Senin, 13 April 2026

Kisah Bocah Yatim Penjual Pempek

Hasil Rekam Medik, Bayu Pranata Ternyata Kurang Gizi, Malaria dan Anemia

Berdasarkan hasil rekam medik terbarunya yang dilakukan di Rumah Sakit Arsani pada Kamis (8/9) menderita kekurangan gizi, malaria, dan anemia

Editor: Iwan Satriawan
ist
Bayu Pranata 

BANGKAPOS.COM--Alhamdullillah,  bocah kecil yang menginspirasi karena kegigihan dan perjuangannya bertahan hidup, Bayu Pranata yang sebelumnya dikabarkan menderita leukemia, berdasarkan hasil rekam medik terbarunya yang dilakukan di Rumah Sakit Arsani pada Kamis (8/9) hanya menderita kekurangan gizi, malaria, dan anemia.

"Kita tadi pagi kerumah sakit sekitar pukul 10.30 dan melakukan pemeriksaan kesehatan Bayu bersama wali kelas dan ibu kandungnya, hasilnya negatif leukimia namun Bayu menderita kurang gizi, malaria, dan anemia," tutur Walikelas Bayu, Septianti saat mendatangi kantor Bangka Pos, Kamis (8/9/2016) sore.

Ia menceritakan besarnya partisipasi dan kepedulian masyarakat Babel terhadap anak yang menginspirasi ini sangat besar hal ini terbukti dengan banyaknya donasi dari berbagai kalangan untuk membantu anak 12 tahun ini.

"Kita kemarin sudah buka rekening Bank Sumsel atas Bayu untuk donasi dan hingga pukul 09.00 pagi sudah terkumpul 13 juta dan donasi dari turun ke jalan dalam satu jam berhasil mengumpulkan 4.308.000, total keseluruhannya 17.317.500, untuk saat ini sudah cukup, " kata Fiar Hanto satu relawan sahabat Bayu.

Bayu Pranata (12) sendiri adalah warga Gandaria I, Kelurahan Kacangpedang RT 07, Kota Pangkalpinang.

Bocah yatim sejak usia 4 tahun itu, sangat sederhana. Boleh disebut, hidupnya penuh kekurangan. Namun, kegigihan dan semangatnya menjalani hidup tak bisa dipandang biasa-biasa saja.

Bayu dan keluarganya adalah warga asli Kota Pangkalpinang yang baru-baru ini mengundang perhatian netizen. Kisah Bayu dengan penyakit leukimianya namun pantang menyerah, menarik simpati banyak orang.

Bayu merupakan potret kekinian masyarakat yang mulai langka. Tak banyak yang mampu menjalani hidup sekuat Bayu. Tidak berlebihan rasanya, Bayu menjadi inspirasi masyarakat Babel, bisa jadi juga dunia.

Divonis menderita penyakit leukimia sejak usia tiga tahun, tak membuat siswa kelas satu SMP Islam Terpadu (IT) NU Pangkalpinang itu terpuruk dan putus asa.

Justru, cara Bayu memaknai hidup sangat menginspirasi. Bagi dia, tak ada kata menyerah selama nyawa masih dikandung badan.

"Saya tidak mau diberi cuma-cuma, bukan hak saya. Kalau mau membantu, beli saja pempek punya mamak," ungkap Bayu saat ditemui di rumah kontrakan yang ditempati bersama ibunya, Venti Dahlia (45) dan adik serta kakak perempuannya.

Di kontrakan sederhana dengan satu kamar dan dapur seadanya itu, Bayu sekeluarga hidup bahagia. Tak pernah sekalipun dia mengeluh, apalagi protes kepada Tuhan lantaran dilahirkan dalam himpitan ekonomi.

Di ruang tamu, tanpa kursi dan barang berharga lainnya, Bayu kerap melantunkan shalawat Nabi Muhammad menjelang tidur untuk adik bungsunya, Nazila (7).

Tampak kondisi dapur disesaki sejumlah barang, termasuk perabotan ibunya membuat pempek. Sudah sepuluh tahun mereka hidup berhimpitan di rumah dengan biaya sewa Rp 500 ribu per bulan itu.

Sebuah poster bergambar Syeh Abdul Qadir Jailani menjadi penghias tempat Bayu biasa meletakkan tas dan baju di ruang tamu.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved