui produktivitas lada yang berkualitas dapat memperbaiki terpuruknya ekonomi riil saat ini.
“Semua pihak, termasuk para akademisi di perguruan tinggi, terpanggil untuk turun dan mengembalikan masa kejayaan lada yang pernah dinikmati warga di daerah ini,” tukas Muh Yusuf ketika membuka ‘workshop’ yang bertajuk ‘Peningkatan
Produktivitas dan Kualitas Hasil Lada Muntok White Pepper melalui Pengendalian Penyakit Ramah Lingkungan dan Teknologi Pascapanen Unggulan’ di ruang seminar rektorat UBB, Kamis (08/09/2016).
Workshop diinisiasi Program Studi Agrotek Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi (FP2B) UBB ini mendapat tanggapan positif dari praktisi, petani lada, pengurus asosiasi lada, peneliti dan dinas terkait.
Selain disesaki para mahasiswa/i FP2B dari semua prodi, hadir antara lain Wakil Rektor I Dr Ir Ismed Inonu MSi, Dekan FP2B Kartika SP MSi, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Babel Ir Kemas Arpani, dekan/wakil dekan dan kepala UPT di lingkungan UBB.
Worskhop berlangsung satu hari ini menampilkan pakar dan peneliti lada Indonesia, seperti Dr Ir Bonny PW Soekarno MS (Dosen Prodi Proteksi Tanaman Pertanian, IPB), Dr Ir Rubiyo MSi (Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bangka Belitung) dan Riwan Kusmiadi STP MSi (Dosen Prodi Agrotek UBB).
Menurut Muh Yusuf, lada Bangka sudah sejak lama dikenal dan terkenal di kalangan industri rempah-rempah dunia. Tanaman menjulur ini memiliki banyak faedah, selain untuk bahan konsumsi, lada pun sejak dahulu kala bagian dari bahan kosmetik dan obat-obatan.
“Lada Bangka punya nama lain, yaitu Muntok White Pepper sekaligus menjadi ‘brand’ dan pembeda dengan lada yang ditanam di daerah lain. Muntok White Pepper disukai karena aroma dan kepedasannya yang khas. Karena itulah sejak dulukala pedagang dan importir memburunya,” ulas pakar kelautan dan perikanan ini.
Hanya saja, lanjut Muh Yusuf, perkebunan lada di Bangka bekelangan ini mendapat tantangan berat dengan munculnya penyakit kuning, yang kini masih terus dicari ‘penangkalnya’ oleh banyak peneliti dan lembaga penelitian lada baik yang ada di Pulau Bangka sendiri maupun di luar Bangka.
“Worskhop kali ini contohnya, pun dalam kerangka mencari penangkal dari ancaman penyakit kuning itu. Sebab itu pihak panitia dari Prodi Agrotek FP2B UBB mendatangkan pakar dan peneliti lada untuk bersama-sama membahasnya,” ujar Muh Yusuf.
Lada Bangka lanjut Muh Yusuf bukan saja telah lama menjadi ikon Pulau Bangka, tapi menjadi tanaman penting di daerah ini. Buktinya, lada telah memberikan ‘daya hidup’ bagi ekonomi riil warga masyarakat setempat.
“Maka, lewat menjayakan kembali tanaman lada seperti sediakala, itu sekaligus merupakan langkah strategis dalam menghidupkan ekonomi di kawasan ini. Besarnya peredaran uang dari bisnis lada pada masa lalu telah mebuktikan itu semua,” ulasnya.
UBB kata Muh Yusuf telah membuka kebun percobaan seluas satu hektar di Kampus Terpadu UBB, Balunijuk, Merawang. Di sini ditanam lada unggul sebanyak seribu batang, yang nantinya menjadi bahan penelitian para peneliti UBB.
“Perlu dicari ‘treatment’ (perlakuan) untuk memutus rantai penyebab penyakit kuning. Kalau sudah ditemukan, ‘treatment’ itu kita harapkan dalam bentuk sederhana sehingga bisa digunakan oleh petani kita dengan mudah,” ujar Muh Yusuf.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/yusuf-ubb-beri-cinderamata_20160908_144626.jpg)